Mengembangkan Keterampilan Berpikir Kritis melalui Pembelajaran STEM

spot_img

RADARSEMARANG.ID, RADARSEMARANG.ID, Pada masa pandemi covid-19 butuh penyesuaian dalam pembelajaran. Kegiatan belajar mengajar yang biasanya terjadi secara tatap muka dan interaktif, saat ini harus ditempuh secara jarak jauh dengan belajar dari rumah. Pasti tidak mudah dalam menghadapi situasi yang luar biasa. Namun demikian tidak menjadi hambatan, belajar harus tetap berjalan agar anak tetap berkembang secara optimal.

Metode pembelajaran STEM sangat baik untuk kegiatan anak belajar dari rumah di tengah perkembangan era digital. Dalam upaya mengembangkan kemampuan berpikir kritis bagi peserta didik di TK Negeri Pembina Comal, Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang menerapkan pembelajaran Science, Technology, Engineering and Math (STEM). Pembelajaran STEM juga sangat fleksibel untuk pembelajaran dari rumah bersama keluarga. Kegiatannya yang bervariasi dan terkait dengan kehidupan sehari-hari dapat dilakukan semua anak di rumahnya.

Berpikir kritis itu sendiri merupakan kemampuan dalam mengambil keputusan rasional tentang apa yang harus dilakukan atau apa yang harus diyakini (Slavin 2011). Berpikir kritis merupakan bagian dari kemampuan kognitif yang dapat dikembangkan sejak dini. Berpikir kritis pada anak usia dini merupakan salah satu keterampilan dasar yang dapat membantu anak dalam mengenal diri dan lingkungannya, serta mengembangkan kemampuan memecahkan masalah. Berpikir kritis salah satunya dapat dikembangkan melalui dialog-dialog yang mengandung pertanyaan mendalam terkait dengan suatu objek atau permasalahan tertentu (Cáceres et al. , 2020). Mengajukan pertaanyaan dengan tujuan untuk mendapatkan pemahaman yang utuh terhadap suatu hal juga secara langsung dapat menumbuhkan kemampuan critical thinking (Cleovoulou & Beach, 2019).

Baca juga:   Melatih Kemandirian Anak dengan Cara Pembiasaan

Menurut Sanders (2009: 21), STEM adalah pendekatan pembelajaran yang menggabungkan dua atau lebih bidang ilmu yang termuat dalam STEM, dan atau antara bidang ilmu yang termuat dalam STEM dengan satu atau lebih mata pelajaran sekolah lainnya. Tsupors (2009) dalam Winarni (2016: 978), menyatakan bahwa STEM sebagai pendekatan interdisipliner untuk belajar dimana konsep akademis yang ketat digabungkan dengan pelajaran dunia nyata. Berdasarkan paparan penjelasan di atas, pendekatn STEM adalah suatu pembelajaran yang terintegrasi antara sains, teknologi, teknik dan matematika untuk mengembangkan kreativitas anak melalui proses pemecahan masalah dalam kehidupan sehari-hari.

Pendidikan berbasis STEM berfokus pada aspek kolaborasi, komunikasi, riset, mencari solusi, berpikir kritis dan kreatif. Jadi, walaupun diterapkan pada ilmu eksakta, unsur sosialnya tetap ada terutama bila anak belajar dalam kelompok. Ia akan belajar bagaimana berkomunikasi dengan baik dan bekerja sama dalam tim.

Untuk membangun konsep berpikirnya,orang tua bisa dengan mengajak anak ke pedesaan, sawah, atau pegunungan untuk membantunya mempelajari alam. Dengan biaya minim dan peralatan seadanya, anak sudah bisa menjadi ilmuwan cilik. Contoh, saat ibu menyeduh susu untuk anak, ibu bisa mengenalkan konsep panas dan dingin padanya. Atau ketika ibu memasak sup, anak bisa dikenalkan pada beragam sayuran, diajari mengelompokkannya, menentukan ukuran, dan urutan memasak.

Baca juga:   Bermain Musik di Dapur

STEM bukan tentang mengajarkan teknologi saja, tapi juga membangkitkan kemampuan berpikir ilmiah. Anak diajak mengumpulkan data, lalu melaporkan kembali. Dengan begitu, anak belajar konsep apapun akan lebih mudah. Dengan panduan dari orang tua dan guru, anak dilatih untuk berbicara secara runtut tentang pengamatan dan penelitian yang dilakukan. Kemampuan dalam berbahasa dapat berkembang melalui pembelajaran ini. Maka saat ini pembelajaran STEM sangat populer diterapkan di PAUD melihat manfaatnya yang begitu besar bagi perkembangan anak usia dini. (gb2/ton)

Guru TK Negeri Pembina Kec. Comal Kab. Pemalang

Author

Populer

Lainnya