Model NHT Tingkatkan Keterampilan Berbicara dan Keterampilan Sosial Siswa

Oleh: Theresia Danik Kristanti, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Dalam Pembelajaran Bahasa Indonesia ada 4 macam keterampilan yang wajib dikuasai peserta didik, yaitu keterampilan membaca, menulis, menyimak, dan berbicara. Berdiskusi sering digunakan guru untuk melatih keterampilan berbicara siswa. Kemampuan berbicara siswa digali sehingga siswa mampu menjadi individu yang aktif dan berani dalam mengemukakan gagasan, ide, dan pendapat atau saran yang ingin siswa sampaikan dalam berdiskusi.

Selain mengembangkan keterampilan berbicara siswa, berdiskusi juga mengembangkan keterampilan sosial siswa. Keterampilan yang dimaksud antara lain berbagi tugas, aktif bertanya, menghargai pendapat orang lain, mau menjelaskan ide atau pendapat, bekerja dalam kelompok dan sebagainya.

Untuk meningkatkan dua keterampilan tersebut, model Numbered Head Together (NHT) dapat dijadikan solusi karena merupakan salah satu inovasi pembelajaran kooperatif. Demikian juga yang dilakukan di SMP Negeri 6 Semarang khususnya siswa kelas VIII.

Numbered Head Together (NHT) atau kepala bernomor merupakan model pembelajaran yang melibatkan lebih banyak siswa dalam menelaah materi yang tercakup dalam suatu pelajaran dan mengecek pemahaman mereka terhadap isi pelajaran tersebut. Menurut Trianto (2007:62), NHT merupakan jenis pembelajaran kooperatif yang dirancang untuk mempengaruhi pola interaksi siswa dan sebagai alternatif terhadap struktur kelas tradisional. NHT sebagai model pembelajaran pada dasarnya merupakan sebuah variasi diskusi kelompok dengan ciri khas guru memberi nomor dan hanya menunjuk seorang yang mewakili kelompoknya. Dalam menunjuk siswa tersebut, guru tanpa memberi tahu terlebih dahulu siapa yang akan mewakili kelompok. Cara tersebut akan menjamin keterlibatan semua siswa dan merupakan upaya yang sangat baik untuk meningkatkan tanggung jawab individual dalam diskusi kelompok.

Baca juga:   Integrasi Mapel Solusikan PJJ kreatif

Tahapan dalam pembelajaran Numbered Head Together (NHT) menurut Trianto (2007:62) meliputi penomoran, pengajuan pertanyaan, berpikir bersama, dan pemberian jawaban. Berdasarkan tahapan-tahapan yang ada bisa dibuat tiga langkah dalam pembelajaran NHT. Adapun langkah-langkahnya meliputi pendahuluan, kegiatan inti, dan penutup. Untuk pendahuluan langkah yang dilakukan meliputi guru melakukan apersepsi, guru menjelaskan tentang model NHT, guru menyampaikan tujuan pembelajaran, dan guru memotivasi.

Kegiatan Inti terdiri dari penomoran (guru membagi siswa dalam kelompok yang beranggotakan 8 orang dan kepada setiap anggota diberi nomor 1-8), siswa bergabung dengan anggotanya. Guru mengajukan pertanyaan, siswa berpikir bersama dan menyatukan pendapatnya terhadap jawaban pertanyaan tersebut dan meyakinkan tiap anggota dalam timnya mengetahui jawaban tersebut. Guru memanggil siswa dengan nomor tertentu kemudian siswa yang nomornya sesuai mengacungkan tangannya dan mencoba menjawab atau mempresentasikan hasil diskusi kelompoknya dan kelompok lain boleh berpendapat atau bertanya terhadap hasil diskusi kelompok tersebut. Guru mengamati hasil yang diperoleh dan memberi semangat bagi kelompok yang belum berhasil.

Baca juga:   Penerapan Disiplin Positif untuk Mengurangi Angka Keterlambatan pada Siswa

Sebagai penutup, langkah yang dilakukan meliputi guru bersama siswa menyimpulkan materi yang telah diajarkan, guru memberikan tugas rumah, guru mengingatkan siswa untuk mempelajari kembali materi yang telah diajarkan dan materi selanjutnya.

Kelebihan model NHT menjadikan siswa siap semua, siswa dapat melakukan diskusi dengan sungguh-sungguh, siswa yang pandai dapat mengajari siswa yang kurang pandai. Sedangkan kelemahannya tidak semua anggota kelompok dipanggil oleh guru dan kemungkinan guru memanggil nomor dua kali. Model Numbered Head Together (NHT) dapat meningkatkan keterampilan berbicara dan keterampilan sosial siswa kelas VIII SMP Negeri 6 Semarang. Model ini terbukti mampu membantu siswa dalam menghasilkan prestasi belajar yang lebih tinggi, mengurangi konflik antar pribadi, dan meningkatkan rasa harga diri. (ips1/ton)

Guru Bahasa Indonesia SMP Negeri 6 Semarang

Author

Populer

Lainnya