Tingkatkan Kemampuan Kognitif Siswa dengan Puzzle pada Layanan Bimbingan Konseling

Oleh : Fendi Ermawan

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Berdasarkan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003, pendidikan berfungsi membentuk watak dan karakter serta peradaban bangsa dalam rangka mencerdaskan kehidupan bangsa. Kecerdasan yang perlu dikembangkan meliputi kecerdasan rasional, emosional, sosial, moral dan spiritual. Salah satu kecerdasan rasional yang perlu dikembangkan dalam membentuk karakter peserta didik adalah kemampuan kognitif.

Kemampuan kognitif merupakan kemampuan siswa dapat berpikir secara logis yang diperolehnya melalui informasi-informasi dan ide-ide yang realistis serta menyangkut kecerdasan seseorang dalam memecahkan suatu masalah. Kemampuan ini selanjutnya berkembang menjadi kemampuan berpikir logis.

Siswa yang tidak berfikir logis dan realistis dalam mengambil sikap cenderung hanya ikut-ikutan dan tidak mempunyai pendirian yang tetap. Untuk itu manusia perlu memahami serta mengerti sikap yang harus diambil untuk memecahkan persoalan. Hal tersebut tidak lepas dari kemampuan kognitif. Guru bimbingan konseling (BK) memiliki peran dan tanggung jawab yang cukup besar dalam membantu siswa mengatasi masalah.

Guru BK dapat membantu memberikan layanan bimbingan konseling kepada siswa yang mungkin mengalami masalah dan kesulitan untuk bersikap logis dan realistis terhadap persoalan. Serta membantu siswa dalam mencari jalan keluar yang tepat.

Di SMP Negeri 26 Semarang, masih dijumpai siswa yang kemampuan kognitifnya kurang terutama berfikir logis dan realistis dalam mengambil sikap. Berfikir tidak logis dan realistis ini ditunjukkan dengan siswa meminta kepada orang tuanya untuk dibelikan sepeda motor dengan alasan agar menambah semangat belajar dan sekolah tidak diantar jemput. Hal ini akan menambah beban pikiran orang tua. Dalam membantu kemampuan kognitif siswa agar berfikir logis dan realistis dalam memecahkan masalah di kelas VIII SMP Negeri 26 Semarang, bimbingan yang dilakukan adalah bimbingan kelompok dengan media puzzle.

Baca juga:   Cara Asyik Belajar dari Rumah

Media ini memberikan kesempatan pada siswa untuk saling membagikan ide-ide dan mempertimbangkan jawaban yang paling tepat, serta lebih mengedepankan kepada aktivitas siswa dalam mencari, mengolah, dan melaporkan informasi dari berbagai sumber untuk dipresentasikan di kelas.

Layanan bimbingan kelompok dengan media puzzle merupakan salah satu layanan pembelajaran yang memiliki tujuan sebagai berikut: membentuk jiwa kerja sama, Siswa dapat lebih konsisten dengan apa yang sedang di kerjakan. Melatih kecerdasan logis. Menumbuhkan rasa solidaritas sesama. Menumbuhkan rasa kekeluargaan antarsiswa. Melatih strategis dalam bekerja sama. Menumbuhkan rasa saling menghormati dan menghargai antarsiswa. Menumbuhkan rasa saling memiliki antarsiswa. Menghibur para siswa dalam kelas.

Untuk meningkatkan kinerja siswa aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, maka pembelajaran dengan puzzle ada langkah-langkah yang perlu diperhatikan. Yakni guru membagi siswa menjadi beberapa kelompok beranggotakan tiga sampai lima orang dan membagi utuh puzzle kepada masing-masing. Di balik setiap potongan puzzle ada pertanyaan yang harus dijawab.

Baca juga:   Pembiasaan Perilaku Terpuji Hemat Siswa SD dengan Tabung Ajaib

Siswa mulai menumpahkan bentuk utuh puzzle agar terlepas dari tempatnya.

Siswa dipersilakan mencari dan memasang kembali satu per satu dengan menjawab pertanyaan yang ada di balik potongan puzzle. Siswa berpikir bersama dalam kelompok untuk menggambarkan dan meyakinkan bahwa tiap orang mengetahui jawaban dari pertanyaan yang telah diberikan oleh guru.

Guru mempersilakan siswa dari tiap kelompok yang sama mengangkat tangan dan menyampaikan jawaban kepada siswa lain di kelas. Dengan menerapkan langkah-langkah tersebut, proses pembelajaran puzzle membuat siswa lebih aktif, improvisasi dan kreatif, teliti, fokus dalam pembelajaran. Siswa dapat berekspresi sehingga kemampuan kognitifnya meningkat.

Siswa yang mendapatkan layanan bimbingan kelompok dengan puzzle diharapkan selain dapat berfikir logis dan realistis. Juga orang tua siswa tidak terbebani dengan kebutuhan-kebutuhan yang tidak logis dan realistis. (ra1/lis)

Guru BK SMP Negeri 26 Semarang

Author

Populer

Lainnya