Multi Level Learning Alternatif Pembelajaran IPS di Era PJJ

Oleh : Darus Irfangi S.Pd M.Si

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SELAMA pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring IPS di kelas IX SMP Negeri 11 Semarang tahun ajaran 2020/2021 masih ditemui banyak kendala. Mulai dari pembelajaran kurang kondusif, sedikit peserta didik yang respon, dominasi siswa tertentu, rendahnya minat dan kreativitas yang pada gilirannya mempengaruhi hasil akhir dalam penguasaan konsep maupun dalam penerapan di kehidupan sehari-hari. Sejalan dengan penerapan kurikulum 2013 dengan penguatan pendidikan karakter dan ketrampilan abad 21, perlu dicarikan alternative lain agar pembelajaran lebih menarik.

Berkaitan dengan masalah tersebut, penulis menerapkan pendekatan Multi Level Learning (MLL) sebagai solusinya. Model ini merupakan pengembangan dari cooperative learning maupun peer teaching atau model tutor sebaya. Penerapan ini muncul dilatarbelakangi dan terinspirasi dari model jaringan bisnis Multi Level Marketing (MLM) yang pernah penulis ikuti pada saat kuliah dulu.

Menurut Harefa (2000), MLM merupakan sistem penjualan atau pemasaran langsung atas suatu produk, baik berupa barang maupun jasa pada konsumennya, sehingga biaya distribusi yang dikeluarkan dari barang yang dijual atau dipasarkannya tersebut sangat minim. Bahkan hingga titik nol. Dalam konsep MLM terdapat sinergitas antara atasan (Top Up) dan bawahan (Bottom Up). Mengacu dari model bisnis MLM, maka model MLL adalah model pembelajaran dengan memanfaatkan jaringan. Peserta didik dengan tingkat penguasaan tinggi dikelompokkan sebagai atasan, untuk mencari bawahan sebanyak-banyaknya dari siswa yang tingkat penguasaan materi di bawah kriteria ketuntasan minimal (KKM). Istilah kelompok atas diganti dengan mitra dan kelompok bawah submitra. Kelompok mitra yang mampu mencari keanggotaan ditandai dengan jumlah siswa yang semakin meningkat. Dalam keterlibatan pembelajaran, akan diberi bonus tambahan nilai.

Baca juga:   Membumikan Ideologi Pancasila Kepada Generasi Muda melalui Pembelajaran PPKn

Model tersebut saya praktikkan dalam pembelajaran di kelas IX SMP Negeri 11 Semarang semester Gasal tahun ajaran 2020/2021 dalam pembelajaran PJJ pada KD 3.4. Penerapan pembelajaran dengan model MLL sebagai berikut, pertama, guru menjelaskan tentang KD, materi, media, tujuan, dan lembar kerja pada pertemuan tersebut. Sehingga peserta didik memiliki gambaran tentang skenario pembelajaran. Kedua, di akhir pembelajaran, guru memberikan evaluasi sebanyak dua kali sebagai langkah awal pemetaan kelompok mitra dan submitra. Ketiga, membentuk grup kelompok mitra, dijelaskan langkah-langkah kinerjanya. Setiap submitra hanya boleh menjadi anggota satu mitra. Keempat, kelompok mitra dengan berbagai promosinya mencari anggota dari submitra sebanyak-banyaknya, dicatat, diajak diskusi tentang materi pembelajaran semacam tutor sebaya dan melaporkan setiap saat kepada guru. Kelima, guru mencatat masing-masing perolehan dari mitra. Keenam, hal yang terjadi dalam pembelajaran berikutnya, jumlah anak yang merespon semakin banyak, semakin menarik, dan terjadi persaingan antarmitra. Ketujuh. Di akhir pembelajaran diadakan refleksi untuk mengetahui kekurangan dan solusi pemecahannya. Kedelapan, setelah materi selesai dan evaluasi tingkat keterlibatan, keaktifan, maupun tingkat ketuntasan mengalami peningkatan. Cara ini saya terapkan dalam PJJ sesuai dengan kondisi era Covid-19. Yang terjadi dalam proses pembelajaran adalah lebih kondusif, minat meningkat, peserta didik lebih aktif, yang terlibat semakin banyak, tumbuh semangat berpikir kritis dan kreatif, tumbuh keberanian berpendapat, dan tumbuh budaya kompetitif. Pada tahap evaluasi terjadi peningkatan rata-rata nilai maupun jumlah peserta didik yang mencapai batas ketuntasan minimal (KKM). Di sisi lain memberikan pemahaman ke peserta didik, bahwa hidup ini lebih indah dan bermakna jika saling membantu dan saling asah, asih, dan asuh.

Baca juga:   Bahasa Jawa Tanamkan Kesantunan pada Siswa

Dengan demikian, penerapan MLL dalam proses pembelajaran IPS tahun ajaran 2020/2021 mampu meningkatkan minat, antusias, kondusif, kreativitas meningkat, serta mampu meningkatkan pemahaman peserta didik terhadap materi pembelajaran. Lebih jauh penerapan model tersebut, sejalan dengan tujuan pembelajaran IPS yaitu membekali peserta didik agar mampu berinteraksi, menghargai orang lain, memiliki kecakapan dalam mengolah dan menerapkan informasi secara cerdas, serta penguasaan secara komprehensif ranah kognitif, afektif, dan psikomotorik, sehingga pada masanya akan terbentuk generasi dengan sumber daya manusia yang berkualitas, kritis, dan menghargai perbedaan. (ipa2/ida)

Guru IPS SMP Negeri 11 Semarang

Author

Populer

Lainnya