Pembelajaran IPS Lebih Efektif dengan Metode Problem Based Learning

Oleh : Sutrinem S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SEKOLAH sebagai lembaga pendidikan formal mempunyai misi mulia untuk menciptakan suasana belajar yang kondusif guna mengembangkan potensi dan semangat peserta didik dan mewujudkan tujuan pendidikan nasional serta menuju Indonesia maju. Ketika teknologi dan pengetahuan belum berkembang, proses pembelajaran berlangsung pada waktu dan tempat dimana kegiatan pembelajaran dilaksanakan. Proses pembelajaran adalah proses komunikasi antarguru dan siswa secara verbal dan guru sebagai media utama penyampaian materi pelajaran.
Pendidikan adalah proses dalam masyarakat yang keberadaannya ada di tengah- tengah masyarakat. Untuk dapat menanamkan sikap dan semangat membangun, terutama sebagai penerus bangsa maka salah satu langkah yang dapat ditempuh adalah melalui pendidikan. Tujuan pendidikan nasional mengharapkan agar lembaga pendidikan menghasilkan yang berhasil dan berprestasi dalam belajarnya. Sebab prestasi belajar mencerminkan kualitas dari seseorang. Sebagian besar guru SMP Negeri 1 Wonosegoro dalam proses belajar mengajar sudah menerapkan model pembelajaran melalui Problem Based Learning (PBL).

Sebelumnya, guru IPS hanya menggunakan model ceramah yang didominasi oleh guru sementara siswa pasif. Untuk selanjutnya, guru menggunakan model PBL. Ternyata siswa antusias untuk aktif mengikuti proses pembelajaran dengan semangat. Terbukti dari pengamatan secara langsung, hasilnya mengalami peningkatan, jika dibandingkan dengan ceramah, dan tanya jawab. Di tingkat paling fundamental, PBL ditandai oleh siswa yang bekerja berpasangan atau dalam kelompok-kelompok kecil untuk menginvestigasi kehidupan nyata yang membingungkan. Oleh karena itu, tipe pembelajaran ini sangat interaktif karena melibatkan semua siswa dalam sebuah tantangan baru yang membingungkan.

Baca juga:   Efektivitas Pembelajaran IPS di Masa Pandemi Covid 19

Menurut Vygotsky (1978, 1994) percaya bahwa intelek berkembang ketika individu menghadapi pengalaman baru dan membingungkan dan ketika mereka berusaha mengatasi diskrepansi yang ditimbulkan oleh pengalaman-pengalaman ini dalam usaha menemukan pemahaman ini. Individu menghubungkan pengetahuan baru dengan pengetahuan sebelumnya dan mengonstruksikan makna baru.
Perspektif Resnick (1987) memberikan dasar pemikiran yang kuat untuk PBL. Ia mengatakan bahwa bentuk pengajaran ini sangat penting untuk menjebatani kesenjangan antara pembelajaran sekolah formal dan kegiatan mental yang lebih praktikal yang terjadi di luar sekolah.

Apabila guru mata pelajaran ingin menerapkan metode PBL dalam proses pembelajaran di kelas, maka berdasarkan pengalaman yang penulis alami, ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu, pertama, usahakan bahwa kondisi kelas dalam keadaan kondusif ketika tiap kelompok menampilkan hasil karya mereka. Jangan biarkan ada siswa yang mengolok-olok atau menertawakan kelompok yang sedang menyelesaikan tugas. Kedua, dorong siswa untuk terus semangat untuk meraih sebuah prestasi yang baik dalam setiap pembelajaran. Ketiga, upayakan untuk meningkatkan aktivitas siswa dengan cara memberikan tugas-tugas wajib yang menarik sekaligus menantang yang berhubungan dengan materi. Tugas-tugas tersebut nantinya harus dinilai. Keempat, gunakan media dan teknik pembelajaran yang tepat agar aktivitas mereka dalam pembelajaran meningkat. Kelima, kegiatan pembelajaran yang menggunakan metode PBL dapat meningkatkan daya tarik, dan menambah tanggung jawab siswa dalam menyelesaikan tugas-tugasnya.

Baca juga:   Metode SQ3R dalam Pembelajaran IPS di SMP Negeri 2 Banyudono

Kesimpulannya, dengan menggunakan metode PBL dapat meningkatkan hasil belajar dan aktivitas belajar siswa dalam pembelajaran IPS di SMP Negeri 1 Wonosegoro. Maka langkah selanjutnya, penulis mengajar dengan menerapkan metode PBL dalam pembelajaran IPS dan mata pelajaran lainnya. (dd2/ida)

Guru IPS SMP Negeri 1 Wonosegoro

Author

Populer

Lainnya