Asyiknya Belajar Sistem Starter dengan Teams Games Tournament

Oleh : Nurhayadin, S. Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Sistem starter merupakan salah satu kompetensi dasar yang terdapat pada mata pelajaran Pemeliharaan Kelistrikan Kendaraan Ringan (PKKR) yang harus dikuasai oleh siswa kompetensi keahlian Teknik Kendaraan Ringan Otomotif (TKRO).

Kompetensi dasar sistem starter oleh siswa masih dianggap sebagai salah satu kompetensi dasar yang sulit terlalu teoritis sehingga membuat siswa bingung dan takut mengikuti kegiatan pembelajaran. Hal ini juga dialami oleh siswa kelas XI TKRO3 SMK Negeri Karangpucung. Penggunaan model pembelajaran kooperatif merupakan salah satu cara untuk mengatasi kesulitan belajar siswa. Karena dengan model pembelajaran kooperatif dapat membuat siswa ikut berpartisipasi aktif dalam kegiatan pembelajaran, sehingga kegiatan pembelajaran berjalan maksimal, tidak monoton, tidak membosankan serta kesan siswa belajar itu sulit dapat dihilangkan. Dari permasalahan tersebut penulis memandang perlu untuk menerapkan model pembelajaran kooperatif Teams Games Tournaments (TGT) pada kompetensi dasar sistem starter untuk mengatasi kesulatan belajar siswa kelas XI TKRO3 SMK Negeri Karangpucung.

Menurut Slavin (2005:163) Teams Games Tournaments (TGT) adalah model pembelajaran kooperatif menggunakan turnamen akademik dan menggunakan kuis-kuis, dimana para siswa berlomba sebagai wakil tim mereka dengan anggota tim lain yang kinerja akademik sebelumnya setara seperti mereka.

Baca juga:   Tugas atau Challenge?

Sementara itu menurut Saco (2006:62), Teams Games Tournaments (TGT) adalah pembelajaran dimana siswa memainkan permainan-permainan dengan anggota-anggota tim lain untuk memperoleh skor bagi tim mereka masing-masing.

Langkah-langkah pembelajaran menggunakan model Teams Games Tournament (TGT) menurut Taniredja, dkk (2014 : 70-72) yaitu: pertama penyajian kelas. Pada awal pembelajaran guru menyampaikan materi dengan metode ceramah, atau klasikal yang diiringi diskusi pelajaran untuk memperdalam, mengulas, dan mempelajari materi secara kooperatif, agar siswa harus benar-benar memahami materi sebagai bekal saat kerja kelompok dan pada saat permainan.

Kedua, kelompok (team). Guru membentuk kelompok yang beranggotakan 3 sampai 4 siswa, kemudian siswa pada masing- masing kelompok mendiskusikan materi yang sammpaikan guru. Dalam kelompok terjadi diskusi untuk memecahkan masalah bersama, saling memberikan jawaban dan mengoreksi jika ada anggota kelompok yang salah dalam menjawab.

Ketiga permainan (game). Permainan dimainkan pada meja turnamen atau lomba oleh 3 orang siswa yang mewakili kelompoknya masing-masing. Siswa memilih kartu bernomor dan mencoba menjawab pertanyaan yang sesuai dengan nomor itu.
Siswa yang menjawab benar pertanyaan itu akan mendapat skor. Skor ini yang nantinya dikumpulkan siswa untuk turnamen atau lomba mingguan. Keempat pertandingan (tournament).

Pertandingan dilakukan untuk mengetahui kelompok yang biasa mendapatkan nilai terbaik guna meperoleh penghargaan kelompok. Langkahnya yaitu guru membagi siswa ke dalam beberapa meja turnamen, siswa yang ada di meja turnamen mengambil nomor kartu dan jawaban sesuai dengan nomor kartu. Apabila ada siswa yang mengambil nomor kartu tidak biasa menjawab pertanyaan, maka pertanyaan biasa dilempar ke teman lainnya dalam satu meja turnamen sesuai dengan urutan yang telah disepakati, siswa yang menjawab dengan benar berhak menyimpan kartu tersebut.

Baca juga:   Tingkatkan Pendidikan Karakter Siswa melalui Pembelajaran Cerpen

Kartu yang didapat akan dijadikan skor untuk mendapatkan penghargaan kelompok. Kelima penghargaan kelompok (team recognition). Guru mengumumkan kelompok yang menang dalam turnamen dan masing-masing kelompok akan mendapat sertifikat. Pemberian penghargaan tiap kelompok didasarkan pada perolehan skor kelompok pada lembar kartu permainan setiap anggotanya.
Melalui penerapan model pembelajaran Teams Games Tournament (TGT) siswa menjadi lebih mudah memahami materi kompetensi dasar sistem starter karena kegiatan pembelajaran tersebut mengutamakan kerja kelompok dan kemampuan menyatukan intelegensi siswa yang berbeda- beda.

Sehingga dapat membuat siswa mempunyai kemampuan atau nilai dalam segi kognitif, efektif dan psikomotor secara merata satu siswa dengan siswa yang lain. (agu2/lis)

Guru Produktif TKRO SMKN Karangpucung, Kabupaten Cilacap

Author

Populer

Lainnya