Menumbuhkan Motivasi Belajar Sejarah melalui Penugasan Kliping

Oleh : Nari Ratih S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PEMBELAJARAN sejarah memberikan kebulatan wawasan berkenaan dengan peristiwa-peristiwa dari berbagai periode. Pada saat ini masih dalam masa pandemi Covid-19. Proses pembelajarannya masih menggunakan sistem pembelajaran jarak jauh (PJJ) atau daring. Padahal penyampaian materi mata pelajaran IPS khususnya sejarah, merupakan materi yang tidak cukup disampaikan secara lisan, tetapi harus disampaikan dengan media visual.

IPS adalah suatu bahan kajian terpadu yang merupakan penyederhanaan, adaptasi, seleksi, dan modifikasi yang diorganisasikan dari konsep-konsep dan keterampilan-keterampilan sejarah, geografi, sosiologi, antropologi dan ekonomi Puskur (Kasim, 2008:4).

Meski sudah disampaikan dengan media visual melalui zoom, praktiknya masih banyak peserta didik yang tidak aktif dengan berbagai alasan. Ada uang tidak punya kuota, jaringan internet terhambat, susah bangun tidur atau tidak ada yang membangunkan karena orang tua sudah berangkat bekerja. Hal ini dialami oleh peserta didik kelas VIII SMP Negeri 43 Semarang. Kemungkinan juga di luar alasan tersebut, siswa menjadi enggan mengikuti pembelajaran IPS, khususnya mata pelajaran sejarah. Selain merasa bosan dan jenuh, peserta didik merasa tidak tertarik mempelajari peristiwa masa lampau yang dianggapnya sudah tidak up to date. Diperparah juga banyak siswa yang enggan menghafal.

Baca juga:   Pembelajaran Daring dan Luring Selama Pandemi

Kondisi ini menyebabkan penyampaian materi sejarah kepada peserta didik menjadi kurang maksimal. Hal ini dapat dilihat dari hasil akhir setiap uji kompetensi selalu tidak mencapai kriteria ketuntasan maksimal (KKM). Guru pun berusaha mengatasi hal tersebut dengan berbagai upaya. Salah satunya dengan pemberian tugas membuat kliping. Peserta didik pun melakukan kegiatan memilih berita yang sesuai dari surat kabar, majalah, dan sebagainya yang dianggap penting dan berhubungan dengan materi pelajaran. Kemudian menggunting, menempel, dan mendokumentasikannya.

Dengan demikian, secara tidak langsung peserta didik akan membaca materi yang ada dalam artikel yang mereka pilih. Dengan membuat kliping, peserta didik mendapatkan pengetahuan yang selama ini belum mereka dapatkan. Apalagi selama ini peserta didik enggan mendengar, mencatat pelajaran yang dianggap sangat melelahkan dan membosankan.

Dengan pemberian tugas membuat kliping dengan materi “Kedatangan Bangsa-bangsa Barat ke Indonesia,” peserta didik menjadi lebih paham dengan materi tersebut. Kenyataannya pemberian tugas untuk membuat kliping tersebut ditanggapi siswa dengan sangat antusias. Terbukti jumlah siswa yang mengumpulkan tugas kliping rata-rata 26 siswa dari 32 siswa di setiap kelasnya. Hal ini jauh lebih meningkat bila dibandingkan dengan keaktifan siswa saat mengikuti proses pembelajaran dengan zoom atau mengirimkan tugas melalui google classroom yang mana rata-rata jumlah peserta didik tiap kelas kurang lebih hanya 15–20 orang. Pemberian tugas membuat kliping meningkatkan nilai saat diadakan uji kompetensi pada materi “Kedatangan Bangsa-Bangsa Barat Ke Indonesia.” Bahkan nilai rata-ratanya di atas KKM.

Baca juga:   Belajar Transformasi dengan Metode Resitasi

Dari pengalaman tersebut dapat diambil kesimpulan bahwa pelajaran apapun akan menjadi lebih menyenangkan apabila dilakukan dengan teknik yang bervariasi. Sehingga peserta didik tidak bosan dan merasa lelah bila setiap kali pembelajaran harus menatap handphone atau laptop. Bahkan, peserta didik lebih memahami materi dengan usahanya sendiri pada saat proses pembuatan kliping tersebut. Bisa dikatakan, pemberian tugas membuat kliping dapat menumbuhkan motivasi pada peserta didik untuk mempelajari materi sejarah selama PJJ. Bahkan menjadi hal yang menyenangkan bagi peserta didik. (ipa1/ida)

Guru IPS SMPN 43 Semarang

Author

Populer

Lainnya