Persilangan Dihibrid dengan Pohon Genetika

Oleh : Windarti Yohanna, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Materi pewarisan sifat terutama persilangan bagi peserta didik SMPN 6 Salatiga dirasa sulit. Mereka kesulitan mendapatkan gambaran yang nyata, sulit untuk berimajinasi, ditambah dengan istilah- istilah yang digunakan dalam persilangan seperti: parental, filial, gamet, genotipe, fenotipe, dominan, resesif, homozygote, heterozygote, monohibrid, dihibrid, intermedier, test cross, back cross yang harus mereka pahami.

Belum lagi mereka harus membayangkan genotipe yang dominan dengan fenotif panjang atau genotipe yang resesif dengan fenotif pendek. Jika dari awal peserta didik tidak jelas alurnya maka sulit untuk bisa memahami. Oleh karena itu memerlukan alat bantu yang bisa memperjelas.

Persilangan meliputi persilangan satu sifat beda (monohybrid) dan dua sifat beda (dihybrid ). Persilangan monohybrid huruf yang digunakan untuk melambangkan genotipe hanya satu macam misalnya huruf A. Untuk individu genotifnya berpasangan, misalnya AA, Aa atau aa.

Huruf besar melambangkan sifat dominan dan huruf kecil sifat resesif. Filial ke dua menghasilkan empat individu dengan 3 macam genotif dan 2 atau 3 macam fenotif tergantung macam persilangannya.

Persilangan dihybrid huruf yang digunakan dua macam misalnya huruf H dan K, penulisan genotipe untuk individunya bisa HHKK, HhKk, hhkk atau yang lain. Sedangkan hasil filial keduanya enam belas. Untuk mempermudah memahami persilangan dihibrid alat peraga pohon genetika bisa membantunya. Hal ini sudah penulis lakukan di SMP Negeri 6 Salatiga pada tahun pelajaran 2019/2020, 2020/2021 dengan ditunjukkan nilai pengetahuan dan keterampilannya meningkat. Pohon genetika ini terbuat dari botol bekas air mineral serta gelas plastik bekas yang ada di lingkungan SMP Negeri 6 Salatiga.

Baca juga:   Metode Terdak Tingkatkan Antusiasme Belajar Agama

Pohon genetika ini terdiri dari batang yang digambarkan terletak di atas tanah dan bagian akar yang digambarkan terletak di bawah tanah. Yang berada di atas tanah menggambarkan sifat yang dominan, sedangkan yang berada di bawah tanah menggambarkan sifat yang resesif.

Dengan bantuan pohon genetika ini mempermudah peserta didik terkonsep kalau sifat yang mereka silangkan berasal dari bagian atas tanah maka akan menutup sifat yang berasal dari bawah tanah. Dengan cara ini diharapkan peserta didik lebih mudah memahami dan dapat membuat bagan persilangan sampai bisa menuliskan perbandingan fenotipe pada filial keduanya.

Dengan demikian pembelajaran ini sudah memanfaatkan lingkungan sebagai sumber belajar dan alat peraga yang merupakan suatu media atau pengantara antara sumber pesan dengan penerima pesan. (Ahmad Walid.2017:43) mengemukakan bahwa media pembelajaran merupakan segala sesuatu yang dapat menyalurkan pesan, merangsang pikiran, perasaan dan kemauan peserta didik sehingga dapat mendorong terciptanya proses belajar pada diri peserta didik.

Penggunaan media dalam pembelajaran dapat membantu peserta didik dalam memberikan pengalaman yang bermakna, mempermudah memahami sesuatu yang abstrak menjadi lebih konkrit. Minat belajar peserta didik bisa tumbuh pada saat mereka melihat adanya sesuatu yang dibawa oleh bapak ibu guru. Alat peraga yang digunakan bisa membuat peserta didik lebih bersemangat dalam mengikuti proses pembelajaran.

Baca juga:   Belajar IPA Asyik di Masa Pandemi dengan Media Youtube

(Haryono.2013:55) mengungkapkan bahwa media pembelajaran (alat peraga) dapat membantu proses belajar yang pada gilirannya dapat mempertinggi hasil belajar yang sangat diharapkan. Ada beberapa alasan, antara lain: memperjelas bahan pengajaran yang disampaikan guru; memberi pengalaman nyata pada peserta didik; merangsang peserta didik berdialog dengan dirinya; merangsang cara berpikir peserta didik.

Untuk mengkonkretkan dalam pembelajaran materi persilangan, salah satu alternatif bisa menggunakan alat peraga pohon genetika. (dd1/lis)

Guru SMPN 6 Salatiga.

Author

Populer

Lainnya