Pentingnya Riset dalam Proses Membuat Desain Logo

Oleh : Bibin Rubiyanto, S.Sos

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Setiap orang tentu pernah mengalami kebuntuan berpikir dalam menemukan ide kreatif, termasuk penulis sebagai guru Multimedia di SMK Negeri 1 Sale Kabupaten Rembang.

Hal ini pula yang sering dialami oleh peserta didik ketika mendapat tugas membuat karya desain seperti logo, poster atau banner. Seringkali terjebak melakukan plagiat jika mengalami kekosongan ide, akhirnya tinggal copy dan paste tanpa memodifikasi.

Memodifikasi bukan berarti meniru konten lalu mengubah warna atau ukuran, yang dimaksud amati tiru modifikasi adalah menjadikan konsep dari sebuah karya menjadi inspirasi.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) disebutkan plagiarisme atau sering disebut plagiat adalah penjiplakan atau pengambilan karangan, pendapat, dan sebagainya dari orang lain dan menjadikannya seolah karangan dan pendapat sendiri.

Dalam Undang-Undang Hak Cipta, pengertian plagiarisme dijelaskan dalam beberapa istilah seperti mengumumkan, mempublikasikan, atau menjual hasil karya orang lain tanpa seizin pemilik karya tersebut. Jika sudah begitu plagiat dapat dianggap sebagai tindak pidana karena mencuri hak cipta orang lain.

Mengingatkan siswa agar tidak terjebak plagiat bisa dengan cara memperbanyak kegiatan riset di setiap awal proses berkarya. Hampir semua bidang pekerjaan selalu ada riset, cukup bisa dengan riset yang sederhana tidak perlu kompleks disertai penjelasan ilmiah berisi data dan angka.

Baca juga:   Belajar Bahassa Inggris dengan Promesolis

Kegiatan riset bisa kita contohkan pada saat siswa belajar praktik merancang desain logo. Menurut pendapat Gilson dan Berkman dalam Advertising Concepts and Strategies (1980), merancang desain bisa disusun langkah-langkah strategi kreatif , termasuk proses merancang desain logo.

Langkah pertama adalah design brief . Creative brief atau sering disebut design brief adalah panduan tertulis untuk sebuah proyek desain yang dikembangkan bersama oleh desainer dan pihak klien. Biasanya berbentuk dokumen petunjuk dan perintah yang terdiri dari informasi tentang visi misi dan diskripsi perusahaan; nama produk atau layanan jasa yang ditawarkan; target sasaran untuk siapa; kondisi pasar dan kompetitor seperti apa dan hal-hal optional seperti pemilihan warna dan bentuk logo yang diinginkan.

Kedua brainstorming. Di sinilah letak kegiatan riset berada. Design brief yang sudah didapat atau disusun bersama klien akan dipelajari oleh desainer. Seorang desainer pada tahap ini akan melakukan segala bentuk riset. Tujuannya mencari ide dan inspirasi, serta hal yang paling penting sesuai pokok masalah adalah menghindari plagiasi.

Baca juga:   Belajar Flora dan Fauna dengan Membuat Kliping

Riset bisa dilakukan dengan berbagai cara misalkan; wawancara, diskusi, mengikuti seminar workshop, melihat karya dari sebuah usaha serupa kemudian mempelajarinya, membaca buku, mengikuti perkembangan berita serta kalau perlu mempelajari latar belakang budaya. Setelah matang dalam riset, selanjutnya desainer mencoba corat-coret sketching di atas media kertas, tablet atau komputer. Dari berbagai sketsa yang terkumpul, kemudian dipilih beberapa yang terbaik untuk dituangkan kedalam bentuk digital memakai software vector/bitmap sesuai pilihan desainer.

Tahap akhir adalah presentasi di hadapan klien untuk mendapatkan persetujuan sebelum produksi desain tersebut digunakan. Membuat sebuah presentasi yang baik dan tidak lupa untuk selalu membuat opsi pilihan 2-3 bentuk rancangan desain logo yang berbeda. Hal ini perlu agar klien bisa memillih sebelum membuat keputusan.

Jadi merancang sebuah logo adalah bentuk investasi karena secara personal bagi perusahaan, logo yang baik akan mampu menguatkan identitas brand. Secara komunikasi logo yang baik mampu berbicara pada target yang tepat. Secara sadar diharapkan logo yang baik mampu menimbulkan daya ingat yang kuat bagi siapapun. (fkp1/lis)

Guru SMKN 1 Sale, Kabupaten Rembang

Author

Populer

Lainnya