Tantangan Mendidik Generasi Alpha di saat Pandemi Covid-19

Oleh : Nur Ervannudin, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI Covid-19 yang sudah terjadi satu setengah tahun lebih melanda dunia tak terkecuali Indonesia yang tidak luput dari wabah ini. Semua sendi sendi kehidupan mengalami gangguan bahkan hambatan. Mulai dari social, ekonomi tidak ketinggalan dunia pendidikan. Sejak ditetapkannya Indonesia darurat akan wabah ini semua seolah gagap dan mengambil kebijakan untuk menekan mobilitas manusia yang memang diyakini bisa menekan angka penyebaran virus.

Semua orang tak menyangka kondisi dunia akan seperti ini. Apa-apa harus dibatasi dan harus mengurangi kontak fisik satu sama lain. Namun, semua sudah terjadi tidak bisa kita memutar kebelakang. Tidak ada pilihan lain, selain kita harus menghadapi sehingga kita bisa dari situasi serba sulit ini. Namanya kondisi yang luar biasa maka harus dihadapi dengan cara yang luar biasa pula.

Berbicara dunia pendidikan seolah semua dipaksa untuk menyelenggarakan PJJ (Pembelajaran Jarak Jauh) yang sebelumnya banyak yang belum memahami apalagi menggunakan system ini. Namun karena situasi yang mendesak maka harus tetap dilaksanakan. Ada yang dengan sigap tanggap namun tidak sedikit juga yang terengah-engah menyelenggarakan PJJ secara ideal.

Kondisi semakin sulit karena banyak guru yang masih gagap teknologi dan yang dihadapi kebanyakan adalah anak anak generasi alpha. Ya, anak anak sekarang menurut mark Mc Crindle adalah generasi Alpha. Generasi ini memiliki ciri ciri lahir pada medio 2011 – 2025 sehingga semenjak lahir sudah sangat akrab dengan teknologi komunikasi dan informasi. Generasi alpha yang sudah sejak lahir kenal dengan teknologi internet maka mengakibatkan generasi ini kurang bersosialisasi, kurang daya kreativitas dan bersikap individualis.

Baca juga:   Paradoks Marginalisasi Guru Honorer

Siapkah guru guru kita dan orangtua zaman sekarang menghadapi tantangan ini? Situasi memang semakin pelik. Namun kita tidak boleh putus asa dan menyerah. Di tengah kondisi seperti ini pasti ada jalan untuk menghadapinya. Sehingga generasi alpha bisa menjadi generasi yang dibanggakan. Ada beberapa hal yang bisa guru dan orangtua lakukan untuk menghadapi generasi alpha khususnya dalam kondisi pandemic seperti ini.

Pertama, melihat ciri utama generasi ini adalah sangat dekat dengan teknologi maka kita juga harus akrab dengan teknologi. Kit tidak bisa menutup mata dan menolak teknologi. Justru dengan teknologi sebagai senjata kita menghadapi dan mengarahkan generasi ini kea rah yang lebih baik.

Teknologi harus dimanfaatkan untuk hal kebaikan untuk anak anak kita. Sebagai contoh dengan teknologi bisa kita gunakan untuk mencari informasi informasi yang sesuai dengan umur anak yang dikemas dengan menarik dan segar. Guru harus bisa membuat konten yang menarik sehingga anak tidak bosan dalam belajar. Apalagi tidak ada kegiatan tatap muka.

Kedua, anak generasi alpha karena sudah sejak kecil mengenal teknologi dan hal hal yang berbau instan secara tidak sadar alam sadarnya menjadikan sifat tidak mau bersusah payah mendapatkan sesuatu semakin dominan. Sebagai guru dan orangtua hal ini tidak boleh diperturutkan dengan dalih apapun termasuk karena ingin anaknya agar diam dalam menangis ketika minta gawai untuk main game online.

Baca juga:   Home Visit, Alternatif Kegiatan Pembelajaran AUD Masa Pandemi

Sebagai gantinya guru dan orang tua harus mendesain kegiatan belajar yang menantang dan menggairahkan. Hal ini bisa menggunakan berbagai platform kuis online. Dengan demikian anak akan bertanggungjawab dan bisa mematuhi kesepakatan.
Ketiga, dampak sosial sangat terasa dari generasi ini. Perasaan acuh dan tidak memedulikan lingkungan sekitar. Seolah mereka mempunyai dunia sendiri dan asyik dengan dunianya. Pembelajaran dan kegiatan kolaborasi harus sering digiatkan.
Rasa empati untuk berbagi bisa menjadi hal yang bisa dilakukan. Apalagi kondisi pandemic seperti ini merupakan moment yang tepat. Mengajak anak untuk berbagi kepada sesame sehingga bisa meringankan adalah cara sederhana yang bisa dilakukan. Didik anak untuk mendapatkan kesenangan ketika membantu sesame.

Keempat, daya kreativitas yang menurun bisa saja dialami. Hal ini dikarenakan semua hal seolah bisa dicukupi dengan gawai yang dalam genggaman. Sehingga aktivitas fisik tanpa melibatkan gawai juga bisa digunakan untuk menyeimbangkan kegiatan si kecil. Menggambar mewarnai bisa sebagai alternatif kegiatan yang bisa dilakukan. Selain itu berolahraga juga bisa dilakukan.
Sebagai tambahan perasaan bangga akan sebuah pencapaian juga harus ditanamkan sejak kecil sehingga bisa selalu semangat. Reward dan punishment juga perlu diberikan kepada anak anak generasi alpha. Mereka juga harus berani bertanggungjawab terhadap apa yang mereka lakukan. Akhlak dan sikap dari norma agama menjadi titik puncak yang harus ditanamkan sejak kecil. Seperti yang diterapkan di SDIT MTA Sukoharjo. (*/zal)

Guru SDIT MTA Sukoharjo

Author

Populer

Lainnya