Metode Pembelajaran Piknik dan Belajar Bikin Siswa Mudah Memahami Sejarah

Oleh: Andi Suharjono, S.Pd.SD.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dalam pendidikan di jenjang pendidikan dasar SD/MI mengacu, pada Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan (KTSP, memuat beberapa mata pelajaran, salah satunya adalah Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS).

Istilah IPS di Indonesia di kenalkan sejak tahun 1970- an,hasil kesepakatan komunitas akademik dan secara formal mulai digunakan dalam sistem pendidikan nasional dalam kurikulum 1975. Mata pelajaran IPS merupakan nama mata pelajaran integrasi dari mata pelajaran sejarah, geografi dan ekonomi serta mata pelajaran ilmu sosial lainnya (Sapriya, 2006:7.).

Tujuan pengajaran IPS di jenjang pendidikan dasar adalah membentuk dan mengembangkan pribadi warga negara yang baik (good citizen), mulai sejak dini. Melalui mata pelajaran IPS, peserta didik disiapkan dan diarahkan agar mampu menjadi 4 warga negara Indonesia yang demokratis, dan bertanggung jawab, serta warga dunia yang cinta damai. Menurut Fraenkel (1980: 8-11), ada empat kategori tujuan IPS, yaitu pengetahuan, keterampilan, sikap, dan nilai.

Namun, bagi siswa di tempat penulis mengajar yakni kelas 4 SDN 01 Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan, memahami materi pelajaran IPS yang memuat materi Geografi, Sejarah, Sosiologi, dan Ekonomi, tentu bukan hal yang mudah. Materi yang abstrak, membosankan dan kekuatan hapalan dibanding pemahaman, membuat siswa sulit menerima materi pelajaran, nilai siswa pun jatuh.

Baca juga:   Motivasi Belajar PAIBP Meningkat dengan Media Kartu Berwarna

Abstrak adalah tidak berwujud dan tidak berbentuk, lawan katanya adalah konkret, benar ada dan nyata (Kamus Besar Bahasa Indonesia-KBBI). Contoh, saat penulis memberikan materi pemahaman sejarah adat istiadat daerah, siswa kurang dapat menangkap pesan yang di sampaikan penulis, tentang apa itu adat istiadat, sejarah dan contoh yang bisa dimengerti siswa.

Untuk memudahkan siswa memahaminya, saya lantas mencoba mengajak siswa keluar kelas, belajar langsung di sebuah situs bersejarah. Kebetulan di sekitar lokasi SDN 01 Pait ada sebuah peninggalan sejarah berupa candi, yakni Candi Kedung Inten, yang berlokasi di Dukuh Kedung Inten, Desa Depok, Kecamatan Siwalan. Saya mengajak siswa ke Candi Kedung Inten, karena keberadaannya tidak terlepas dari Babad Pekalongan. Belajar langsung di lokasi sejarah, penulis mengistilahkan Piknik dan Belajar (PB) atau lazimnya Karya wisata. Metode karyawisata yakni mengajak siswa atau peserta didik keluar sekolah untuk tujuan belajar secara langsung dan bukan rekreasi. (Pupuh, 2007:62).

Sesampainya di lokasi candi, saya meminta siswa untuk mengamati bentuk bangunan. Kemudian menggali informasi di sekitar lokasi dengan bertanya kepada warga sekitar dan juru kunci Candi, sembari sesekali saya menjelaskan sejarah Candi Kedung Inten. Siswa mencatat semua apa yang mereka lihat dan tanyakan saat berada di lokasi. Dari hasil pengamatan mereka, penulis kemudian meminta siswa saat kembali ke kelas, untuk menuangkan pengalaman mereka selama berada di lokasi.

Baca juga:   Pembelajaran IPA Bermakna dengan Metode Learning Cycle

Tidak hanya meminta siswa untuk menulis informasi yang mereka kumpulkan, namun saya juga meminta siswa untuk bercerita apa yang mereka ketahui tentang candi Kedung Inten tersebut. Hasilnya, 90% siswa dapat memahami tentang apa itu adat istiadat dan peninggalan-peninggalan sejarah, yang merupakan bagian dari tradisi sejarah sebuah daerah. Ini berbeda dengan sebelum penulis mengajak langsung siswa untuk PB, hanya 30% siswa yang dapat memahami.

Ternyata dengan metode pembelajaran Piknik dan Belajar di sekitar wilayah sekolah tanpa harus pergi jauh yang membutuhkan waktu lama dan biaya yang tidak sedikit, siswa menjadi lebih aktif, happy dan yang terpenting mudah menyerap materi yang penulis sampaikan. Siswa berasa diajak piknik padahal mereka sebenarnya sedang belajar, mencari arti sejarah, adat istiadat dan tradisi, hingga bisa menjadi sebuah lokasi bersejarah bagi suatu daerah atau tetenger. Kondisi tersebut secara tidak langsung berpengaruh pada hasil belajar yang diperoleh. Hal ini terlihat pada ketuntasan nilai siswa yang mencapai 90,01%. (ips1/ton)

SDN 01 Pait, Kecamatan Siwalan, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya