Perlu Pendampingan Optimal dalam Pendidikan Karakter

Oleh : Puji Nurhayati S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PARA guru SD Cebongan 01 Salatiga terus berupaya meningkatkan kemampuannya untuk meningkatkan kualitas mengajarnya di tengah pandemi Covid-19.

Mulai mengikuti seminar-seminar pendidikan secara virtual yang diadakan oleh berbagai lembaga pendidikan, belajar bersama sesama teman guru, membaca buku, dan latihan IT yang mendukung kegiatan belajar mengajar (KBM) secara daring.

Walaupun guru sudah berusaha neningkatkan kemampuannya, namun masih belum optimal untuk mencapai keberhasilan pendidikan.

Ukuran keberhasilan itu sendiri bisa dilihat dari hasil tes yang telah dilaksanakan di sekolah secara online. Namun yang lebih memprihatinkan yaitu pendidikan yang tidak bisa terjangkau optimal adalah karakter siswa.

Menurut Ki Hajar Dewantoro, “Setiap Orang Menjadi Guru, Setiap Rumah Menjadi Sekolah.” Karena itu, guru di era sekarang perlu mengintegrasikan ajaran beliau dengan kurikulum 13.

Setidaknya ada 2 pelajaran, pertama, setiap anggota keluarga yang lebih dewasa harus dapat mengajarkan sikap spiritual sosial pengetahuan dan keterampilan. Kedua, setiap rumah hendaknya menjadi tempat bagi setiap anggota keluarga khususnya anak-anak untuk bisa memperkuat sikap spiritual sosial seperti keterampilan untuk kehidupan yang lebih bermakna di masa depan.

Baca juga:   Pembelajaran Agama dan Akidah Akhlak Kunci Sukses Pendidikan Karakter

Sikap spiritual dan sosial inilah yang akan membentuk karakter siswa. Menengok ajaran Ki Hajar Dewantoro tersebut, untuk pendidikan karakter masih dibutuhkan pendampingan yang optimal dari guru SD Cebongan 01. Karena usia anak SD sangat rawan. Karakter anak turut dibentuk atau ditentukan oleh lingkungan.

Selama pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau online, karakter anak ditentukan dari keluarga dan lingkungan dimana anak tinggal. Terlihat ada beberapa siswa ternyata hilang unggah-ungguhnya, sopan-santunnya, tidak mengenal atau lupa akan ucapan salam bila masuk rumah atau kantor. Termasuk menjalankan salat 5 waktu tidak bisa terkontrol.

Apalagi tidak semua wali murid selalu mendampingi di rumah. Bahkan, lupa mengucapkan terimakasih ketika menerima sesuatu, lupa meminta maaf ketika berbuat salah, lupa meminta izin bila menggunakan barang milik orang lain, lupa kalau buang sampah harus pada tempatnya, beberapa anak laki-laki punya rambut panjang (gondrong) dan berwarna merah atau putih (semiran).

Untuk anak perempuan sudah ada sebagian yang ber-make up, memakai bedak dan lipstik setiap harinya. Itu semua baru hal yang paling kecil dari butir-butir karakter anak usia SD.

Baca juga:   Wujudkan Harapan Menjadi Kepala Sekolah yang Berkarakter

Mengacu dari hasil pengamatan itu, guru SD Cebongan 01 berusaha mendampingi pendidikan karakter secara optimal. Pendampingan dari masing-masing guru berbeda-beda.

Ada yang mendampingi langsung ke rumah siswa secara bergilir, ada yang memakai ceck list, ada yang memakai buku pendamping atau buku tugas, ada yang menyuruh siswa untuk datang ke sekolah diberi bimbingan tersendiri, ada yang memakai tugas di rumah yang kemudian divideokan, ada yang mengadakan lomba dari rumah tentang karakter. Dari situlah sedikit demi sedikit, karakter anak akan tumbuh kembali seperti pada waktu pembelajaran tatap muka.

Semoga dengan pendampingan yang optimal, karakter anak bisa tumbuh berkembang lebih baik lagi untuk mendukung keberhasilan tujuan pendidikan nasional. Orang tua menjadi antusias dengan apa yang diberikan guru SD Cebongan 01 Salatiga demi meningkatkan pendidikan karakter putra-putrinya. (dd1/ida)

Kepala SDN Cebongan 01 Salatiga

Author

Populer

Lainnya