Pembelajaran Drama secara Daring Tetap Efektif dengan Aplikasi

Oleh : FX Juhartono S.Pd MM

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KEGIATAN Belajar Mengajar (KBM) berdasarkan program Kemendikbud yaitu program Belajar dari Rumah (BDR) sebagai alternatif belajar di tengah pandemi Covid-19. Tujuan utama program BDR ini untuk memastikan hak setiap pelajar, yaitu hak memperoleh pendidikan selama para peserta didik tidak berangkat ke sekolah.

Mendikbud Nadiem menyampaikan bahwa proses belajar di rumah tidak harus menyertakan peralatan canggih. Menurutnya, komunikasi antara guru, peserta didik, dan orang tua menjadi kunci keberhasilan belajar dari rumah. Kebijakan Mendikbud tentang BDR mengubah kegiatan pembelajaran luring menjadi daring.

Perubahan yang begitu drastis tentunya mengagetkan peserta didik dan para pendidik. Keterkejutan para siswa biasanya karena mereka terbiasa dengan menerima secara instan semua hal dari guru. Itupun masih ada pendampingan pribadi. Pembelajaran dengan tidak tatap muka, ada beberapa siswa yang tidak bisa mengikuti pembelajaran.

Para guru terkejut dengan sistem online. Apalagi bagi mereka yang merasa gaptek dan tidak bisa segera menyesuaikan diri. Banyak yang pilih pensiun dini daripada semakin tidak bisa mengikuti pembelajaran. Masalah berikutnya adalah materi yang dianggap tidak bisa disampaikan kepada siswa dengan daring.

Materi kelas VIII semester 2 salah satunya adalah drama. Materi drama 4.16 menyajikan drama dalam bentuk pentas atau naskah banyak yang beranggapan tidak bisa disampaikan kepada peserta didik. Pembelajaran bahasa Indonesia di SMPN 9 Semarang di akhir semester dua, pembelajaran tentang drama tetap menyajikan pentas.

Baca juga:   Taklukkan Great Reset dengan Pembelajaran Life Skills

Penyajian pentas dengan cara daring. Pembelajaran pada awalnya dilakukan dengan zoom meeting untuk memberikan penjelasan umum tentang materi, cara penilaian, dan teknik pembelajaran yang akan penulis gunakan. Kelas dibagi dalam delapan kelompok, setiap kelompok terdiri atas empat siswa. Pembagian kelompok dilakukan oleh guru, agar siswa merasa diperlakukan dengan adil. Peserta didik diberi pengertian, bila dalam drama tidak memandang siswa pintar di kelas atau tidak.

Kerjasama dan kemauan untuk menyelesaikan tugas adalah kunci utama. Langkahnya berikutnya ditentukan tema “Kenakalan Remaja”. Tema bisa dikembangkan sendiri menjadi judul dan permasalahan yang diserahkan masing-masing kelompok. Kenakalan Remaja dipilih sambil anak biar bisa belajar dari kesalahan dan mengambil langkah yang tepat agar tidak mengulang kesalahan yang sama.

Di dalam kelompok, siswa menentukan cerita yang akan diangkat sebagai drama. Menulis naskah adalah langkah berikutnya. Setiap anak mempelajari naskah yang telah disiapkan. Pengambilan gambar dilakukan sendiri-sendiri di rumah masing-masing. Kostum disesuaikan dengan jalan cerita.

Setting disesuaikan dengan jalan cerita. Pengambilan gambar yang dilakukan sendiri-sendiri, perlu dipikirkan arah dari wajah. Bila menginginkan wajah yang agak miring ke kiri atau ke kanan, lawan main perlu untuk memikirkan yang kebalikannya.

Baca juga:   Terampil Berbahasa, Cerdas Berliterasi Media Digital

Gambar yang sudah diambil, disatukan oleh salah satu anak untuk disambung-sambung. Perlu ada kerjasama, terutama saat pengambilan gambar. Masing-masing anak harus mengetahui karakter dan dialog yang sesuai dengan naskah karena kemudian akan dirangkai dalam satu kesatuan utuh menjadi jalan cerita drama.

Gambar-gambar yang sudah disatukan, sudah merupakan gambaran dari drama yang dikerjakan. Langkah selanjutnya adalah editing kecil-kecil untuk memperhalus gambar. Ada penambahan musik yang sesuai untuk semakin menambah penjiwaan dan suasana yang sesuai dengan jalan cerita drama.

Pekerjaan siswa ternyata lebih dari yang kita bayangkan. Memang peserta didik lebih senang bila dilakukan dengan aplikasi yang berhubungan dengan teknologi. Tidak lepas dari pegangan mereka, HP.

Mereka sebagian besar merespon dengan baik. Hasil karya berupa drama yang siap dipentaskan dengan daring, ternyata lebih luar biasa. Haru rasanya, dengan adanya keterbatasan tidak adanya tatap muka, sisi positifnya ternyata peserta didik dapat menghasilkan karya yang luar biasa, membuat drama dengan daring. Ternyata pembelajaran drama masih dapat dilakukan walaupun dengan tanpa tatap muka. (ips2/ida)

Guru Bahasa Indonesia SMPN 9 Semarang

Author

Populer

Lainnya