Menjadi Pendidik yang Humanis

Oleh : Anik Idhayati, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Program sekolah anak akhir-akhir ini menjadi tren dalam dunia pendidikan. Namun, tidak semua sekolah bisa menerapkan program sekolah anak karena adanya kriteria tertentu. Sebagai pendidik pun perlu ramah kepada peserta didik maupun semua warga sekolah.

Akhir-akhir ini banyak-kejadian di sekolah yang menyebabkan kekerasan fisik maupun mental. Salah satu dalam mengatasi permasalahan tersebut adalah menerapkan pendidikan yang humanis baik di lingkungan keluarga maupun di sekolah.

Sebagai pendidik pun mulai belajar dari berbagai sumber, misalnya sekolah yang sudah memiliki program sekolah ramah anak. Di era sekarang, guru dituntut mampu untuk membaca setiap tantangan yang ada pada masa kini. Guru harus mampu untuk mencari sendiri pemecahan masalah yang timbul dari dampak kemajuan zaman karena tidak semua kemajuan zaman berdampak baik, dampak negatif juga harus diperhitungkan.

Humanisme berasal dari bahasa Latin humanus dan mempunyai akar kata homo yang berarti manusia. Humanus berarti sifat manusiawi atau sesuai dengan kodrat manusia. Humanisme diartikan sebagai paham yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia. Jadi, maksud dari pendidik humanis adalah pendidik atau guru yang menjunjung tinggi nilai dan martabat manusia.

Dalam arti lain yaitu memanusiakan manusia. Konteks “memanusiakan manusia” berpegang pada nilai keadilan, kesetaraan, serta nilai persaudaraan. Hak atas pelayanan, kesejahteraan, berpendapat, dan beraktivitas menjadi salah satu cara memanusiakan manusia tersebut.

Baca juga:   Cara Mudah Menulis Teks Negosiasi dengan Model Picture and Picture

Contohnya seperti toleransi, rasa simpati, kompromi, dan lain sebagainya. Intinya, memanusiakan manusia adalah bagaimana cara kita memperlakukan orang lain seperti apa yang kita harapkan dari orang lain dalam memperlakukan kita. Karena, sesama manusia harusnya saling memanusiakan satu sama lain.

Pendidikan yang humanis lebih menekankan bagaimana cara menjalin komunikasi secara personal dan kelompok dalam lingkungan sekolah. Karakter dalam pendidikan humanis dengan asumsi positif yaitu peserta didik mempunyai akal dan sama dalam pengetahuan, untuk mengaktualisasi dirinya peserta didik diberi kebebasan.

Pendidikan yang humanis ini berkaitan dengan enam profil pelajar Pancasila, yaitu beriman, bertakwa kepada Tuhan YME, dan berakhlak mulia, berkebinnekaan global, gotong-royong, mandiri, bernalar kritis dan kreatif. Pelajar Pancasila adalah perwujudan pelajar Indonesia sebagai pelajar sepanjang hayat yang memiliki kompetensi global. “Pembelajar sepanjang hayat”, tentu hal ini tidak hanya untuk siswa, melainkan seluruh guru. Jadi pelajar di sini, kita semua termasuk di dalamnya. Dengan profil Pancasila, kita semua mampu mengimplementasikan nilai-nilai Pancasila.

Baca juga:   Metode 4M dalam Matematika

Pendidikan yang humanis melalui manajemen sekolah, pembiasaan, pembinaan kesiswaan dan secara terus-menerus dengan pembelajaran yang sesuai visi dan branding sekolah yang terus menguatkan karakter, dapat bersaing ke kancah internasional, dan dapat terus berandil besar dalam mewujudkan cita-cita pembangunan.

Pendidik yang humanis memuat empat kompetensi, yaitu profesional, pedagogik, kepribadian dan sosial. Guru sebagai tenaga pendidik yang tugas utamanya mengajar, memiliki karakteristik kepribadian yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan pengembangan sumber daya manusia.

Kepribadian guru merupakan faktor terpenting bagi keberhasilan belajar anak didik. Pembelajaran dengan keteladan dari seorang guru akan lebih bermakna untuk para peserta didik.
Pendidikan yang humanis sangat berkaitan dengan kecakapan abad 21. Kecakapan abad 21 ini meliputi karakter, literasi dan kompetensi. Peran guru dalam pembelajaran humanistik adalah menjadi fasilitator bagi para peserta didik sedangkan guru memberikan motivasi, kesadaran mengenai makna belajar dalam kehidupan peserta didik. Pendidikan humanis yang ditafsirkan sebagai pendidikan yang diarahkan untuk kepentingan semua komponen pendidikan, yang tidak hanya berorientasi pada humanisme siswa tetapi juga pada para guru. (bs2/lis)

Guru PPKn SMA Negeri 3 Salatiga.

Author

Populer

Lainnya