Meningkatkan Hasil Belajar Perkembangbiakan Makhluk Hidup dengan Jigsaw

Oleh : A. Saihu, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Guru mempunyai kewajiban untuk menciptakan suasana pendidikan yang bermakna, menyenangkan, kreatif, dinamis, dan dialogis (UU No. 20 tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional pasal 20 ayat 2a).

Dalam melaksanakan tugas keprofesionalannya, guru berkewajiban untuk merencanakan pembelajaran, melaksanakan proses pembelajaran yang bermutu, serta menilai dan mengevaluasi hasil pembelajaran (Undang-Undang Nomor 14 tahun 2005 Guru dan Dosen pasal 20).

Dengan pembelajaran yang bermutu dan menyenangkan, diharapkan tujuan pembelajaran setiap mata pelajaran dapat tercapai dengan optimal yang bermuara pada terwujudnya tujuan pendidikan nasional.

Proses pembelajaran pada satuan pendidikan diselenggarakan secara interaktif, inspiratif, menyenangkan, menantang, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif serta memberikan ruang yang cukup bagi prakarsa, kreatifitas dan kemandirian sesuai dengan bakat, minat dan perkembangan fisik serta psikologis peserta didik (PP No. 19 Tahun 2005 pasal 19).

Salah satu tujuan pembelajaran muatan pelajaran Ilmu Pengetahuan Alam (IPA) kelas VI SD Negeri 2 Krasak, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara adalah mendeskripsikan perkembangbiakan makhluk hidup. Masih ada siswa yang tidak tertarik dan menyukai pelajaran IPA. Kenyataan tersebut dipengaruhi oleh model pembelajaran yang digunakan guru. Pembelajaran yang dilaksanakan masih monoton dan tidak menantang siswa untuk belajar IPA. Akibatnya siswa kurang termotivasi dan tidak berperan aktif dalam pembelajaran sehingga hasil belajarnya menjadi rendah. Untuk menciptakan pembelajaran yang menarik, salah satunya dengan menerapkan model pembelajaran jigsaw.

Baca juga:   Pembelajaran Materi Segitiga dengan Team Game Tournament

Model pembelajaran tipe jigsaw pertama kali dikembangkan dan diujicobakan oleh Elliot Aronson, Blaney, Stephen, Sikes, dan Snapp pada tahun 1978 di Universitas Texas, dan kemudian diadaptasi oleh Slavin dan teman-teman di Universitas John Hopkins (Arends, 2001).

Pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah suatu tipe pembelajaran kooperatif yang terdiri dari beberapa anggota dalam satu kelompok yang bertanggung jawab atas penguasaan bagian materi belajar dan mampu mengajarkan materi tersebut kepada anggota lain dalam kelompoknya (Arends, 1997). Model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw merupakan model pembelajaran kooperatif dimana siswa belajar dalam kelompok kecil yang terdiri dari 4 – 6 orang secara heterogen dan bekerja sama saling ketergantungan yang positif dan bertanggung jawab atas ketuntasan bagian materi pelajaran yang harus dipelajari dan menyampaikan materi tersebut kepada anggota kelompok yang lain (Arends, 1997).

Langkah-langkah model pembelajaran kooperatif tipe jigsaw adalah sebagai berikut : guru membagi kelas menjadi beberapa kelompok. Tiap kelompok terdiri dari 4 – 6 siswa dengan kemampuan berbeda (kelompok asal). Jumlah anggota kelompok asal menyesuaikan dengan jumlah bagian materi yang akan dipelajari siswa. Setiap siswa diberi tugas mempelajari salah satu bagian materi tersebut.
Semua siswa yang mendapat tugas materi yang sama bergabung membentuk kelompok ahli. Dalam kelompok ahli, siswa mendiskusikan bagian materi pembelajaran yang sama, serta menyusun rencana bagaimana menyampaikan kepada temannya jika kembali ke kelompok asal. Kelompok asal ini oleh Aronson disebut kelompok Jigsaw (gigi gergaji).

Baca juga:   Belajar Toleransi dari Permainan Tradisional Anak

Setelah berdiskusi dalam kelompok ahli, anggota kembali ke kelompok masing-masing. Kemudian secara bergantian, tiap anggota kelompok yang telah menjadi ahli, mengajar temannya dalam kelompok asal tentang materi yang telah dipelajari.
Setelah siswa berdiskusi dalam kelompok asal maupun kelompok ahli, selanjutnya dilakukan presentasi masing-masing kelompok atau dilakukan pengundian salah satu kelompok untuk menyajikan hasil diskusi kelompok yang telah dilakukan agar guru dapat menyamakan persepsi pada materi pembelajaran yang telah didiskusikan. Pemberian penghargaan kepada kelompok yang hasil belajarnya lebih baik. Setelah penggunaan model pembelajaran jigsaw, motivasi belajar siswa dapat meningkat sehingga hasil pembelajaran juga meningkat. (ipa1/lis)

Guru Kelas VI SD Negeri 2 Krasak, Kecamatan Bangsri, Kabupaten Jepara.

Author

Populer

Lainnya