Flipped Learning Jurus Jitu PTMT IPS

Oleh: Suryanti, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, HINGGA saat ini, pola Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) masih membawa tantangan tersendiri dalam pembelajaran IPS di jenjang SMP. Berdasarkan pengamatan, salah satu tantangan terbesar di SMP Negeri 5 Salatiga adalah tingginya tingkat miskonsepsi peserta didik terhadap materi yang disajikan. Sebagai contoh, pada materi Kondisi Fisik Wilayah Indonesia, sebagian besar peserta didik tidak dapat mengidentifikasi nama-nama pulau di Indonesia dengan tepat. Padahal, materi ini seharusnya sudah tersedia pada buku teks.

Fenomena ini menunjukkan bahwa peserta didik kesulitan untuk mencapai hasil belajar yang optimal ketika hanya belajar mandiri tanpa bimbingan guru. Jika tidak segera diatasi, hal ini tentu akan menimbulkan masalah di kemudian hari.

Beruntungnya, saat ini Kota Salatiga telah berada pada Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Level 3. Artinya, sekolah sudah diperbolehkan melakukan Pembelajaran Tatap Muka Terbatas (PTMT) sehingga guru dapat lebih leluasa menjelaskan konsep pada peserta didik. Namun demikian, belum seluruh peserta didik dapat mengukuti pembelajaran secara utuh dalam waktu yang bersamaan di sekolah. Dengan kata lain, alokasi waktu yang dapat digunakan untuk mengajar pun terbatas.

Baca juga:   Kerak Penggerak Kreativitas Siswa

Salah satu solusi yang dapat dilakukan adalah dengan menerapkan Flipped Learning, atau pembelajaran terbalik. Sebagai salah satu model yang disarankan oleh Kemdikbud (2020), model ini dapat didefinisikan sebagai model pembelajaran yang meminta peserta didik untuk mempelajari materi lebih dulu di rumah sesuai dengan tugas yang diberikan guru. Pada saat peserta didik masuk sekolah, guru hanya perlu melakukan penguatan ataupun meminta peserta didik mempresetasikan apa yang telah dipelajari. Harapannya, peserta dapat dapat berlatih mengomunikasikan apa yang telah dipelajari kepada rekan-rekannya.

Flipped Learning telah lama dianggap sebagai model pembelajaran yang aktif dan inovatif. Pada sebuah penelitian, Birgili, Seggie, dan Oguz (2021) menyimpulkan bahwa flipped learning memberikan efek positif dalam meningkatkan pengetahuan dan keterampilan akademik peserta didik. Hal ini tidak lepas dari sifat flipped learning yang memungkinkan peserta didik mencapai dimensi kognitif kemampuan berpikir tingkat tinggi pada taksonomi Bloom. Hal inilah yang melatarbelakangi pemilihan model Flipped Learning sebagai strategi pemecahan masalah.

Flipped Learning diterapkan pada pembelajaran IPS kelas VII Semester Gasal materi Kondisi Fisik Wilayah Indonesia melalui beberapa langkah. Pertama, peserta didik terlebih dahulu diberi materi dan aktivitas untuk diselesaikan di rumah melalui WhatsApp Group dan Google Classroom. Kedua, pada saat PTMT, guru memastikan pemahaman peserta didik melalui diskusi dan tanya jawab.

Baca juga:   Belajar Pasar Modal lebih Menyenangkan dengan Role Playing

Selain itu, peserta didik diminta untuk menerapkan pemahamannya terhadap materi Kondisi Fisik Wilayah Indonesia lewat sebuah permainan mengidentifikasi nama-nama pulau di Indonesia. Selanjutnya, guru membimbing peserta didik membuat simpulan dan meluruskan miskonsepsi yang masih muncul. Akhirnya, peserta didik diberi penugasan mandiri berupa proyek membuat Peta Angin Muson untuk diselesaikan di rumah.

Penerapan model Flipped Learning ini diharapkan dapat menurunkan tingkat miskonsepsi pada peserta didik. Selain itu, model ini dapat menjadi siasat mengatasi alokasi waktu tatap muka yang terbatas pada masa PTMT. Pada akhirnya, sebagai guru, kita perlu memberi upaya untuk memberi layanan sebaik mungkin di tengah keterbatasan waktu akibat pandemi ini. (dd2/zal)

Guru SMPN 5 Salatiga

Author

Populer

Lainnya