Pentingnya Pola Makan Sehat di Sekolah

Oleh: Wachidah, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, USIA anaka-anak adalah usia pertumbuhan dimana mereka membutuhkan asupan makanan yang memadai untuk pertumbuhan dan energinya. Banyaknya aktivitas yang mereka lakukan di sekolah selain belajar membuat mereka tidak bias hanya mengandalkan asupan dari makan pagi di rumah.

Bagi yang membawa bekal dari rumah mereka bias mengonsumsinya sebagai penyeimbang energy yang telah mereka keluarkan. Tetapi bagi anak-anak yang tidak membawa bekal dari rumah, jajan di sekolah menjadi pilihan yang paling memungkinkan bagi mereka.

Aktivitas otak yang melelahkan selama belajar tentu saja menguras energy. Ditambah lagi bermain dengan teman-temanya selama jam istirahat akan semakin membuat mereka membutuhkan asupan makan yang siap disantap. Oleh karena itu jajanan apa saja yang ada dihadapannya akan mereka santap dengan lahap dan nikmat.

Tanpa memperdulikan kualitas gizi ataupun kebersihannya. Oleh karena itu pola pengawasan terhadap jajanan yang ada disekolah dan juga edukasi terhadap nilai gizi dan kebersihan makan perlu diberikan kepada anak-anak.

Kecukupan akan asupan gizi selama melakukan aktifitas di sekolah sangatlah penting. Gizi yang seimbang selain berfungsi sebagai faktor utama tumbuh kembang anak, juga berfungsi sebagai sumber energy dan tenaga bagi anak. Tetapi banyak sekali ditemukan jajanan yang nir gizi. Terbuat dari bahan-bahan yang ala kadarnya.

Bahkan ada yang menyebut sebagai makanan sampah karena tidak memiliki kandungan gizi yang memadai dan hanya berfungsi sebagai pengenyang perut saja. Banyak jajanan yang hanya mengandung karbohidrat asaja. Dan juga banyak minuman yang hanya mengandung glukosa saja. Padahal protein, vitamin, kalsium juga sangat dibutuhkan oleh tubuh. Alhasil banyak anak yang menjadi lambat pertumbuhannya karena asupan gizi di rumah maupaun di sekolah tidak tercukupi.

Baca juga:   Serunya Belajar Bilangan Bulat dan Pecahan dengan Course Review Horay

Jajanan yang tak sehat juga sering kita temui di sekolah. Banyak penjual jajanan anak yang ketika mengolah dan menyajikan jajanan tersebut dengan cara yang tidak sehat dan higeinis. Mereka membuat tanpa mencuci bahan-bahannya terlebih dahulu.

Mengolah dan memasak dengan menggunakan minyak yang telah berulang kali dipakai. Menggunakan alat dan wadah yang kotor dan jarang dicuci. Dan mengemasnya dengan plastic-palstik yang hasil daur ulang. Anak-anak banyak yang acuh dengan kondisi seperti ini. Penjualpun sama. Karena mereka terkadang hanya memikirkan dagangan yang laku saja.

Selain itu banyak jajanan yang dibuat dengan menggunakan bahan-bahan yang dilarang karena berbahaya dan merugikan kesehatan. Banyak jajanan yang campuri dengan bahan pengawet agar tahan lama. Dan tidak cepat basi dan membusuk. Dengan menggunakan bahan pengawet seperti formalin dan boraks, makanan yang telah diolah menjadi lebih tahan lama.

Dan bisa dijual keesokan harinya. Banyak pula jajanan yang menggunakan bahan perwarna untuk agar jajanan yang dijual semakin menarik. Bahan perwarna yang dipakaipun kadang bukan bahan perwarna makanan. Tapi bahan perwarna tekstil. Sehingga warna ynag dihasilkan lebih ngejreng dan menarik disbanding dengan pewarna alami.

Baca juga:   Atasi Menulis Cerpen saat Pandemi dengan Pentigraf

Demikain pula dengan bahan perasa atau yang lebih dikenal dengan essence. Bahan pearsa ini lazim ditemukan pada minuman-minuman anak-anak. Minuman kemasan siap saji maupun yang diolah sendiri oleh para penjual kebanyakan menggunakan essence untuk menggantikan rasa buah asli yang jauh lebih mahal kalau digunakan. Trik-trik seperti ini digunakan oleh para pedagang untuk untuk meraup keuntungan sebanya-banyaknya tanpa memperdulikan dampaknya bagi kesehatan anak-anak.

Dari uraian yang penulis sampaikan di atas, sudah menjadi keharusan bagi kita untuk memperhatikan pola makan anak disekolah dan mengedukasi mereka dengan pengetahuan-pengetahuan tentang makanan yang sehat dan berbahaya bagi mereka.

Sehingga mereka bias membedakan manakh makan yang berbahaya, amankah yang aman, dan manakah yang bergizi. Karena bagaimanapun juga anak-anak di sekolah berada pada pengawasan guru. Menjadi tanggung jawab guru. Seperti di SDN Kutosarsi, Kabupaten Pekalongan. Jangan sampai ada kejadian anak yang keracunan atau bahkan kehilangan nyawa gara-gara mengonsumsi makanan yang berbahaya. Hanya karena kita sebagai guru abai dan menganggap pola makan siswa di sekolah aman-aman saja. (gb1/zal)

Guru SDN Kutosari, Kab. Pekalongan

Author

Populer

Lainnya