Trik Jitu Menghadapi Asesmen Kompetensi Minimum bagi SD

Oleh : Eny Kuswati S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, ASESMEN Kompetensi Minimum (AKM) merupakan penilaian kompetensi mendasar yang diperlukan oleh semua siswa untuk mampu mengembangkan kapasitas diri dan berpartisipasi positif pada masyarakat.

Terdapat dua kompetensi mendasar yang diukur literasi membaca dan literasi matematika (numerasi). Baik pada literasi membaca dan numerasi, kompetensi yang dinilai mencakup keterampilan berpikir logis-sistematis, keterampilan bernalar menggunakan konsep serta pengetahuan yang telah dipelajari, serta keterampilan memilah serta mengolah informasi.

AKM menyajikan masalah-masalah dengan beragam konteks yang diharapkan mampu diselesaikan oleh siswa menggunakan kompetensi literasi membaca dan numerasi yang dimilikinya.

Literasi membaca sebagai kemampuan untuk memahami, menggunakan, mengevaluasi, merefleksikan berbagai jenis teks tertulis untuk mengembangkan kapasitas individu sebagai warga Indonesia dan warga dunia dan untuk dapat berkontribusi secara produktif kepada masyarakat.

Numerasi adalah kemampuan berpikir menggunakan konsep, prosedur, fakta, dan alat matematika untuk menyelesaikan masalah sehari-hari pada berbagai jenis konteks yang relevan untuk individu sebagai warga negara Indonesia.

Seluruh sekolah, khususnya di SD Negeri Selokarto 3, Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang, wajib mengikuti Asesmen Nasional. Termasuk madrasah dan satuan pendidikan kesetaraan lainnya. Namun, Kemendikbud akan memilih sampel murid secara acak dari kelas 5 SD sebagai target penilaian AKM dan Survei Karakter.

Baca juga:   Implementasi Discovery Learning dalam Pembelajaran Descriptive Text

Berbeda dengan UN, hasil uji Asesmen Nasional tidak menjadi acuan kelulusan siswa. Asesmen Nasional hanya dipakai sebagai sumber informasi untuk memetakan dan mengevaluasi mutu sistem pendidikan. Kualitas belajar-mengajar juga akan tercermin dari hasil uji AKM.

Siswa kelas 5 SD akan mengerjakan 30 soal untuk masing-masing literasi membaca dan numerasi. Bentuk soal AKM terdiri dari pilihan ganda, pilihan ganda kompleks, menjodohkan, isian singkat, dan uraian. 1) Pilihan ganda, murid hanya dapat memilih satu jawaban benar dalam satu soal. 2) Pilihan ganda kompleks, murid dapat memilih lebih dari satu jawaban benar dalam satu soal.

3) Menjodohkan, murid menjawab dengan cara menarik garis dari satu titik ke titik lainnya yang merupakan pasangan pertanyaan dengan jawabannya. 4) Isian singkat, murid dapat menjawab berupa bilangan maupun kata untuk menyebutkan nama benda, tempat, atau jawaban pasti lainnya. Dan 5) uraian, murid menjawab soal dengan beberapa kalimat untuk menjelaskan jawabannya.

Untuk menghadapi AKM ada tiga objek perhatian, yaitu siswa, guru, dan kepala sekolah. Untuk siswa, fokus pada AKM yang meliputi kemampuan literasi, kemampuan numerasi, serta survei karakter. Untuk guru dan kepala sekolah meliputi survei kinerja. Keberhasilan AKM untuk siswa bisa dilakukan dengan pertama, sekolah melakukan pemetaan mutu guru karena kompetensi guru sangat mempengaruhi proses pembelajaran.

Baca juga:   Mind Mapping Karakteristik Aktifitas Negara di Wilayah ASEAN

Kedua, sekolah memfasilitasi agar guru mengembangkan proses pembelajaran berorientasi keterampilan berpikir tingkat seperti terjadinya transfer knowledge, problem solving, dan pembelajaran abad 21 seperti mengembangkan keterampilan berpikir kritis, berpikir kreatif. Ketiga, sekolah memfasilitasi agar guru mampu menggunakan IT.

Keempat, guru hendaknya melakukan transformasi proses belajar yang mampu mengoptimalkan gaya belajar dan delapan kecerdasan siswa. Kelima, sekolah menfasilitasi pengembangan budaya literasi secara menyeluruh dalam artian tidak hanya mendorong terkait membaca dan menulis melainkan mengembangkan literasi. (rs2/ida)

Guru SDN Selokarto 03 Pecalungan

Author

Populer

Lainnya