Kaca Vidar Menumbuhkan Kepercayaan Diri pada Anak Berkebutuhan Khusus

Oleh : Hesti Juniarti, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pendidikam inklusif adalah sistem layanan pendidikan yang mensyaratkan anak berkebutuhan khusus (ABK) belajar di sekolah-sekolah terdekat, dalam kelas umum bersama teman-teman seusianya.

Setiap peserta didik berkebutuhan khusus memiliki program belajar secara individu yang memungkinkan dia mengembangkan seluruh potensi yang dimiliki sesuai kemampuannya.

SMP Negeri 6 Salatiga sebagai sekolah inklusif menyelenggarakan program pendidikan inklusif dengan tahapan-tahapan sebagari berikut: pertama mengidentifikasi peserta didik berkebutuhan khusus untuk menghimpun informasi yang lengkap mengenal kondisi anak untuk menyusun program pembelajaran yang sesuai dengan kebutuhan khususnya. Sehingga anak terhindar dari problema belajar.

Kedua asesmen peserta didik berkebutuhan khusus adalah suatu proses pengumpulan informasi secara menyeluruh yang berkenaan dengan kondisi dan karakteristik kelainan, kelebihan dan kekurangan sebagai dasar dalam menyusun program kebutuhan khusus yang sesuai kondisi dan kebutuhan anak.

Ketiga planing matrik adalah mapping diskripsi tentang kondisi ABK secara individu yang mengambarkan tentang kondisi aktual hambatan karakteristiknya, dampak, strategi layanan dan media yang diperlukan dalam intervensi. Yang selanjutnya disusun skala prioritas.

Keempat program Pembelajaran Individual (PPI). Pembelajaran dirancang dengan baik, disesuaikan kemampuan dan kebutuhan setiap ABK. Sehingga setting inklusif akan berbeda baik dalam strategi, kegiatan, media dan metode.

Dari keempat tahap tersebut sebagai guru BK yang diberi tugas menjadi guru pendamping khusus (GPK) setelah melalui keempat tahap tersebut memberikan program pembelajaran individual pada salah satu ABK dengan kekhususan tuna ganda slow learner dan low vision, yang memiliki kepercayaan diri sangat kurang.

Baca juga:   Peran Kepemimpinan Kepsek dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Dimana ABK apabila diajak bicara guru menunjukkan sikap, menolak kadang lari, bicara tidak berani menatap lawan bicara, berbicara dengan suara kurang jelasatau pelan sehingga perlu diulang, bahkan menjawab dengan berguman.

Dari sikap yang ditunjukan ini GPK membuat program untuk meningkatkan dan menumbuhan kepercayaan diri ABK melalui kaca vidar. Kaca vidar kepanjangannya KArtu BaCA VIDeo dan ARtikel.

GPK bersama ABK mencari bersama sama tentang video dan artikel bagaimana etika berbicara yang baik. Dari artikel yang diperoleh bersama ABK pula membuat kartu baca dengan menyusun potongan artikel pada sebuah kartu sebesar kertas HVS dan tulisan bisa terbaca ABK dalam jarak 2 sampai 3 meter. Hal ini dilakukan agar keakraban dan kepercayaan ABK terhadap GPK terjalin dengan baik.

Program pembelajaran individu kaca vidar untuk menumbuhan kepercayaan diri pada diri ABK dimulai dari melihat video tentang etika berbicara yang baik kemudian mendiskusikannya. Lalu bermain dengan kartu baca dengan cara : pertama ABK dan GPK berhadapan dengan jarak antara 2 sampai 3 meter.

Baca juga:   Guru Perekat Kemajemukan

Kedua GPK bertanya pada ABK sekitar materi artikel dimana kartu baca di bawah GPK diletakkan di sekitar muka GPK dengan tujuan ABK terbiasa bila diajak bicara menatap lawan bicara. Ketiga meminta ABK membaca kartu yang diletakkan di sekitar muka GPK dengan intonasi dan suara yang jelas dengan tujuan ABK terbiasa berbicara dengan intonasi dan suara yang jelas.

Ketiga langkah di atas dilakukan berulang-ulang pada hari yang berbeda secara terus-menerus. Latihan yang diterapkan ini dikomunikasikan pada orang tua ABK agar bisa ditindaklanjuti untuk beretika bicara di rumah.

Program pembelajaran individu kaca vidar yang diprogram kurang lebih 2 bulan, akhirnya membawa hasil. ABK menunjukkan kepercayaan diri yang meningkat. Hal ini terlihat pada sikapnya antara lain berani menatap lawan bicara, suaranya jelas sudah tidak berguman, tidak sibuk sendiri kalau diajak bicara, walau kadang masih perlu diingatkan.

Para guru BK yang ditunjuk sebagai GPK pada sekolah inklusif mari tunjukan eksistensi kita dalam mendampingi anak-anak berkebutuhan khusus agar kesulian ABK bisa diminimalisasi. Sehingga bisa tumbuh berkembang sesuai dengan tugas perkembangannya. Mereka memiliki hak yang sama seperti anak seusianya baik dalam pendidikan maupun dalam kehidupan yang mandiri. (ss2/lis)

Guru Bimbingan Konseling SMP Negeri 6 Salatiga

Author

Populer

Lainnya