Metode 4M dalam Matematika

Oleh : Sri Sarwitati, S.Pd., SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Matematika adalah salah satu mata pelajaran yang terus menerus menjadi momok yang menakutkan bagi hampir semua siswa, dari mulai jenjang Sekolah Dasar sampai Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan juga SMA. Ketakutan para siswa bukan tanpa alasan, padatnya materi, tingkat kesulitan, berbagai jenis rumus dan penerapannya, bahkan ratusan soal-soal yang harus dipecahkan siswa menjadi beban yang makin lama makin terasa berat. Belum lagi siswa mengeluh soal gurunya yang kurang menarik pada saat belajar Matematika, sehingga siswa menjadi bosan dan tingkat pemahaman siswa bukannya meningkat tetapi tambah menurun.

Kelas VI SD Negeri Cebongan I Salatiga, memiliki siswa yang berjumlah 21. Dalam hal kemampuan berhitung dan pemecahan masalah seputar Matematika, pada penilaian harian Bilangan Bulat, hanya 9 siswa (42,86%) yang memperoleh nilai diatas KKM (70). Berbagai metode sudah dicoba oleh guru tetapi semakin sering dijelaskan, banyak siswa semakin bingung. Setelah guru mencoba mengamati perilaku siswa, kegemaran, dan juga kebiasaan belajar, guru mencobakan metode 4M dalam belajar Matematika. Metode 4M ini merupakan suatu bentuk kegiatan atau proses belajar dengan cara menyenangkan. Siswa tidak menyadari jika sedang belajar. Metode 4M memiliki arti: 1) Mengamati, 2) Mengukur, 3) Menghitung, 4) Menganalisis. Metode ini sebenarnya sudah banyak dikenal banyak guru dan pastinya sudah sering dilakukan, tetapi yang menjadikan berbeda adalah situasi dan kondisi bagaimana metode itu dilakukan. Jika siswa diminta untuk melakukan 4M secara teoretis, maka siswa tidak akan tertarik, tetapi jika dilakukan sambil bermain, siswa akan merasa senang.

Baca juga:   Memahami Makna Kandungan Surah Al-Ma’un dengan Metode Resitasi

Awalnya, guru mengajak siswa keluar dari kelas dan meminta siswa mengamati benda apapun yang menarik bagi siswa. Siswa diminta mencatat nama benda-benda tersebut dalam buku catatannya. Kemudian guru meminta siswa meneritakan tentang benda yang sedang diamatinya dengan cara dan gaya bahasa mereka masing-masing. Setiap siswa diminta menuliskan di buku masing-masing tentang benda tersebut sebelum menceritakannya secara lisan. Setelah kegiatan mengamati selesai, kegiatan dilanjutkan dengan mengukur. Jika benda yang diamati siswa berbentuk persegi, siswa bisa mengukur dengan menggunakan penggaris, tetapi jika bentuknya tidak beraturan, bisa menggunakan tali rafia atau alat ukur lainnya yang dianggap mudah oleh siswa tanpa mengurangi esens dalam mengukur.

Siswa begitu bersemangat ketika melakukan kegiatan mengukur ini dengan beda aslinya. Guru tetap mendampingi dan mengarahkan siswa jika ada yang mengalami kesulitan. Hasil pengukuruan kemudian ditulis dalam buku masing-masing. Guru menyampaikan bahwa ketika sedang mengukur, lakukan tiga kali untuk menghindari kesalahah dalam mengukur. Hasil tiga kali mengukur tersebut kemudian dijumlah dan dibagi dengan angka tiga. Proses ketiga adalah menghitung, dimana siswa diminta untuk menghitung panjang, lebar, dan tinggi benda, kemudian siswa menghitung luas dan volume benda tersebut. Proses yang keempat adalah menganalisis. Paa kegiatan ini, sebenarnya guru hanya ingin memahamkan siswa tentang bilangan bulat. Dari angka-angka yang diperoleh siswa pada saat kegiatan mengukur tadi, siswa tanpa sadar sudah belajar bagaimana mengukur sekaligus dapat menemukan berbagai bilangan bulat. Setelah 4M dilakukan, guru kembali pada materi Bilangan Bulat dan ternyata siswa dengan cepat dapat memahami dan dapat memecahkan soal-soal tentang Bilangan Bulat. Hal ini terlihat dari hasil Penilaian Harian kedua dan ketiga. Pada Penilaian Harian kedua, siswa yang memperoleh nilai diatas KKM ada 15 anak (71,43%), masih ada 6 siswa yang masih keliru pemahaman, dan guru segera mendampingi secara individual. Pada ulangan harian ketiga, 21 siswa (100%) siswa sudah memperoleh nilai di atas KKM. Pengalaman belajar di luar kelas dengan menggunaka benda di sekitar dan dengan metode 4M ini lebih disukai siswa karena siswa merasa senang dan tidak merasa tertekan dalam belajar. (dd1/ton)

Baca juga:   Optimalkan Pembelajaran KPK dan FPB dengan SFE

Guru Kelas VI SD Negeri Cebongan I Salatiga

Author

Populer

Lainnya