Welas Asih Efektif dalam Mendidik ABK di Kelas Rendah

Oleh : Lince Astuti S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SETIAP anak yang terlahir dalam kondisi apapun adalah bintang. Setiap anak terlahir membawa bakat dan minat yang tidak sama. Anak yang dididik sejalan dengan bakat dan minatnya akan lebih efektif hasilnya dan menjadi “Bintang.” Maka orang tua, juga sekolah mestinya memfasilitasi pendidikan sesuai kebutuhan penting anak tersebut (Derap Guru Edisi 228 tahun XVIII Januari 2019).

Anak-anak yang memiliki keterbatasan fisik, psikis, ataupun akademik sering disebut anak berkebutuhan khusus (ABK). Menurut Peraturan Menteri Peraturan Negara Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak RI nomor 10 tahun 2011 tentang kebijakan penanganan anak berkebutuhan khusus adalah anak yang mengalami keterbatasan/keluarbiasaan baik fisik, mental, intelektual sosial, maupun emosional, yang berpengaruh secara signifikan dalam proses pertumbuhan dan perkembangan dibandingkan dengan anak–anak lain seusianya.

Sebagai guru yang hidup di desa, tentu harus bisa menerima kondisi anak dengan berbagai tipe, termasuk ABK. Di perkotaan, banyak Sekolah Luar Biasa (SLB) yang bisa menerima ABK dengan tingkat umur yang dimilikinya. Dari segi pengetahuan masyarakat yang minim, finansial yang pas-pasan tentu tidak mampu untuk memenuhi biaya pendidikan untuk anaknya yang berbeda dengan yang lain.

Baca juga:   Pendekatan Interaktif Tingkatkan Motivasi Belajar Siswa

Karena itulah, guru di desa juga harus memiliki pemahaman yang baik terhadap ABK, agar dapat terlayani dengan baik. Bahkan, guru juga harus bisa berdamai dengan keadaan yang menuntutnya untuk serba bisa menerima setiap kekurangan anak didiknya dalam segala hal. Terutama dalam proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) dan harus bisa memberikan rasa welas asih yang lebih dari yang lain.

Di kelas rendah, kelas 1 khususnya, titik awal pengenalan calistung sangatlah tidak mudah dalam prosesnya. Harus mengulang berkali-kali agar paham dan mengerti untuk bisa mengetahui dan mengingat huruf menjadi suku kata. Suku kata menjadi kata. Kata menjadi kalimat yang panjang. Terkadang emosi tidak terkontol muncul secara spontan karena rasa putus asa. Ketika perasaan yang seperti itu hadir dalam diri seorang guru, cepat–cepatlah beristighfar kepada Allah dan memohon semoga anak yang kita didik diberikan kemudahan dalam menerima ilmu yang kita tularkan kepadanya.

Sikap yang ditunjukkan setiap harinya juga sangat berbeda dengan yang lain. Anak yang seperti ini, cenderung tidak bisa diam, sering membuat ulah di kelas sehingga menimbulkan sedikit kekacuan di kelas. Terkadang tidak mau duduk di tempatnya, berlari-lari maju ke depan kelas sehingga mengganggu anak lain yang di belakang. Ketika menulis di papan tulis, tiba–tiba tulisan yang kita tulis dihapus dengan tersenyum bahagia. Disinilah rasa welas asih harus ditanamkan dalam diri seorang guru.

Baca juga:   Metode Karya Wisata untuk Tingkatkan Keterampilan Menulis Deskripsi

Pendidikan dihadapkan pada proses dan hasil. Sebagian orang akan berpikir bahwa kecerdasan anak akan dilihat dari potensi gurunya dalam mengajar. Sering proses yang mudah dan cepat membuahkan hasil adalah pilihan utama. Mungkin keadaan yang seperti ini bisa terjadi untuk anak yang normal pada umumnya. Sebaliknya proses lama dan rumit akan dihindari.

Namun sebagai pendidik harus siap dan mampu menghadapi ABK saat di kelas. Dengan rasa ikhlas dan memposisikan diri sebagai ABK ataupun merasa sebagai orang tua kandung, guru akan lebih dekat dalam berinteraksi dengannya. ABK akan merasa aman, nyaman, dan terlindungi dalam menuntut ilmu. (rs1/ida)

Guru SDN Selokarto 02, Kabupaten Batang

Author

Populer

Lainnya