Berkolaborasi Menyenangkan Menggunakan Padlet dalam Pelajaran Sejarah Islam

Oleh : Irma Zuhraida, S. Ag.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pelajaran sejarah sering kali membuat siswa malas untuk membacanya, tak jarang siswa menganggap pelajaran sejarah tidak terlalu penting, membosankan, dan sebagainya. Begitu pula dengan siswa SMPN 4 Semarang, dalam setiap KD tarikh/sejarah sering sekali menemui kendala baik dalam memahami maupun menjawab soal-soal, karena ketidaktertarikannya pada pelajaran sejarah yang diajarkan oleh guru.

Sebenarnya apa sih alasan sebagian besar orang ‘membenci’ pelajaran sejarah? 1) Membosankan. Bener banget! Menghapal tanggal, bulan, nama pelaku sejarah, berikut dengan deretan peristiwa-peristiwanya, duh mumet deh kepala! 2) Gaya mengajar guru sejarah yang ‘membosankan’ dan tidak menarik. Okay, mungkin nggak semua guru. Tapi pengalaman saya dulu begitu. Dan pengalaman teman-teman yang share dengan saya. 3) Semua tokoh pahlawan di dalam sejarah tampak sempurna, bahkan terlalu sempurna. Hm… Sepertinya buku sejarah agak alergi memasukkan kesalahan atau ketidaksempurnaan para tokoh. Yang saya maksud, tentu buku sejarah untuk pelajaran di sekolah. 4) Tidak berdampak langsung pada kehidupan. Pelajaran sejarah memang tidak terlihat berdampak langsung pada kehidupan seperti matematika, bahasa, atau sains. Namun tanpa sejarah kita tidak bisa berkaca dan tidak tahu siapa diri kita (https://ellenconny.com/2016/12/26/alasan-kita-benci-pelajaran-sejarah/).

Baca juga:   Meningkatkan Kemantapan Studi Lanjut melalui Virtual Inspiration Class

Menurut Petrik Matanasi dalam artikelnya “Mengapa Pelajaran Sejarah Tak disukai” Oktober 2016. Pelajaran sejarah sebetulnya kaya dengan referensi kehidupan ini. Namun, cara pembelajaran yang penuh hafalan telah menjauhkan sejarah dari generasi muda Indonesia.
Brian Stevi menyatakan, history is far more than just a school lesson. Menurutnya karena biasanya guru yang mengajar kaku dan kuno, cara belajarnya lebih ke arah “hafalan tanggal-tanggal peristiwa tertentu…” alih-alih “bagaimana pendapat kalian tentang peristiwa tertentu…” Lebih jauh lagi beliau mengatakan “Materi yang diajarkan itu – itu saja seperti daur ulang dari SD sampai SMA, monoton, dan seperti hitam-putih (padahal sejarah itu harusnya lebih bijak ditanggapi secara abu – abu)”.

Dari beberapa alasan di atas penulis mencoba mencari cara bagaimana pelajaran sejarah khususnya pada pelajaran Pendidikan Agama Islam yang penulis ajarkan menjadi menarik dan lebih utama disukai siswa. Penulis mencoba menggunakan aplikasi padlet yang mana Padlet adalah aplikasi daring gratis yang paling tepat diilustrasikan sebagai papan tulis daring. Padlet dapat digunakan oleh siswa dan guru untuk mengirim catatan pada halaman yang sama. Catatan yang diposting oleh guru dan siswa dapat berisi tautan, video, gambar, dan file dokumen.

Baca juga:   Mudah Belajar Personal Identity dengan Silent Line-Up

Di sini penulis mengajak siswa berkolaborasi tentang Khulafaur Rasyidin penerus perjuangan Nabi Muhammad Shalallahu alaihi wassalam, penulis memulai dengan menulis pada papan padlet judul materi yang akan dibahas lalu meminta kepada siswa untuk meneruskan urutan sejarahnya, sebelum menulis, siswa terlebih dahulu menulis nama dan nomor absen, mereka akan berlomba-lomba menulis di papan padlet, dan tentunya untuk memulai mereka harus tahu apa yang akan ditulis maka mau tidak mau mereka akan membuka buku pelajaran dan membaca untuk menuangkan tulisan pada papan padlet. Secara tidak langsung mereka mendapatkan dua kali pelajaran yaitu membaca buku paket dan membaca tulisan temannya yang sudah terlebih dahulu menulis di padlet. Hal ini jauh lebih menyenangkan bagi siswa dari pada mendengarkan sekadar ceramah atau membaca ringkasan di buku paket. Dari hasil evaluasipun nilai lebih bagus. (lbs2/ton)

Guru Pendidikan Agama Islam SMP Negeri 4 Semarang

Author

Populer

Lainnya