Menanamkan Karakter Siswa melalui Pembelajaran Teks Naratif

Oleh: Drs. Hari Prayitno

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Guru dan orang tua siswa mulai khawatir dengan perkembangan sikap atau karakter para siswa. Sangat mudah diamati dalam kehidupan sehari-hari, para siswa yang mengalami kemunduran dalam sopan santun, kemandirian, kegotongroyongan, tanggup jawab, disiplin, dll.

Dapat dirasakan dengah mudah adanya para siswa yang tidak bisa menghormati guru maupun orangtuanya. Siswa ini tidak berkembang sikap sopan santunnya. Ada juga siswa yang secara usia sudah cukup umur tetapi masih sangat tergantung kepada orang lain meskipun dalam hal yang sangat sepele. Misalnya memakai sepatu atau menyiapkan keperluan sekolahnya sendiri sehari-hari. Sama sekali tidak berkembang sikap mandirinya. Contoh lain adalah sikap siswa yang tidak berkembang sikap kegotongroyongannya. Para siswa cenderung memiliki sikap individualis karena tergerus oleh arus jaman melalui media sosial yang begitu hebat. Para siswa sangat susah untuk diajak bekerja sama dalam pemecahan masalah sehari-hari. Belum lagi dalam hal pemenuhan tugas selama pembelajaran online seperti sekarang ini. Jumlah siswa yang abai terhadap tugasnya semakin banyak. Sangat susah menemukan siswa yang memenuhi tanggung jawabnya dalam menyelesaikan tugas secara tepat waktu.
Pendidikan karakter sudah sangat penting, urgent dan crusial untuk segera dilakukan di pendidikan formal.

Baca juga:   Pendekatan SAVI dalam IPS

Sedemikian pentingnya, sehingga Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia mengeluarkan Paraturan Menteri No 20 Tahun 2018 tentang Penguatan Pendidikan Karakter. Bahkan dalam proses pembelajaran di sekolah, salah satu syarat kenaikan kelas adalah nilai minimal B (baik) dalam penilaian sikap setiap siswa di sekolah. Artinya, tidak mungkin siswa bisa naik kelas kalau nilai sikapnya hanya C (cukup) meskipun secara akademis siswa tersebut memiliki nilai yang luar biasa bagusnya.

Pembelajaran bahasa Inggris sebagai mata pelajaran wajib di SMP juga harus ikut ambil bagian dalam pembelajaran karakter/sikap siswa. Bahkan dalam Permendikbud Nomor 37 Tahun 2018 tentang Kompetensi Inti dan Kompetensi Dasar Pelajaran pada Kurikulum 2013 pada Pendidikan Dasar dan Menengah menyebutkan bahwa tujuan kurikulum mencakup empat kompetensi. Yaitu kompetensi sikap spiritual, sikap sosial, pengetahuan, dan keterampilan.

Kompetensi sikap spiritual dan sosial dicapai melalui pembelajaran tidak langsung (indirect teaching), yaitu keteladanan, pembiasaan, dan budaya sekolah dengan memperhatikan karakteristik mata pelajaran serta kebutuhan dan kondisi siswa.
Meskipun demikian, pembelajaran bahasa Inggris bisa melakukan pembelajaran secara langsung melalui materi ajar/KD yang relevan. Salah satu materi ajar (KD) pada mata pelajaran bahasa Inggris di SMP adalah teks naratif. Teks naratif adalah text cerita fiksi yang bertujuan untuk menghibur pembaca atau pendengarnya. Teks ini dibuat dengan menggunakan past tenses karena pada umumnya terjadi di waktu lampau. Struktur teks naratif pada umumnya terdiri atas orientation (pengenalan tokoh dan latar), complication (konflik dalam cerita), resolution (pemecahan masalah) dan reorientation (kesimpulan).

Baca juga:   Metode Picture and Picture Bikin Belajar Caption Jadi Asyik

Di SMP siswa bisa belajar teks naratif berupa fables, legends, fairy tales atau folk tales. Dari setiap jenis teks naratif yang diajarkan para siswa bisa menemukan moral value yang tersirat dalam teks tersebut karena di setiap cerita tersebut pasti ada unsur moral atau sikap yang diajarkan oleh penuturnya atau penulisnya. Ini yang penulis lakukan selama mengajar bahasa Inggris di SMP Negeri 9 Salatiga. Penulis bisa menanamkan perilaku atau sikap atau karakter yang baik kepada siswa melalui pembelajaran teks naratif di kelas. Penulis merasa lebih mudah saja kalau memberi tahu siswa tentang perilaku baik atau moral yang baik ini melalui cerita atau teks naratif. (bs1/lis)

Pengajar Bahasa Inggris SMP Negeri 9 Salatiga.

Author

Populer

Lainnya