Belajar Ashabul Khahfi Menjadi Semangat dengan Metode Make A Match

Oleh : Nisrokha, S.Pd.I

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan agama Islam memiliki tujuan yang begitu beragam seperti menumbuhkan rasa lebih percaya kepada Tuhan sang pencipta semesta raya ini, semakin mempertebal akhlak setiap orang yang turut mempelajari agama Islam.

Di samping itu selain hanya untuk mengetahui saja, setiap orang yang turut mempelajari agama Islam diharapkan dapat mempraktikkannya seperti beribadah, dan juga mengaplikasikannya di kehidupan sehari-hari sesuai ajaran yang diberikan pada saat pembelajaran pendidikan agama Islam.

Namun demikian, kenyataan di lapangan menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang kurang hasil belajar dalam mengikuti kegiatan belajar di sekolah. Khususnya pada mata pelajaran PAI.

Angka yang diperoleh siswa yang telah berhasil hanya 50 persen menuntaskan konsep-konsep mata pelajaran sesuai dengan kriteria ketuntasan minimal (KKM), yang ditetapkan sesuai dengan kurikulum yang berlaku.

Berkaitan dengan materi Ashabul Kahfi permasalahan yang terjadi pada peserta didik SDN Pagumenganmas kelas VI dalam menerima pelajaran kurang bersemangat dan berdampak hasil belajar yang sangat menurun.

Ini juga dikarenakan dalam pembelajaran guru masih menggunakan metode tradisional yaitu ceramah dan latihan soal saja. Sehingga siswa kurang tertarik dalam menerima belajar.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Nabi Muhammad SAW Panutanku melalui Metode Bercerita

Dan salah satu cara penulis mendapatkan kesuksesan peserta didiknya yaitu dengan cara mengubah atau memilih strategi pembelajaran yang tidak seperti biasanya. Metode yang belum pernah digunakan yaitu metode make a match.

Menurut Joyce & Weil dalam Huda (2013 : 73), “Model pembelajaran sebagai rencana atau pola yang dapat digunakan untuk membentuk kurikulum, mendesaian materi-materi instruksional, dan memandu proses pengajaran di ruang kelas atau di setting yang berbeda.”

Model pembelajaran dapat dijadikan pola pilihan, artinya para guru boleh memilih model pembelajaran yang sesuai dan efisien untuk mencapai tujuan pendidikannya.

Penerapan model ini dimulai dengan teknik, yaitu siswa disuruh mencari pasangan kartu yang merupakan jawaban atau soal sebelum batas waktunya, siswa yang dapat mencocokan kartunya diberi poin.

Adapun langkah-langkah pelaksanaan model pembelajaran make a match menurut Aqib zainal (2013 : 23) adalah sebagai berikut: pertama, guru menyiapkan beberapa kartu yang berisi beberapa konsep atau topik yang cocok untuk sesi review (satu sisi berupa kartu soal dan sisi sebaliknya berupa kartu jawaban).

Baca juga:   Pelajaran Seni Budaya Sarana Berekspresi, Pembentukan Karakter Siswa dan Penyegaran

Kedua, setiap siswa mendapat satu kartu dan memikirkan jawaban atau soal dari kartu yang dipegang. Ketiga, siswa mencari pasangan yang mempunyai kartu yang cocok dengan kartunya (kartu soal atau kartu jawaban). Keempat, siswa yang dapat mencocokan kartunya sebelum batas waktu diberi poin. Kelima, setelah satu babak kartu dikocok lagi agar tiap siswa mendapat kartu yang berbeda dari sebelumnya, demikian seterusnya.

Keenam, bila suatu sesi telah berakhir maka kartu akan diundi kembali. Ketujuh, siswa bisa fleksibel mencocokan dengan siswa yang kiranya memiliki jawaban yang cocok, walaupun siswa tersebut sudah ada siswa lain yang telah memilih jawaban itu.

Kedelapan, kesimpulan. Diterapkannya model pembelajaran make a match memberikan manfaat bagi siswa. Trianto (2010:34) mampu menciptakan suasana belajar aktif dan menyenangkan dan materi pembelajaran yang disampaikan lebih menarik perhatian siswa. (ce5/lis)

Guru PAIBP SDN Pagumenganmas, Kec. Karangdadap, Kabupaten Pekalongan

Author

Populer

Lainnya