Belajar Negara ASEAN Mengasyikkan dengan Metode Talking Stick

Mulyani S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PROSES belajar dan mengajar IPS di SD Negeri Tegalrejo 03 Salatiga dianggap kurang menarik. Banyak peserta didik yang kurang antusias dalam mengikuti pembelajaran. Kondisi itu diperparah dengan belum beraninya peserta didik mengemukakan pendapat. Keaktifan di kelas hanya dimonopoli peserta didik tertentu. Sebagaian besar nilai peserta didik belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM).

Untuk mempercepat pemahaman, meningkatkan antusiasme dan keaktifan peserta didik dalam pembelajaran, diperlukan metode dan media pembelajaran yang sesuai dengan tingkat kematangan peserta didik.

Salah satu model pembelajaran yang diharapkan mampu meningkatkan antusiasme dan keaktifan belajar peserta didik adalah metode Talking Stick. Menurut Suprijono 2010:109, pembelajaran dengan metode pembelajaran kooperatif tipe Talking Stick mendorong peserta didik untuk berani mengemukakan pendapat.

Arti dari Talking Stick adalah tongkat berbicara. Metode pembelajaran ini adalah suatu metode pembelajaran dengan bantuan tongkat. Siapa yang memegang tongkat wajib menjawab pertanyaan dari guru setelah mempelajari materi pokoknya. Dalam metode ini peserta didik diarahkan untuk dapat bekerja, mengembangkan diri dan bertanggung jawab.

Dengan penerapan model pembelajaran ini, diharapkan peserta didik akan lebih aktif, lebih antusias dalam mengikuti kegiatan pembelajaran dan berani mengemukakan pendapat. Dengan demikian nilai siswa dapat meningkat dan tujuan dari kegiatan pembelajaran dapat tercapai.

Baca juga:   Pembelajaran Kolaboratif Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa di Masa Pandemi

Langkah pembelajaran model Talking Stick adalah, pertama, guru menyiapkan tongkat yang panjangnya kurang lebih 20 sentimeter. Kedua, guru menyampaikan materi pokok yang akan dipelajari dan memberikan kesempatan peserta didik untuk membaca dan mempelajari materi secara mendiri.

Melalui langkah tersebut, peserta didik didorong memahami materi dan dapat berpikir kreatif serta aktif dalam pembelajaran. Hal ini menjadi bekal peserta didik dalam menjawab pertanyaan ketika mendapat giliran tongkat. Ketiga, setelah selesai mempelajari materi, guru mempersilahkan siswa untuk menutup buku. Keempat, guru memberikan tongkat kepada salah satu peserta didik. Kelima, ketika tongkat bergulir dari satu peserta didik ke yang lain bisa diiringi lagu atau musik agar suasana lebih menyenangkan.

Keenam, peserta didik yang memegang tongkat ketika musik dimatikan maka wajib menjawab pertanyaan yang diajukan oleh guru. Ketujuh, peserta didik melakukan refleksi terhadap materi yang dipelajari dengan bimbingan guru. Langkah terakhir guru memberi ulasan atas jawaban atas jawaban peserta didik dan bersama-sama merumuskan kesimpulan.

Kelebihan dari metode pembelajaran ini adalah keaktifan peserta didik dalam pembelajaran merata dan tidak hanya dimonopoli oleh anak-anak tertentu saja. Metode ini bisa membuat kondisi ruang kelas lebih ceria dan bersemangat. Metode ini dapat mengatasi kejenuhan peserta didik ketika belajar. Selain itu, dapat menguji kesiapan peserta didik pada saat belajar dan melatih kosentrasi.

Baca juga:   Belajar Berbahasa Inggris Menyenangkan dengan Learning From Videos

Adapun kekurangan dari metode pembelajaran ini bagi peserta didik yang pemalu, metode ini kurang sesuai. Peserta didik yang pandai lebih mudah menerima materi. Peserta didik cenderung individualis dan ketenangan kelas berkurang.

Dengan penerapan model pembelajaran ini, diharapkan peserta didik akan lebih aktif, lebih antusias dan berani mengungkapkan pendapat ketika mengikuti pembelajaran. Dengan demikian nilai peserta didik dapat meningkat sehingga mampu mencapai KKM dan tujuan dari kegiatan pembelajaran dapat tercapai. (ra2/ida)

Guru Kelas VI SDN Tegalrejo 03, Argomulyo, Kota Salatiga

Author

Populer

Lainnya