Matras Bidang Miring Solusi Mengatasi Kesulitan Belajar Materi Senam Lantai Guling Belakang

Oleh: Abdul Wahab, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PENDIDIKAN jasmani olahraga dan kesehatan (PJOK) merupakan salah satu bagian pendidikan yang sangat penting. Terdiri dari beberapa kompetensi dasar salah satunya adalah senam lantai. Senam lantai merupakan pokok bahasan yang diajarkan pada peserta didik Sekolah Menengah Pertama (SMP). Merupakan aktivitas fisik yang dapat membantu mengoptimalkan perkembangan peserta didik. Melalui pembelajaran senam lantai diharapkan dapat meningkatkan kebugaran jasmani.

Pada senam lantai terdapat beberapa sub pokok bahasan, diantaranya adalah guling belakang. Yaitu gerakan menggelundungkan badan ke belakang dengan tumpuan pada pundak. (Endang Widyastuti, 2010:17). Pokok bahasan ini memiliki tingkat kesulitan yang tinggi. Banyak peserta didik yang tidak memcapai ketuntasan pada aspek keterampilan guling belakang. Demikian juga yang terjadi pada peserta didik kelas 8 SMP Negeri 3 Patebon semester pertama tahun pelajaran 2018/2019.

Dari data hasil belajar pada pertemuan pertama peserta didik kelas 8A SMP Negeri 3 Patebon Kendal semester pertama tahun pelajaran 2018/2019, berjumlah 32 peserta didik diperoleh data: 19 peserta didik (60 %) tidak mencapai ketuntasan, 10 peserta didik (30 %) mencapai nilai 75 – 83 (cukup) dan 3 peserta didik (10 %) yang memperoleh nilai di atas 84 (baik). Data tersebut menunjukkan bahwa ketuntasan klasikal tidak tercapai (hanya 40 %). Kondisi seperti ini juga dialami oleh kelas 8 lainya yaitu: kelas 8B – 8H. Ini adalah sebuah problem yang harus ditemukan solusinya, sehingga pada petemuan berikutnya hasilnya bisa optimal.

Baca juga:   Pembelajaran IPA Berbasis Aktivitas

Hasil evaluasi pembelajaran guling belakang pada pertemuan pertama, ternyata peserta didik banyak yang kurang percaya diri dan mengalami kesulitan untuk melakukan dorongan tangan ke belakang sehingga karena kurang besarnya daya dorong tangan akhirnya guling belakang yang dilakukan tidak berhasil. Masalah utama dari kesulitan ini adalah karena besaran gaya yang mendorong badan ke belakang terlalu kecil. Oleh karena itu diperlukan alat bantu berupa matras bidang miring.
Matras adalah alas lantai untuk olahraga, biasanya terbuat dari busa yang padat dengan ketebalan tertentu (Margono, 2010: 140). Miring adalah kondisi tempat yang tidak datar (rendah sebelah); landai (W.J.S. Poerwaradarminta, 2007: 771). Jadi yang dimaksud matras bidang miring di sini adalah matras yang ditata dengan posisi miring yang digunakan untuk aktivitas senam lantai materi guling ke belakang.

Pada pembelajaran guling belakang pertemuan berikutnya, di kelas yang sama 8A – 8H menggunakan alat bantu matras bidang miring. Ternyata luar biasa hasilnya. Peserta didik menjadi lebih bersemangat, sehingga pembelajaran pada pertemuan ke-2 sudah banyak yang berhasil. Memang masih ada beberapa peserta didik yang gagal, sebagian besar dari mereka adalah peserta didik yang posturnya terlalu gemuk sehingga mengalami kesulitan melakukan gerakan tersebut.

Baca juga:   Pembelajaran Inovatif Guna Meningkatkan SDM di Era Revolusi Industri 4.0

Dari data hasil belajar guling belakang pertemuan ke-2 kelas 8A peserta didik SMPN 3 Patebon semester pertama tahun pelajaran 2018/2019 sebanyak 32 peserta didik diperoleh data: 7 peserta didik (20%) mencapai nilai di atas 90 (sangat baik), 22 peserta didik (70%) mencapai KKM dan 3 peserta didik (10%) belum tuntas KKM.
Data tersebut menunjukkan bahwa pembelajaran guling belakang dengan menggunakan matras bidang miring ternyata bisa meningkkatkan hasil belajar. Ini berarti bahwa bidang miring dalam pembelajaran guling belakang merupakan sebuah solusi. Harapan penulis pengalaman kegiatan pembelajaran ini bisa dipraktikan pada sekolah-sekolah lain. (ipa1/zal)

Guru SMPN 3 Patebon, Kendal

Author

Populer

Lainnya