RME Atasi Kebosanan Siswa saat BDR

Oleh: Sutarjo Ragil Nugroho, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, BDR merupakan istilah yang tidak asing lagi bagi kita khususnya guru, siswa dan wali murid. Sejak mewabahnya Covid-19 di Indonesia tahun lalu, pemerintah memutuskan untuk meniadakan pembelajaran tatap muka di sekolah guna mengurangi resiko penularan. Berbagai cara dilakukan guru agar materi pelajaran tersampaikan dan dapat diterima siswa dengan baik. Kebosanan saat BDR juga dialami oleh siswa kelas V SD Negeri Sidorejo Lor 04 Salatiga dimana penulis mengajar. Rasa bosan siswa akan meningkat saat mereka harus belajar Matematika. Salah satu cara untuk mengatasi kebosanan siswa kelas V SD Negeri Sidorejo Lor 04 saat BDR adalah dengan menerapkan RME (Realistic Mathematics Education) atau dikenal dengan Pembelajaran Matematika Realistik.

Menurut (Daitin Tarigan, 2006:4), RME adalah pendekatan yang orientasinya menuju penalaran siswa yang bersifat realistik dan ditujukan kepada pengembangan pola pikir praktis, logis, kritis dan jujur dengan berorientasi pada penalaran dalam menyelesaikan masalah. Penulis menerapkan RME ini pada materi pembelajaran Matematika di kelas V semester II KD 3.8. Menjelaskan penyajian data yang berkaitan dengan diri peserta didik dan membandingkan dengan data dari lingkungan sekitar dalam bentuk daftar, tabel, diagram gambar (piktogram), diagram batang atau diagram garis. Indikator yang ingin dicapai pada kegiatan ini adalah: Mengumpulkan data melalui wawancara dari lingkungan sekitar. Menyajikan data hasil wawancara dalam bentuk daftar, tabel, diagram gambar (piktogram), diagram batang atau diagram garis.

Langkah-langkah pembelajaran dengan menggunakan RME sebagai berikut: Pertama, guru memotivasi siswa unuk memfokuskan perhatian siswa. Kegiatan ini diisi dengan guru bertanya “apa cita-cita kalian?”, “adakah yang ingin menjadi wartawan?”, “apa tugas seorang wartawan?”. Setelah siswa menjawab pertanyaan guru tersebut kemudian guru menyampaikan cerita ilustrasi bahwa berita yang sering kita tonton di televisi atau dibaca di koran dan majalah merupakan hasil kerja seorang wartawan. Wartawan mengumpulkan informasi atau data dari narasumber melului wawancara, setelah data dirasa cukup kemudian data tersebut disajikan kedalam bentuk berita sehingga informasi dapat diterima oleh para pemirsa atau pembaca.

Baca juga:   Karakteristik Pertanyaan Efektif dalam Matematika

Kedua, Mengkomunikasikan tujuan pembelajaran. Guru menyampaikan tujuan pembelajaran yang ingin dicapai yaitu: Melalui wawancara, siswa dapat mengumpulkan data dari lingkungan sekitar dengan benar. Siswa dituntut untuk dapat melakukan wawancara untuk mengumpulkan data dari lingkungan sekitarnya. Menyajikan data hasil wawancara dalam bentuk daftar, tabel, diagram gambar (piktogram), diagram batang atau diagram garis. Setelah data dari hasil wawancara terkumpul, mereka harus dapat menyajikannya dalam bentuk tabel, diagram gambar, diagram batang dan diagram garis.

Ketiga, mengajukan masalah (soal) yang riil sehingga siswa terlibat dalam pembelajaran bermakna. Guru meminta siswa melakukan wawancara untuk mengumpulkan data berupa berat badan, tinggi badan, umur, jenis kelamin dan pekerjaan. Adapun yang menjadi narasumber adalah orang yang ada di lingkungan sekitar siswa, baik itu keluarga, teman sekelas maupun tetangga disekitarnya. Jumlah narasumber yang harus diwawancarai oleh siswa ditentukan sebanyak dua puluh orang. Siswa diingatkan selama melakukan wawancara agar selalu menerapkan protokol kesehatan.

Keempat, Siswa mengembangkan model-model simbolik. Data hasil wawancara yang siswa lakukan mereka sajikan kedalam bentuk tabel. Melalui tabel yang disajikan, orang lain dapat membaca informasi yang ada di dalamnya meliputi umur, tinggi badan, berat badan, jenis kelamin, dan pekerjaan. Berdasarkan data yang ada dalam tabel, siswa kemudian menggolahnya dan menyajikan data-data tersebut kedalam berbagai bentuk diagram, meliputi diagran gambar, diagram batang dan diagram garis. Penyajian data dalam bentuk diagram gambar (piktogram) diserahkan sepenuhnya sesuai kreativitas siswa. Siswa bebas memberikan simbol sesuai keinginan mereka, begitu pula untuk diagram batang dan diagram garis, siswa bebas menentukan rentang nilai yang akan mereka sajikan.

Baca juga:   Menjadi Guru, Profesi Atau Pelayanan?

Kelima, siswa menjelaskan dan memberi alasan. Setelah penyajian data dalam bentuk diagram selesai, mereka mengumpulkan tugas mereka melalui WhatsApp grup. Di sini guru dan siswa yang lain membaca dan mencoba memahami informasi yang disajikan, sementara siswa bersangkutan harus bisa menjelaskan dan memberi alasan apabila ada teman atau guru yang mengajukan pertanyaan. Teman dan guru juga dapat memberikan masukan terhadap penyajian data yang disampaikan, sehingga terjadi diskusi yang menghasilkan satu kesepakatan.

Melalui kegiatan ini siswa lebih antusias belajar, mereka lebih tertarik dan bersemangat dalam mengikuti pembelajaran. Hal ini dibuktikan dengan pengumpulan tugas yang relatif cepat, seluruh siswa mengumpulkan tugasnya sebelum batas waktu yang ditentukan habis. Suasana pembelajaran lebih menyenangkan dengan memberikan pengalaman belajar yang menantang dan bermakna sesuai dengan pengalaman siswa dalam kehidupan sehari-hari di lingkungan mereka. Penulis menyimpulkan melalui penerapan RME dapat mengatasi kebosanan siswa saat belajar dari rumah. (ss1/zal)

Guru SDN Sidorejo Lor 04, Salatiga

Author

Populer

Lainnya