Teladan dan Teguran, Kunci Sukses Pembiasaan

Oleh: Asri Yuniati, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan karakter adalah bagian yang tidak dapat dipisahkan dari praktik pembelajaran kita meskipun di era pandemi. Sadar atau tidak kita pasti telah melaksanakan pendidikan karakter jauh-jauh hari sebelum istilah itu didengungkan. Setiap anak pada dasarnya memiliki pemahaman dasar tentang mana yang baik dan mana yang buruk. Kita hanya perlu membiasakan anak-anak kita untuk melakukan hal-hal baik agar menjadi sebuah karakter yang melekat pada diri anak sampai dewasa nanti. Melakukan pembiasaan tentu juga bukan hal yang mudah. Ada begitu banyak aturan baik tertulis maupun tidak tertulis yang harus diikuti anak agar dapat memiliki karakter Pelajar Pancasila yang menjadi gambaran ideal kita saat ini.

Sudah menjadi rahasia umum bahwa anak-anak saat ini, khususnya anak usia sekolah mengalami degradasi moral. Tidak jarang kita membanding-bandingkan masa kita sekolah dan saat ini, lalu munculah pertanyaan “kok bisa begitu ya?” Tentu ada banyak faktor yang melatar belakangi mengapa perubahan besar itu terjadi. Orang tua, guru, lingkungan, dan teknologi jelas memiliki andil dalam membentuk karakter putra-putri kita. Apa yang mereka lihat di sekitarnya, maka itulah yang ia tiru. Semakin sering mereka melihat sesuatu, semakin mudah mereka melihat bahwa yang mereka lihat adalah hal umum untuk dilakukan. Dari sanalah muncul anggapan bahwa pemberian teladan sangatlah penting.

Baca juga:   Cepat Lancar Baca dengan Media Kreatif SAS bagi Siswa Kelas Rendah

Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2016) teladan adalah sesuatu yang patut ditiru atau baik untuk dicontoh (tentang perbuatan, kelakuan, sifat, dan sebagainya). Sebagai orang tua, guru, maupun masyarakat pada umumnya kita tidak bisa mengabaikan kenyataan bahwa apapun yang kita lakukan baik sengaja atau tidak akan memiliki dampak pada orang lain di sekitar kita, terutama anak-anak. Pemikiran anak-anak yang terbentuk dengan contoh yang baik di rumah, belum tentu tidak dapat dirusak dengan contoh buruk dari lingkungan sekolah atau masyarakat. Sangat perlu disadari, bahwa anak akan senang melakukan sesuatu yang cenderung sama dengan orang di sekitarnya. Jika lingkungannya buruk dan hanya dirinya yang baik, bukan tidak mungkin anak akan mudah terbawa arus negatif.

Sebagai orang tua di sekolah, hendaknya guru memberikan contoh dalam berperilaku setiap hari. Biasakan mengucapkan tiga kata pamungkas tolong, maaf, dan terima kasih. Tiga kata sederhana dan sepele, tapi sulit bukan main untuk diucapkan. Hanya dengan mengucapkan tiga kata itu, tutur kata kita akan menjadi sopan secara tidak disadari. Terdengar sederhana, namun butuh konsistensi dan waktu yang lama untuk menerapkannya. Hal itu juga penulis lakukan di SD Negeri 3 Bangkle, Kabupaten Blora.

Baca juga:   Belajar IPS Kreatif dan Menyenangkan dengan Peta Minda

Menurut Indrakusuma dalam Yanuar (2012) teguran adalah hukuman yang bersifat represif dan hanya berlaku bagi siswa yang telah mengetahui tentang aturan atau larangan yang berlaku. Dalam hal apapun, kita sebagai guru maupun orang tua harus melakukan pemberitahuan terlebih dahulu sebelum memberlakukan sebuah aturan atau larangan untuk melakukan segala sesuatu. Agar siswa memiliki pemahaman terlebih dahulu memgenai apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan dan mengapa dia harus melakukan atau menghindari hal-hal tertentu. Teguran yang kita gunakan tidak seharusnya berbentuk kata-kata yang kasar dan dapat menyakiti hati siswa. Kita dapat menggunakan pertanyaan sebagai teguran misalnya “Hayo, bilang apa setelah meminjam sesuatu?” maka siswa akan secara otomatis ingat bahwa dia lupa untuk mengucapkan kata terima kasih.

Pada akhirnya karakter akan terbentuk setelah mereka membiasakan diri untuk melakukan sesuatu. Bapak ibu hanya perlu memberikan pengertian apa yang harus dan tidak harus mereka contoh, kemudian jadilah figur teladan bagi mereka. Berikan teguran saat mereka melakukan hal-hal yang tidak seharusnya dengan cara yang bersahabat. Mari kita tekuni semboyan Ki Hajar Dewantara yang begitu mencintai pendidikan, Ing Ngarsa Sung Tuladha! (*/aro)

Guru SD Negeri 3 Bangkle, Kabupaten Blora

Author

Populer

Lainnya