Tetap Bersemangat Belajar di Masa C-19 dengan Model Station Rotation

Oleh : Nining Purwaningsih S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SATU metode pembelajaran direct instruction atau ceramah yang biasa digunakan oleh para guru mengakibatkan pembelajaran kurang efektif dan kurang menarik bagi siswa. Bahkan, kebanyakan peserta didik kurang fokus dan cenderung melakukan aktivitas lain saat proses pembelajaran berlangsung.

Karena itulah, penulis menerapkan metode pembelajaran yang mampu mengatasi rendahnya pencapaian target minimal kompetensi siswa di kelas 4 SDN Samborejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Yakni dengan model pembelajaran jenis Blended Learning. Adalah metode pembelajaran yang memadukan pertemuan tatap muka dengan materi online secara harmonis.

Metode blended learning merupakan perpaduan antara pembelajaran konvensional di mana pendidik dan peserta didik bertemu langsung dengan pembelajaran secara online yang dapat diakses kapan saja dan di mana saja. Adapun bentuk lain dari blended learning adalah pertemuan virtual antara pendidik dengan peserta didik. Yakni antara pendidik dan peserta didik mungkin saja berada di dua tempat yang berbeda.

Jenis model blended learning yang penulis pilih adalah Station Rotation. Maka pembelajaran dilakukan secara online dan offline secara bergantian dalam kelompok belajar. Kelompok belajar dapat terdiri atas seluruh anggota kelas, atau guru dapat membagi lagi menjadi kelompok-kelompok belajar yang lebih kecil. Pada saat pembelajaran secara online, siswa mengakses materi pelajaran secara online.

Baca juga:   Belajar Pelestarian Lingkungan Jadi Seru dengan Outdoor Study

Pada kegiatan secara offline siswa belajar secara langsung melalui tatap muka seperti biasanya. Pertama, materi yang diajarkan bisa langsung ke materi selanjutnya atau memperdalam materi pada pembelajaran secara online. Kedua, sebelum pembelajaran dimulai, guru harus menyiapkan kesepakatan jadwal online dan offline bersama siswa. Ketiga, siswa yang memilih untuk belajar secara offline membuat janji temu bersama guru di sekolah. Agar guru dan siswa bisa memberi dan menerima hal-hal teknis terkait pembelajaran yang akan dilakukan.

Biasanya, yang memilih stasiun offline ini adalah siswa yang rumahnya dekat dengan sekolah dan tidak memiliki smartphone pribadi. Guru dapat mengintruksikan apa yang harus dikerjakan oleh siswa bukan hanya sekedar untuk membaca materi pelajaran tetapi juga mengerjakan keterampilan, tugas proyek, atau menilai sesuatu berdasarkan panduan atau tutorial yang telah disediakan sebelumnya secara online, yaitu bisa menonton video TV Edukasi melalui channel YouTube atau video dari guru sendiri.

Melalui pembelajaran online seperti ini, siswa akan memiliki kesempatan untuk belajar secara mandiri dan bebas dari tekanan terutama bagaimana mereka harus mempresentasikan hasil pembelajaran kepada siswa lainnya. Jika sudah dikerjakan, siswa bisa mengirimkan bukti kepada saya melalui whatsapp melalui handphone sendiri/saudaranya/smartphone kakaknya atau orangtuanya. Langkah terakhir adalah memberikan reward kepada mereka yang terpilih. Reward yang saya berikan berupa pulsa sebagai penunjang kuota internet selama belajar daring.

Baca juga:   Pembelajaran Pendidikan Agama Kristen Menyenangkan dengan Model Konstruktivisme

Setelah siswa mengumpulkan hasil belajar, biasanya saya akan memajang hasil karya terbaik mereka di sebuah papan karya. Namun karena sekarang tidak bisa memajang hasilnya di papan karya yang ada di kelas, penulis menggantinya dengan memajang hasil karya bukti penugasan siswa di papan pajang kelas atau dibuat video yang kemudian dishare pada group WA kelas. Dengan penerapan model ini siswa kelas 4 SDN Samborejo terbukti tergugah dan semakin bersemangat belajar. (ct2/ida)

Guru SDN Samborejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya