Belajar Bilangan Pecahan pada Soal Cerita Lebih Menyenangkan dengan Model CTL

Oleh : Siti Duwi Umayah, S.Pd.SD.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Menurut Ibnu Setiawan (2007 : 65), Contextual Teaching and Learning (CTL) adalah pembelajaran menggunakan pendekatan kontekstual merupakan konsepsi belajar yang membantu guru mengaitkan konten mata pelajaran dengan dunia nyata dan memotivasi siswa membuat hubungan antara pengetahuan dan penerapannya dalam kehdupan mereka sebagai anggota kelurga dan warga negara. Pembelajaran kontekstual mengakui bahwa pembelajaran merupakan suatu proses kompleks dan banyak fase yang berlangsung jauh melampaui drill-oriented dan metodologi stimulus-and-response.

Kemampuan memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan di kelas VI SDN 02 Sumublor selama ini masih rendah. Kekurangberhasilan pembelajaran memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan tersebut disebabkan banyak faktor diantaranya adalah faktor siswa dan guru. Pembelajaran memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan yang berlangsung di Sekolah Dasar selama ini masih bersifat teoritis, monoton, dan membosankan. Masih banyak guru yang mengajar dengan mengandalkan metode ceramah yang hanya menitikberatkan materi memesahkan masalah pada soal cerita pada ranah pengetahuan (ingatan) saja.

Model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL) diyakini dapat mengatasi permasalahan tersebut karena pembelajaran Kooperatif merupakan salah satu bentuk pembelajaran yang didasarkan pada teori kontruktivisme. Adapun langkah-langkah dalam model CTL adalah sebagai berikut: Siswa dibagi menjadi beberapa kelompok, kemudian setiap kelompok diberi tugas yang berbeda-beda, kelompok 1 tugasnya tentang penjumlahan dan pengurangan pecahan yang dikaitkan dengan kehidupan sehari-hari, kelompok 2 tentang pembagian bilangan pecahan dan seterusnya. Setiap kelompok maju secara bergiliran untuk mempersentasikan hasilnya.

Baca juga:   Meningkatkan Aktivitas Gerak Lokomotor dengan Media Lagu dan Bola Tenis

Nilai rata-rata kemampuan memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan siswa sebelum dilaksanakan penelitian sebesar 55 dengan jumlah siswa tuntas hanya 5 anak atau 22 %. Analisis kolaboratif menyimpulkan bahwa kondisi yang demikian disebabkan karena pembelajaran memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan menggunakan metode ceramah yang hanya bersifat teoritis, monoton, dan menjemukan. Untuk mengatasi masalah tersebut adalah dengan menerapkan model pembelajaran Contextual Teaching and Learning (CTL).

Pada siklus 1 ini siswa dibagi dalam 4 kelompok besar dengan jumlah siswa tiap kelompok terdiri dari 5-6 siswa. Pada siklus ini menitik beratkan pada proses memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan yang melibatkan operasi hitung tentang penjumlahan, pengurangan, dan perkalian (belum pada operasi hitung campuran). Refleksi tindakan siklus 1 menunjukan bahwa diskusi kelompok belum berjalan secara optimal karena siswa kurang berinteraksi dalam kelomok. Meskipun demikian dari hasil pengamatan menunjukan bahwa hasil belajar siswa muli ada peningkatan. Ada 11 siswa telah berhasil mencapai KKM (60) dengan prosentase ketuntasan 21% dan nilai rata-rata 55. Sedangkan 18 siswa atau 79% masih kesulitan memecahkan masalh pada soal cerita bilangan pecahan pada akhir siklus 1. Namun demikian untuk mencapai ketuntasan yang ideal 75% perlu dilaksanakan tindakan berikutnya pada siklus dua (2).

Baca juga:   Karakteristik Pertanyaan Efektif dalam Matematika

Pada siklus dua menitikberatkan pada proses memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan yang melibatkan operasi hitung tentang pembagian, dan operasi hitung campuran, siswa dibagi menjadi 7 kelompok, tiap kelompok terdiri dari 2 sampai 3 siswa. Ternyata siswa nampak antusias berlatih memecahkan masalah pada soal cerita bilangan pecahan dengan menggunakan soal-soal cerita bilangan pecahan. Tiap tahap pada siklus ke-2 ini berupaya menyempurnakan hal-hal yang belum baik pada siklus pertama. Hal ini dapat dilaihat dari hasil belajar siswa yang meningkat yaitu : pada siklus pertama rata-rata nilai hanya mencapai 55 pada siklus kedua meningkat menjadi 86,20. Hanya satu siswa yang belum mencapai KKM. Dengan persentase ketuntasan 96%, yang belum tuntas 4%. (ss1/ton)

Guru SD Negeri 02 Sumublor, Kec. Sragi, Kab. Pekalongan

Author

Populer

Lainnya