Pentinganya Mengenali Diri untuk Mengatasi Kelelahan Kerja Guru di Era Pandemi

Oleh: Sri Waluyo Prihastuti, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, BURNOUT merupakan sebuah permasalahan global, berkaitan dengan stres kerja yang akan berdampak buruk pada kesehatan psikologis juga fisik individu, dan dapat mempengaruhi keberlangsungan organisasi sehingga tidak berjalan dengan efektif (Bahrer & Kohler, 2013) .

Freudenberger (dalam Gold & Roth, 2005) mendefinisikan burnout sebagai sebuah simtom yang mencakup gejala kelelahan yang akan berakibat pada mengabaikan kebutuhan diri sendiri, menurunnya komitmen serta dedikasi untuk mencapai tujuan.

Selain itu burnout juga bisa disebabkan saat individu bekerja terlalu lama dengan banyak tekanan, diburu buru oleh waktu, dan tuntutan kerja yang berat atau banyak.

Indonesia menjadi salah satu Negara terdampak dari adanya pandemi, dimana segala akses kehidupan social, pendidikan, dan juga perekonomian masyarakat mulai terbatas untuk dilakukan.

Salah satu yang menjadi perhatian dunia pendidikan adalah, dengan adanya kebijakan sekolah online merupakan alternatif yang digaung-gaungkan. Tentunya dengan tujuan mengurangi kerumunan siswa di sekolah sehingga dapat menekan perkembangan covid.

Akan tetapi pada realitanya pembelajaran online tidak semudah membalikkan telapak tangan, pada satu sisi hal ini dapat meningkatkan kemampuan menggunakan aneka metode pembelajaran untuk guru dan siswa termasuk kemampuan teknologi informasi.

Namun disisi lain hal ini juga membuat guru dan siswa merasa bosan dan mengalami kelelahan kerja yang berdampak pada menurunnya performa mengajar dan mengerjakan tugas.

Baca juga:   WhatsApp Auto Reply Ramah Lingkungan dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia

Guru pun seolah bekerja melampaui jam kerjanya, dikarenakan beberapa siswa yang belum mengumpulkan tugas atau beberapa siswa yang menghubungi sampai di malam hari dikarenakan belum begitu dapat memahami materi yang disamapaikan melalui pembelajaran online.

Hal ini menjadi salah satu permasalahan dilematis dikarenakan pada satu sisi guru ingin memenuhi kewajibannya dengan baik membuat siswa memahami materi namun di sisi lain guru juga membutuhkan waktu untuk berisitirahat dan mengerjakan tugas administratif lain dari sekolah.

Kelelahan kerja ini sering berdampak pada kondisi fisik yang menjadi menurun, lesu, mudah lelah, menjadi lebih emosional, terlambat hadir juga tidak tepat waktu dalam mengumpulkan tugas administratif guru, dan beberapa hal yang ada akhirnya menurunkan kualitas dan performa guru.

Guru yang semula optimal dalam kesehariannya dapat berubah drastis saat mengalami kelelahan kerja.

Namun tidak jarang beberapa guru masih mengabaikan hal ini, sehingga terkesan memaksakan diri dikarenakan ingin segera menyelesaikan tugas dan membantu muridnya.

Pengajar menjadi melupakan kebutuhan dirinya sendiri, padahal jika guru memiliki kepekaan terhadap kondisi dirinya seindiri itu akan membantunya dalam memanajemen pola kerja dan menyelesaikan setiap tugas serta permasalahan secara efektif.

Baca juga:   Integrasi Mapel Solusikan PJJ kreatif

Ketika guru mulai merasa lelah dan motivasinya turun ia bisa untuk mengambil jeda istirahat dengan melakukan hal-hal yang bisa membuatnya merasa bahagia dan rileks, meskipun hanya sesaat. Sembari melakukan manajemen pekerjaan yang disesuaikan dengan kondisi diri, mengurangi beberapa beban kerja, dan berbagi dengan sesame guru yang lain.

Dengan tujuan bisa mengurangi beban pikiran dan perasaaan serta bisa mendapatkan masukan dari rekan guru lain yang akan membantu menyelesaikan tugas dan permasalahan. Sekolah pun semestinya menyadari akan hal ini, bahwa guru tidak hanya penting untuk diberikan pelatihan terkait dengan menggunakan berbagai macam metode dan media pembelajaran.

Akan tetapi guru juga pertlu untuk dibekali beberapa pelatihan yang menunjang kemampuan menyelesaikan masalah, meningkatkan motivasi kerja, beradaptasi, membangun kepedulian pada diri sendiri juga lingkunga, serta manajeman kerja yang efektif, mindfulness, dan metode menurunkan stress kerja juga kelelahan kerja.

Karena mengajar tidak hanya bergantung pada kemampuan dan pengetahuan, tapi juga hati dan diri yang positif untuk dapat mempengaruhi sekitarnya agar memiliki semangat pembelajaran yang besar. Seperti yang diterapkan di SMPN 8 Salatiga. (ss2/zal)

Guru SMPN 8 Salatiga

Author

Populer

Lainnya