Belajar IPA lebih menarik dengan Kartu PIPA

Oleh : Soimatussa'diyah,S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pembelajaran IPA berorientasi pada kemampuan aplikatif, pengembangan kemampuan berpikir, kemampuan belajar, rasa ingin tahu, pengembangan sikap peduli serta bertanggungjawab terhadap lingkungan sosial dan alam. Cara pengemasan pengalaman belajar yang dirancang oleh guru sangat berpengaruh terhadap kebermaknaan pengalaman belajar bagi siswa. Suprayekti (2003) menyatakan bahwa tiga unsur utama yang terlibat langsung dalam proses pembelajaran adalah guru, siswa dan materi pembelajaran. Ketiga unsur tersebut harus saling berinteraksi agar tujuan pembelajaran tercapai.

Selain unsur utama, unsur lain yang terlibat dalam proses pembelajaran yaitu media. Hal ini sesuai dengan yang disampaikan oleh Zainal Aqib (2014) bahawa manfaat umum media pembelajaran yaitu agar pembelajaran lebih jelas dan menarik, meningkatkan kualitas hasil belajar, mengatasi sikap pasif siswa dan menumbuhkan sikap positif terhadap proses dan materi belajar.

Beberapa materi IPA merupakan materi yang cakupan pembahasannya cukup luas atau banyak, sehingga siswa sering mengatakan bosan dan kurang termotivasi dalam belajar. Hal ini dikarenakan terlalu banyak materi yang harus mereka ingat, hafal, baca dan pelajari. Oleh karena itu penulis berupaya untuk membuka wawasan siswa pada pengetahuan IPA agar dapat meningkatkan motivasi belajar pada materi yang cakupan pembahasannya cukup luas. Penulis menerapkan model pembelajaran two stay two stray yang diperkenalkan oleh Spencer Kagan pada materi sistem perkembangbiakan tumbuhan dan hewan.

Baca juga:   Permainan Dog Fight pada Pembelajaran Atletik Lari Cepat

Tujuan menggunakan model pembelajaran ini adalah memberi kesempatan kepada kelompok untuk membagikan hasil dan informasi dengan kelompok lainnya yaitu dengan langkah-langkah 1) Siswa bekerja sama dalam kelompok berempat seperti biasa. 2) Setelah selesai dua orang dari masing-masing bertamu kedua kelompok yang lain. 3) Dua orang yang tinggal dalam kelompok bertugas membagikan hasil kerja dan informasi mereka ke tamu mereka. 4) Tamu mohon diri dan kembali ke kelompok mereka dan melaporkan temuan mereka dari kelompok lain. 5) Kelompok mencocokkan dan membahas hasil mereka (Zainal Aqib: 2014).

Agar pembelajaran menjadi lebih jelas dan menarik, penulis membuat media kartu dan menyebutnya sebagai Kartu Pintar IPA atau Kartu PIPA. Satu set kartu PIPA terdiri dari 4 kartu kuartet yang menggambarkan rangkaian materi yang saling terkait mengenai sistem perkembangbiakan tumbuhan dan hewan. Penggunaan kartu tersebut dalam pembelajaran IPA dimainkan seperti permainan kartu kuartet, dimana kartu-kartu yang sudah mencapai kuartet tersebut selanjutnya digunakan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang ada di dalam Lembar Kerja Siswa (LKS).

Baca juga:   Meningkatkan Kemampuan Bahasa Inggris dengan Puisi

Setelah menerapkan model pembelajaran two stay two stray dengan media kartu PIPA pada siswa SMP N 13 Semarang, tempat di mana penulis mengajar diperoleh peningkatan hasil belajar siswa dari rata-rata 59,41 menjadi rata-rata 80,56.

Penggunaan media kartu PIPA dalam pembelajaran ini menjadi hal yang menarik (tidak membosankan), sehingga motivasi belajar siswa meningkat. Peningkatan motivasi belajar ditunjukkan dengan sikap siswa yang terlibat aktif bermain kartu dalam kelompoknya, bekerja sama dalam kelompoknya, antusias bermain dan belajar dengan kartu PIPA, menunjukkan semangat dan keceriaan selama pembelajaran serta ingin mengulang bermain dan belajar dengan Kartu PIPA ketika masih ada sisa waktu. Penerapan model pembelajaran dan penggunaan Kartu Pintar IPA (Kartu PIPA) ini diharapkan dapat menumbuhkan kreativitas guru mata pelajaran IPA dalam upaya mencari model pembelajaran dan media yang tepat serta menarik sesuai dengan materi pembelajaran IPA, sehingga dapat meningkatkan motivasi dan hasil belajar siswa. (ips1/ton)

Guru IPA SMP Negeri 13 Semarang

Author

Populer

Lainnya