Kemampuan Mengaji Siswa Meningkat dengan VoiceNote WhatsApp

Oleh : Widyaningrum Sutadyananta, S.Ag, M.PdI.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Tidak terasa pandemi Covid – 19 sudah 2 tahun melanda Indonesia. Banyak para tokoh penting yang gugur akibat virus ini. Tidak hanya di dunia kesehatan saja, akan tetapi pandemi ini juga berdampak kepada dunia pendidikan. Proses pembelajaran secara tatap muka sudah menjadi tradisi yang digunakan oleh para pendidik. Pendidik dituntut supaya bisa membuat dan mendesain model pembelajaran dengan memanfaatkan media online. Hal ini sesuai dengan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia terkait Surat Edaran Nomor 4 Tahun 2020 tentang Pelaksanaan Kebijakan Pendidikan dalam Masa Darurat Penyebaran Covid – 19.

Masalah kesulitan pun muncul satu persatu, salah satunya yaitu sulitnya untuk mengoperasikan gadget secara cepat dan tepat. Masalah ini muncul dikarenakan siswa harus belajar dari rumah secara mandiri dan tidak bertemu dengan gurunya. Sebagian besar permasalahan akhirnya tertumpu pada media pembelajaran, karena media pembelajaran selaras dengan fungsinya, seperti yang disampaikan oleh Briggs (1977) dalam Rudi dan Cepi (2008 : 6) mengatakan bahwa media pembelajaran adalah sarana fisik untuk menyampaikan isi atau materi pembelajaran, seperti buku, film, video, slide, dan sebagainya.

Baca juga:   Tingkatkan Minat Baca Puisi, Guru sebagai Model

Proses pembelajaran secara daring (online) serta jarak jauh menjadi problem bagi guru, termasuk guru Pendidikan Agama Islam (PAI) dan Budi Pekerti (BP) di SMP Negeri 15 Surakarta. Hal ini dikarenakan materi PAI bukan hanya tentang sekadar penanaman konsep atau pengetahuan, akan tetapi materi PAI juga terkait dengan penanaman budi pekerti yang diarahkan untuk pembentukan karakter yang mulia, seperti pada materi akhlak.

Selama ini, penyampaian materi akhlak hanya dengan memberikan latihan soal dalam pembelajaran daring membuat siswa – siswi merasa bosan dan mengeluh. Mereka beralasan bapak ibu guru hanya memberikan pelajaran untuk menghafal konsep atau pengetahuan. Hal ini diketahui dari hasil kerja peserta didik yang bersifat kualitatif dimana terdapat peserta didik yang serius dan kurang serius dalam mengerjakannya serta kurangnya variasi penggunaan media pembelajaran. Akibatnya, proses pembelajaran berjalan dengan kurang efektif.

Pada minggu awal di tengah pandemi, mata pelajaran Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti di SMP Negeri 15 Surakarta model pembelajarannya berbasis Google Classroom, dengan harapan siswa mempunyai rasa tanggung jawab yang tinggi terhadap tugas – tugas yang sudah diberikan oleh gurunya. Siswa juga belum dapat menggunakan aplikasi Google Meet dikarenakan adanya faktor keterbatasan siswa seperti tidak bisa membeli kuota internet serta sinyal atau jaringan yang kurang mendukung.

Baca juga:   Belajar Adjective dengan Emoji pada Aplikasi Whatsapp

Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) secara daring merupakan hal baru bagi pendidik dan peserta didik di SMP Negeri 15 Surakarta. Beberapa ketentuan PJJ dari rumah yang perlu diperhatikan oleh seorang pendidik Pendidikan Agama Islam dan Budi Pekerti antara lain : 1) PJJ difokuskan pada pendidikan kecakapan hidup. 2) PJJ dapat memberikan pengalaman belajar yang berguna. 3) Aktivitas dan tugas pembelajaran harus bervariasi sehingga siswa tidak merasa bosan dengan materi yang diberikan oleh bapak ibu guru. 4) Hasil kerja atau tugas siswa diberi umpan balik (feedback) yang bersifat kualitatif dan berguna untuk membangun serta memotivasi siswa agar lebih semangat lagi dalam meningkatkan kemampuan belajarnya. Tujuan dari feedback ini untuk mengapresiasi atau menghargai hasil pekerjaan siswa. (pr1/ton)

Guru SMP Negeri 15 Surakarta

Author

Populer

Lainnya