Cooking Class Mudahkan Belajar Perpindahan Kalor

Oleh: Tri Nur Rahayu, S. Pd. SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dalam belajar Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) sering menemukan kendala, terlebih tentang pengetahuan yang baru. Meski sebenarnya sudah sering dialami oleh murid-murid kita, namun sering tidak menjadi perhatian. Contohnya pelajaran tentang perpindahan kalor atau panas.

Tentu saja anak-anak setiap hari berinteraksi dengan panas atau kalor, namun bagaimana panas dari sumbernya bisa kita rasakan, tidak terpikirkan oleh mereka. Setelah di sekolah ada pelajaran tentang hal itu, baru mereka menemukan berbagai permasalahan.

Di kelas 5 SD Negeri Soronalan 1, Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang siswa merasa kurang paham dalam pelajaran perpindahan kalor ketika guru hanya menggunakan metode ceramah.

Berdasarkan pendapat Wina Sanjaya (2006: 147), metode ceramah merupakan cara penyampaian pembelajaran dengan penuturan secara lisan ataupun penjelasan secara langsung kepada peserta didik. Ketika metode ini diterapkan dalam pembelajaran tentang perpindahan kalor, siswa hanya memperoleh informasi secara verbal saja. Mereka masih berangan-angan, terlebih kalor atau panas itu sendiri tidak dapat dilihat meski dapat dirasakan.

Berawal dari situ guru berpikir, bagaimana agar materi tentang perpindahan kalor dapat dipahami dan bermakna bagi siswa. Belajar bermakna menurut Ausubel (1963) merupakan proses mengaitkan informasi atau materi baru dengan konsep-konsep yang telah ada dalam struktur kognitif.

Baca juga:   Meningkatkan Percaya Diri Siswa dalam Berpidato dengan ATM

Ada tiga faktor yang mempengaruhi kebermaknaan dalam suatu pembelajaran, yaitu struktur kognitif yang ada, stabilitas dan kejelasan pengetahuan dalam suatu bidang studi tertentu dan pada waktu tertentu. Berdasarkan teori tersebut guru merubah metode mengajar dari ceramah menjadi metode demonstrasi yang dilanjutkan dengan metode praktik.

Menurut pendapat Syaiful Bahri (2008: 210), metode demonstrasi menampilkan proses suatu benda maupun peristiwa yang dicontohkan oleh guru atau pengajar sehingga peserta didik dapat memahami dengan lebih mudah. Untuk menyampaikan materi perpindahan kalor, guru menerapkan metode cooking class atau kelas memasak untuk mendemonstrasikan tentang perpindahan kalor/panas. Karena dalam proses memasak terjadi perpindahan panas secara tiga macam sekaligus. Dari perpindahan kalor secara radiasi, koduksi dan juga konveksi.

Perpindahan kalor secara radiasi terjadi saat kompor dinyalakan kemudian panci diletakkan di atasnya, maka panas dari api kompor berpindah ke panci bagian baawah. Perpindahan kalor/panas dari api kompor ke panci secara langsung disebut dengan radiasi. Ketika panci bagian bawah mulai panas, lama-kelamaan gagang pancipun panas, meski tidak terkena sumber panas langsung.

Perpindahan panas berikut ini dinamakan konduksi yaitu perpindahan panas melalui zat perantara tanpa disertai perpindahan zatnya. Kemudian ketika air dalam panci mendidih terjadi uap panas, uap panas tersebut merupakan perpindahan panas secara konveksi. Karena panas dibawa oleh uap air dan airnya juga ikut berpindah. Perpindahan panas/kalor secara konveksi adalah perpindahan panas dengan zat perantara dan disertai perpindahan zat perantara tersebut.

Baca juga:   Menariknya Belajar Membuat Alat Peraga Tata Surya Sederhana

Setelah menggunakan metode demonstrasi berupa cooking class siswa kelas 5 SD Negeri Soronalan 1 Kecamatan Sawangan, Kabupaten Magelang, lebih mudah memahami dan lebih bermakna karena pembelajaran berjalan dengan menyenangkan. Cooking class tidak hanya dapat dilaksanakan ketika pembelajaran tatap muka saja, tapi saat pandemi seperti sekarang juga dapat dilakukan.

Guru tinggal membuat video tentang memasak disertai dengan penjelasannya. Setelah siswa mendengarkan dan memperhatikan, kemudian mempraktikkan di bawah pengawasan orang tua, atau bisa juga dengan memperhatikan ketika ibu memasak.

Dengan cooking class materi dapat tersampaikan dengan baik, dan ketika dilakukan evaluasi hasilpun memuaskan dibandingkan dengan metode ceramah. Siswa jadi dapat menerapkan pembelajaran dalam kehidupan sehari-hari, di samping itu siswa belajar tentang memecahkan masalah lebih mudah dengan cara dan kemampuannya secara menyenangkan. (pm2/lis)

Guru SDN Soronalan 1, Kec. Sawangan, Kabupaten Magelang

Author

Populer

Lainnya