Belajar Sejarah Perlawanan Pangeran Diponegoro Lebih Bermakna dengan Sosiodrama

Oleh : Dra Christiana Budhyastuti

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Ilmu Pengetahuan Sosial Terpadu (IPS Terpadu) merupakan salah satu mata pelajaran yang terpadu dan terdiri dari 4 mapel sekaligus di dalamnya. Yaitu sejarah, ekonomi, geografi, dan sosiologi. Dalam pembelajaran IPS terpadu sering kali peserta didik merasa kurang bersemangat, kurang menarik, tidak menantang karena materi yang begitu banyak.

Apalagi mata pelajaran itu diberikan pada jam terakhir sehingga suasana belajar peserta didik menjadi kurang kondusif. Terlebih guru sebagai motivator dalam pembelajaran hanya model ceramah, maka suasana pembelajaran semakin tidak menarik.

Agar pembelajaran IPS menarik bagi peserta didik, guru hendaknya membuat metode pembelajaran yang menyenangkan. Guru dituntut mampu mengembangkan ketrampilan belajar. Berperan sebagai motivator dan fasilitator agar peserta didik bersemangat, aktif dan mudah memahami materi yang disampaikan.

Keadaan demikian menuntut guru untuk dapat meningkatkan kualitas mengajarnya. Guru harus mampu merencanakan dan melaksanakan proses belajar mengajar yang berkualitas. Guru harus memiliki keterampilan yang baik dalam proses pembelajaran, mampu memberikan pengalaman belajar yang bermakna dan menyenangkan bagi peserta didik.

Sebagai guru IPS di SMP Negeri 1 Cepiring, penulis mengambil metode pembelajaran sosiodrama pada materi kelas VIII semester 2 pada KD. 3.4 dan KD 4.4 serta IPK 3.4.9 (Indikator Pencapaian Kompetensi yaitu perlawanan terhadap kolonialisme dan imperialisme).

Baca juga:   Penerapan “Kotekari” dalam Meningkatkan Hasil Belajar IPS

Contohnya peserta didik memahami sejarah perang Diponegoro (1825-1830). Menurut Iswan (2018:105) sosiodrama pada dasarnya kegiatan mendramatisasikan tingkah laku dalam hubungannya dengan masalah sosial.

Metode sosiodrama adalah cara mengajar yang memberi kesempatan kepada peserta didik untuk melakukan kegiatan memainkan peran tertentu yang terdapat dalam kehidupan masyarakat (dalam kehidupan sosial) juga agar terampil mendramatisasikan atau mengekspresikan sesuatu yang dihayati.

Metode ini merupakan suatu metode simulasi yang umumnya digunakan untuk pendidikan sosial dan hubungan antarkarakter orang. Adapun langkah-langkah pembelajaran dalam penggunaan metode sosiodrama adalah sebagai berikut : pertama, guru menyampaikan tujuan pembelajaran dan memberikan apersepsi. Kedua, guru menyampaikan pokok atau inti materi yang akan dipelajari kepada peserta didik.

Ketiga, guru membentuk sebuah kelompok bermain peran yang terdiri dari beberapa peserta didik yang sudah ditunjuk untuk membaca teks naskah drama yang telah disediakan oleh guru. Selanjutnya setiap kelompok diminta maju ke depan kelas dan bermain peran berdasarkan naskah drama yang ditentukan oleh guru dan memberikan penilaian kepada peserta didik. Setelah kegiatan bermain peran selesai, guru mengadakan evaluasi atau tes untuk mengetahui sejauh mana keberhasilan metode sosiodrama yang telah dilaksanakan. Kemudian guru memberikan masukan-masukan dan motivasi kepada peserta didik agar terus meningkatkan pemahaman pembelajaran sejarah dalam materi sejarah perang Diponegoro (1825-1830).

Baca juga:   Asyiknya Belajar Pronoun dengan Traditional Song

Tujuan metode pembelajaran sosiodrama adalah membantu peserta didik dalam melatih ketrampilan tertentu baik bersifat profesional maupun bagi kehidupan sehari-hari (kehidupan sosial dalam masyarakat). Memperoleh pemahaman tentang suatu konsep atau prinsip, melatih memecahkan masalah, meningkatkan keaktifan belajar, memberikan motivasi belajar kepada peserta didik untuk mengadakan kerja sama dalam situasi kelompok.

Menumbuhkan daya kreatif peserta didik untuk mengembangkan sikap toleransi. Dengan kata lain melalui metode sosiodrama memudahkan proses kegiatan belajar mengajar dan memudahkan guru dalam memberikan tugas kepada peserta didik sehingga mampu menciptakan suasana belajar yang menyenangkan dan bermakna. Sehingga seolah-olah peserta didik langsung terlibat dalam peran sejarah yang dipelajari. (ra1/lis)

Guru IPS SMPN 1 Cepiring, Kabupaten Kendal

Author

Populer

Lainnya