Pembelajaran Apreasi Seni Budaya Lokal dengan Blended Learning

Oleh : Dr. Sri Verayanti R, M.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Aktivitas pembelajaran di era pandemi Covid-19 haruslah tetap berjalan agar tujuan pendidikan tetap tercapai. Menyikapi kondisi pembelajaran saat ini, maka kreativitas guru dalam merancang pembelajaran agar menarik dan menyenangkan siswa sangat dibutuhkan. Salah satu media yang dapat mempermudah guru dalam penyajian pembelajaran secara online adalah pemanfaatan informasi teknologi (IT) dalam ruang belajar dan pembelajarannya.

Tak dapat dipungkiri peranan informasi teknologi begitu penting di era pandemi Covid-19 ini karena aktivitas pembelajaran dilakukan e-learning. Salah satu model pembelajaran yang dapat diterapkan melalui penggunaan media berbasis teknologi adalah metode blended learning.

Blended learning merupakan pembelajaran yang mengombinasikan atau menggabungkan berbagai teknologi berbasis web, multimedia, seperti video streaming, virtual class, animasi teks online, google clasroom, dimana pembelajarannya mengkombinasikan antara pembelajaran online dengan face-to-face untuk mencapai tujuan pendidikan (Driscol: 2002, Thorne: 2013 & Graham: 2005).

Aktivitas pembelajaran di SMK Negeri 3 Kota Semarang selama masa pandemi Covid-19 berlangsung optimal menggunakan media informasi teknologi. Demikian halnya dengan pembelajaran seni budaya yang menggunakan metode blended learning yang dilakukan secara online dan face-to fase melalui google meet dan zoom meet.

Sajian materi apresiasi seni budaya lokal, dengan menggunakan blended learning pada materi apresiasi seni budaya lokal, menjadi jembatan untuk meningkatkan prestasi akademik siswa. Hal ini sesuai dengan temuan penelitian Ramadhani (2020) bahwa metode blended learning dapat meningkatkan hasil belajar siswa dan menumbuhkan sikap sosio kultural siswa.

Baca juga:   Meningkatkan Minat Baca Lewat Gerakan Literasi Perpustakaan Sekolah

Menurut Intangible Cultural Heritage (ICH) sesuai konvensi Unesco tahun 2003, Semarang memiliki 27 warisan budaya tak benda. Budaya lokal ini diwariskan dari generasi ke generasi yang merupakan hasil interaksi dengan masyarakat dan budaya lain.

Budaya lokal merupakan potensi sosial yang dapat membentuk karakter dan citra budaya Semarang. Sebagai keanekaragamaan kekayaan intelektual dan kultural Semarang , maka budaya lokal tersebut perlu dilestarikan. Salah satu wujud pelestariannya adalah mengenalkan pada siswa melalui pembelajaran apresiasi seni budaya lokal khususnya budaya lokal Kota Semarang dengan metode blended learning.

Tak dapat disangkal pembelajaran apresiasi seni budaya lokal mengoptimalkan pengalaman interaktif belajar siswa sehingga dapat membantu siswa berkembang sesuai gaya belajar, preferensi dalam belajar dan pembelajarannya dapat dilakukan secara mandiri. Pendekatan pembelajaran apresiasi seni budaya lokal ini menggunakan pendekatan definitif, partisipatif, dan eksploratif melalui jelajah web yang terkait materi budaya lokal sehingga dapat menggairahkan impuls-estetik dan impuls sosial siswa terhadap budaya lokal (Sunarto & Suherman: 2017).

Kegiatan pembelajaran Apresiasi Seni Budaya Lokal dengan metode blended learning melalui tahapan aktivitas: guru dan siswa melakukan interaksi face to face melalui google meet, dan zoom meet, guru memberikan petunjuk pada siswa untuk mempelajari materi pelajaran melalui web yang telah dibuatnya, menyajikan PPT tentang Apresiasi Seni Budaya Lokal melalui Google Classroom (GC) dan share materi melaui WhatsApp Group (WAG), mencari materi yang relevan pada sumber lain/situs-situs yang terkait. Melakukan diskusi interaktif tentang temuan materi yang telah dipelajari melalui internet. Menyajikan dan mengulas temuan secara virtual dalam bentuk literasi visual, media, teks, dan teknologi yang memiliki nilai edukatif baik bagi siswa maupun masyarakat umum.

Baca juga:   Peningkatan Kemampuan Individu dalam Bermain Musik dengan Discovery Learning

Kegiatan pembelajaran Apresiasi Seni Budaya Lokal dengan metode blended learning pada siswa di SMKN 3 Semarang bertujuan meningkatkan kecerdasan (intelligence), memberi keseimbangan antara intelektualitas dengan sensibilitas, rasionalitas, dan irrasionalitas. Memberi penguatan (reinforcement), memiliki sikap sosio kultural, menggairahkan impuls-estetik dan impuls sosial siswa terhadap budaya lokal, dan melahirkan budaya estetik berbasis pemahaman seni melaui sikap investigatif. (pg2/lis)

Guru Seni Budaya SMK Negeri 3 Semarang.

Author

Populer

Lainnya