Jadi Guru yang Dirindukan Peserta Didik dan Masyarakat

Oleh : Widodo M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, SELAIN menjadi guru yang dirindukan dan diidolakan oleh siswa/peserta didik, tak kalah penting adalah menjadi guru yang dirindukan keluarga dan tetangganya (masyarakat). Banyak guru yang cemerlang dalam tugas profesinya. Menjadi kepala sekolah, pengawas, asesor, hingga juara beraneka lomba level internasional. Tolok ukurnya sederhana, menghasilkan karya tulis, media pembelajaran, hingga menjadikan muridnya juara lomba. Cukup itu untuk memberi label bahwa guru telah hebat. Ada pula, guru yang dirindukan siswanya karena cara mengajarnya asyik, lucu, memotivasi giat belajar, dan mampu menjawab berbagai soal dari siswa.

Ada sedikit luput dari perhatian. Betapa ada juga paradoksnya kehidupan guru. Mereka yang berhasil di sekolah mengajari siswa, belum tentu pula berhasil mendidik keluarganya. Mereka yang bisa diterima para siswa dan rekan kerjanya, belum tentu pula disambut hangat oleh keluarga dan para tetangganya. Bahkan para guru bisa jadi dianggap asing/nyleneh (aneh) di mata kerabat dan masyarakat di sekitarnya.

Salah satu sebabnya yakni ketidakmampuan guru mengelola waktu, berangkat pagi pulang sore, jam 7 hingga jam 4 sore setiap harinya. Rutinitas kerja guru yang terforsir 8 jam di sekolahan, hanya menyisakan energi kecil untuk sekitar rumahnya. Sudah penat dengan tugas di kantor, pulang capek, mata lelah, kepala pusing, dan tubuh lunglai. Belum lagi dituntut berbagai berkas administrasi dan laporan yang harus siap esok harinya. Sampai di rumah beristirahat dan tidur untuk recovery di sekolah esok harinya. Belum lagi adanya ketakutan jika terlambat presensi hadir, ditambah presensi harus pakai sidik jari (finger print). Begitulah “ritual” setiap hari.

Baca juga:   Lari Cepat karena Didukung Kesegaran Jasmani

Banyak hal yang mulai terdegradasi. Guru lelah tak sempat menjenguk tetangganya sakit. Guru sibuk tak cukup waktu untuk bekerja bakti bersama warga. Guru -yang semakin makmur-, banyak pula mendidik anaknya hanya memberi alat dan fasilitas, soal pergaulan lepas kendali. Bila guru sudah gagal mendidik keluarganya, masyarakat yang masih berfilosofi “coba ngilo githoke dewe”, menjadi enggan menghormat denga tulus, sekadar basa-basi.

Sederhana sekali untuk melukiskan apa yang dirindukan anak kepada bapaknya (yang guru). Istri kepada suaminya dan sebaliknya. Sesungguhnya, anak dan istripun tak begitu peduli bagaimana hebatnya si bapak/suami di sekolah. Hanya permintaan kecil, satu anak ada yang minta bapaknya mengajak jalan-jalan keliling kampung naik sepeda, anak yang satu hanya minta si bapak bernyanyi Kodok Ngorek sebelum tidur. Anak yang satu sukanya ditunggui kalau ngaji sore. Ada juga, yang penting bapaknya datang dengan pelukan dan bawa selendang gendongan. Sang istri tak minta uang gajian apalagi diajak shooping ke swalayan, hanya minta suami yang pulang dengan ucapan salam dan sedikit kecupan. Istri sudah senang tatkala masakannya dicicipi suami dengan sedikit pujian. Singkatnya, tak ada lagi gelar sebagai guru pintar. Yang dirindukan adalah bapakku, suamiku.

Baca juga:   Aplikasi Belajar IPA Terapan dengan Program Sekolah Adiwiyata

Maka, kebanggaan akan profesi sebagai guru tak sepatutnya mencederai prestasi sebagai guru di rumah, hanya sebagai ayahnya anak-anak, dan suami yang penyayang. Gelar akademik adalah prestasi, juara lomba adalah prestasi, jabatan di kantor adalah prestasi, tapi prestasi sesungguhnya adalah dirindukannya para guru di tengah keluarganya.
Guru juga punya tugas sosial. Dengan itulah mereka dihargai oleh masyarakat. Masyarakat inginnya melihat guru berhasil mendidik anak-anaknya sendiri dengan gemilang. Menjadi teladan di kampung yang sering membantu tanpa sungkan.

Di tengah harapan prestasi guru yang berkibar dan kesejahteraan yang meningkat, mari para guru melihat keluarga dan masyarakat. Tetangga tidak melihat mulianya diri guru dari gelar akademik dan prestasinya kejuaraan. Masyarakat melihat guru terhormat dari seberapa banyak kita mendengar, mau diajak terlibat dalam aksi sosial di kampung. Ada yang sakit ikut menjenguk, ada yang sulit ekonomi ikut membantu, hadir dalam hajatan (mantenan-sunatan dan sebagainya), takziah, dan senang hati menerima tamu. Ada iuran warga, ikut menyumbang pula seperti warga umumnya. Hadir di pengajian, bersedia ketempatan rapat RT/RW, mau menyapa dan memberi salam ketika berjumpa, penyayang kepada anak-anak tetangga. Ya itu saja, lingkungan masyarakat lebih senang melihat guru yang mau berbaur tanpa sungkan, berbagi dan memberi. Dengan begitu, guru dirindukan di sekolah, di rumah, dan di sekitar rumahnya. (agu2/ton)

Guru SMAN 1 Toroh, Kabupaten Grobogan.

Author

Populer

Lainnya