Tantangan Pembelajaran IPS Masa Pandemi Covid-19

Oleh : Tutik Suwarni,S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, KITA telah mengetahui bersama, masa pandemi Covid-19 ini tengah membawa pembelajaran ilmu pengetahuan berkembang ke arah teknologi. Mau-tidak mau, suka-tidak suka kita mengalami masa transisi pada pembelajaran virtual dan lebih terkesan “satu arah.” Hemat penulis, satu arah di sini adalah bentuk konsekuensi dari pembelajaran virtual yang sangat memakan biaya dan menguras waktu bagi pembelajar.

Transformasi ilmu pengetahuan yang harusnya terjadi pada proses yang intens antara pendidik dan peserta didik kini terbatasi oleh media virtual. Pendidik memberikan tugas, siswa memberikan umpan balik begitu terjadi terus menerus dalam media virtual. Tak bisa kita mengelak bahwa pada masa pandemi ini proses transisi ilmu pengetahuan ini dipisahkan oleh tuntutan pembelajaran daring yang hanya mementingkan terselesaikannya capaian pembelajaran dalam sebuah kurikulum (Asa, 2020).

Pernahkah kita menyadari bahwa sisi lain dalam pembelajaran virtual ilmu pengetahuan sosial adalah memudarnya nilai dan norma dalam proses transformasi ilmu pengetahuan. Nilai dan norma yang selama ini selalu berkaitan erat dan berjalan bebarengan dengan proses belajar-mengajar seolah terhenti. Pembelajaran kolaboratif guru-siswa-stakeholder mamasuki jurang pemisah dalam pembelajaran virtual.

Stigma masyarakat yang pada konteks “sekolah belajar daring” terus menerus direprodiksi menjadi sebuah segmentasi guru yang libur. Namun, sebagai agen pembelajar, tentu pendidik tidak boleh menyerah pada keadaan di masa Pandemi. Konstruksi pengetahuan harus tetap dijalankan dengan metode yang sesuai dengan konteks pembelajaran Ilmu Sosial.

Baca juga:   Tingkatkan Percaya Diri melalui Layanan BKp Teknik Diskusi Kelompok

Tugas berat pendidik di mana membuat proses transformasi ilmu pengetahuan menjadi menyenangkan. Mengubah paradigma siswa dimana Ilmu Pengetahuan Sosial adalah ilmu hafalan menjadi ilmu understanding of meaning. Bisa dikatakan ilmu sosial sebagai pilot project ilmu yang “enteng-entengan”. Padahal pada kenyataannya Pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial di tingkat menengah pertama akan menjadikan pijakan bagi individu pembelajar di tingkat menengah atas untuk melanjutkan pendidikan di Pendidikan Tinggi. Bisa jadi cita-cita pembelajar bermula dari kesuksesan pembelajar memahami understanding of meaning terhadap Ilmu Pengetahuan Sosial.

Pembelajaran IPS berkepentingan menjaga semangat berwarganegara yang baik, sehingga harus mampu menyikapi isu-isu global tersebut dengan baik melalui pembelajaran yang lebih bermakna agar mampu meredam dampak negatif isu global yang berkembang, (Sholeh: 2018) .

Bukan Mata Pelajaran UN sebagai agen transfer of knowledge pendidik tentu mempunyai tugas berat dalam memberikan pembelajaran kepada peserta didik di Tingkat Menengah Pertama. Seringkali, Ilmu Pengetahuan Sosial menjadi “nomor sekian” di bawah rumpun ilmu yang lain. Banyaknya materi yang harus diselesaikan dalam sebuah indikator capaian pembelajaran inilah yang sering kali menjadi ketidak-tuntasan dalam penyampaian makna dalam transformasi Ilmu Pengetahuan Sosial. Mengubah paradigma IPS adalah ilmu hafalan menjadi ilmu pemahaman ini yang menjadi tugas berat pendidik. Salah satu solusi terhadap tugas berat tersebut adalah dengan observasi langsung ke lapangan, melihat objek pembelajaran dengan menyentuh objek dengan panca indra secara langsung tentu memudahkan pembelajar untuk memahami pembelajaran IPS. Namun pada masa pembelajaran di era new normal dimana pembatasan pembelajaran melalui dunia virtual kembali memberikan tantangan bagi ilmu sosial dalam merubah menjadi understanding of meaning.

Baca juga:   Penerapan Aplikasi pada Pembelajaran Daring

Sebagai agen perubahan dalam menjawab tantangan pembelajaran Ilmu Pengetahuan Sosial, tentu sebagai guru kita hendaknya memberikan langkah kongkrit. Guru tidak sekedar mendidik dan memberikan materi akademik saja di sekolah, namun lebih dari itu. Guru diharapkan juga dapat menanamkan nilai-nilai positif pada siswa, karena guru merupakan role model bagi para siswanya.Untuk mendukung hal ini, para guru seyogyanya mengokohkan karakter dirinya dalam membangun karakter para siswanya.Seperti yang diterapkan di SMPN 15 Surakarta. (rs1/zal)

Guru SMPN 15 Surakarta

Author

Populer

Lainnya