Menekuni Pekerjaan dengan Perilaku Kerja Prestatif

Oleh : Rondiyah, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dalam arti luas pekerjaan adalah aktivitas utama yang dilakukan oleh manusia. Dalam arti sempit, istilah pekerjaan adalah sesuatu yang dilakukan oleh manusia untuk tujuan tertentu yang dilakukan dengan cara yang baik dan benar.

Manusia perlu bekerja untuk mempertahankan hidupnya. Ada yang bekerja untuk mengejar kekayaan, untuk melayani orang lain karena mereka punya jiwa sosial yang tinggi. Juga ada yang bekerja sebagai perwujudan hobi mereka atau untuk kepuasan batinnya. Dalam pembicaraan sehari-hari istilah ini sering dianggap sinonim dengan profesi.

Dalam melakukan pekerjaan, ada orang yang hanya memiliki/mengerjakan satu pekerjaan utama. Namun disisi lain ada orang yang bisa memiliki beberapa pekerjaan, salah satu sebagai pekerjaan utama/profesi dan yang lainnya sebagai pekerjaan sampingan/tidak utama. Pekerjaan yang dapat dilakukan dalam kegiatan usaha bisa berkaitan dengan bidang usaha; ekstraktif, agraris, industri, perdagangan, maupun jasa.

Mengapa perilaku kerja prestatif perlu dilakukan? Yaitu karena adanya 3 alasan utama. Meliputi adanya persaingan bebas, perubahan situasi/kondisi yang semakin cepat dan derasnya arus informasi yang semakin luas. Perilaku kerja prestatif biasanya dimiliki oleh para pekerja yang berambisi untuk maju, salah satunya wirausahawan.

Baca juga:   Rahasia Mendidik Anak di Rumah

Namun sebenarnya, tidak hanya bagi wirausahawan saja melainkan untuk semua orang/pihak yang berkaitan dalam penyelesaian suatu pekerjaan di bidang usaha. Sehingga, semakin dalam tingkat penanaman perilaku kerja prestatif di dalam diri masing-masing pribadi yang terlibat dalam suatu pekerjaan tertentu, maka semakin bagus pula sumber daya manusia yang tercipta.

Perilaku prestatif dalam menangani pekerjaan/profesi meliputi 5 hal yaitu pertama, kerja ikhlas, bekerja dengan penuh kesungguhan dan dengan perasaan yang tulus dan bersungguh-sungguh dapat/bisa menghasilkan sesuatu yang baik dilandasi dengan hati yang tulus.

Kedua, kerja mawas. Yaitu bekerja dengan tidak terpengaruh oleh adanya kondisi perasaan seperti adanya kemarahan di dalam dirinya, tidak tergesa-gesa di dalam mengambil suatu tindakan, tidak mudah terpancing saat menerima kritikan/pujian.

Ketiga, kerja cerdas, yaitu bekerja dengan sigap dengan memperhitungkan risiko, mampu untuk melihat peluang serta dapat mencari solusi atas suatu masalah yang dihadapi sehingga kemudian mendapatkan keuntungan. Bekerja tidak hanya mengandalkan otot saja, namun juga otak.

Keempat, bekerja keras. Yaitu bekerja yang memiliki sifat ambisius untuk dapat mencapai sasaran yang diinginkannya, dengan menggunakan sumber daya secara optimal, misalnya seperti tenaga, pikiran, serta perasaan di dalam menggunakan bahan, waktu, dana, serta juga alat.

Baca juga:   Integrasi Konsep Aljabar dengan Alquran

Kelima, kerja tuntas. Yaitu bekerja yang tidak setengah-setengah artinya mampu mengorganisasikan bagian usaha dengan secara terpadu dari awal sampai akhir untuk dapat menghasilkan usahanya itu secara maksimal.

Hasil pekerjaan dengan penerapan perilaku prestatif diharapkan akan sesuai yang diniatkan atau direncanakan sebelumnya. Dengan menerapkan perilaku kerja prestatif dalam menyelesaikan pekerjaan bisa diikuti kombinasi dari dua atau kelimanya dari unsur perilaku kerja prestatif tersebut. Dengan catatan, pekerjaan bisa selesai/tuntas. Perilaku kerja prestatif dapat dimulai dari lingkungan keluarga, lingkungan sekolah maupun lingkungan masyarakat.

Semoga pekerjaan atau profesi apapun dapat dilakukan dan diselesaikan dengan sebaik-baiknya. Dengan memahami pentingnya perilaku prestatif dan setiap individu menerapkannya dalam menekuni suatu pekerjaan/profesi yang dimiliki. (pm1/lis)

Guru Produk Kreatif dan Kewirausahaan SMKN 1 Magelang

Author

Populer

Lainnya