Dukungan Sosial Layanan Kesehatan Mental Siswa Masa Pandemi Covid-19

Oleh: Lyanna Oktavia T, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, PANDEMI Covid-19 menyebabkan seluruh siswa harus melakukan proses pembelajaran jarak jauh (PJJ). PJJ memunculkan kendala yang dialami siswa dalam belajar di masa pandemi Covid-19, diantaranya kurang mendukungnya akses jaringan dan kuota yang dimiliki, siswa malas dan merasa bosan belajar dirumah serta kurang perhatian terhadap belajar. Hal ini berdampak pada kesehatan mental siswa seperti merasa khawatir ketinggalan pelajaran, anak merasa tidak aman, anak merindukan teman-temannya dan anak merasa khawatir tentang kondisi ekonomi keluarga. Di SMAN 8 Semarang juga ditemui beberapa siswa yang cenderung rentan untuk mengalami tekanan psikologi dan gangguan kesehatan mental.

Kondisi ini apabila tidak segera diatasi tentunya akan menyebabkan hal yang lebih fatal. Kesehatan mental yang baik adalah kondisi ketika batin kita berada dalam keadaan tentram dan tenang, sehingga memungkinkan kita untuk menikmati kehidupan sehari-hari dan menghargai orang lain di sekitar. Guru BK memberikan fasilitas layanan kesehatan mental (mental health) bagi para siswa melalui konseling telephone (hotline), online, maupun offline bekerjasama dengan layanan konsultasi psikologi dan tenaga kesehatan terdekat.

Dengan adanya penyediaan layanan ini baik daring maupun luring harapannya siswa lebih mudah mengakses dukungan sosial jika diperlukan sehingga masalah kesehatan mental siswa selama pandemi Covid-19 dapat teratasi.

Baca juga:   Peningkatan Hasil Belajar pada Materi Salat Jumat melalui Snowball Throwing

Dari permasalahan belajar yang menimpa siswa yang sering muncul di SMA Negeri 8 Semarang terutama siswa kelas XI IPS salah satunya adalah bersikap dan kebiasaan buruk dalam belajar di antaranya Perilaku menunda tugas (Prokrastinasiakademik). Prokrastinasi dijelaskan sebagai perilaku menunda tugas-tugas akademis, seperti: mengerjakan PR, mempersiapkan diri untuk ujian, atau mengerjakan tugas makalah, sampai batas akhir waktu yang tersedia (Balkis, 2009). ketika siswa tidak mampu mengatasi sumber penyebab perilaku yang salah seperti prokrastinasi akademik maka akan berdampak pada perasaan marah, cemas, stress berlebihan, tekanan secara terus menerus menjadikan siswa tidak berkembang sesuai dengan tugas perkembangan yang sesugguhnya.

Guru BK yang ada di sekolah melakukan intervensi kegiatan konseling kelompok dengan teknik Cognitive Therapy Groups. CTG masuk ke dalam Pendekatan Cognitive Behavior Therapy (CBT). Terapi perilaku kognitif (CBT) menggunakan format dinamika kelompok didasarkan pada teori lebih pada pengubahan cara berfikir individu bisa dibarengi dengan perilaku yang diubah.

Dalam konteks konseling kelompok, anggota diajarkan untuk mengenali, mengamati, dan memonitor pikiran mereka sendiri terutama pikiran negatif. Pada fase awal kelompok, guru BK melakukan wawancara grup awal dengan perorangan lalu disimpulkan secara kelompok lewat teknik CTG. Wawancara dilakukan berdasarkan permasalahan prokrastinasi akademik yang dimiliki.
Hal ini dilakukan dengan tujuan untuk membantu mereka memutuskan apakah mereka akan bergabung dengan grup yang memiliki permasalahan prokrastinasi akademik yang sama kemudian membantu anggota berkenalan, serta partisipasi mengikuti kegiatan konseling kelompok dan menjelaskan dasar pemikiran dari penanganan yang diberikan.

Baca juga:   Model Sole untuk Melatih Kemandirian Siswa dalam Belajar Redoks dan Elektrokimia

Guru BK meminta anggota kelompok melakukan evaluasi dari sikap prokrastinasi akademik yang dilakukan. Evaluasi dilakukan olehanggota dengan menceritakan prokrastinasi akademik yang dilakukan dan anggota lain memberikan tanggapan dan saran. Untuk membuat evaluasi ini, pemimpin mengumpulkan data tentang berbagai hal seperti partisipasi, kepuasan anggota, kehadiran, dan penyelesaian tugas yang disepakati diantara sesi. Setelah evaluasi perilaku Guru BK mendorong anggota kelompok menuliskan dikertas, menetapkan target perubahan, apa saja hal perubahan yang dilakukan untuk mengurangi prokrastinasi akademik.

Tahap Akhir yaitu anggota berlatih apa yang diinginkan dan yang penting dalam hidup mereka dengan mengatakan kepada anggota kelompok dan mempraktekkan perilaku baru.Umpan balik dari anggota lain dalam kelompok, bersama dengan pelatihan, paling efektif pada tahap akhir.

Setelah diberikan konseling kelompok kognitif-perilaku maka perilaku menunda tugas pada siswa dapat berkurang. Selainitu Siswa dapat mengembangkan strategi serta menerapkan apa yang yang telah dipelajari di dalam kelompok pada kehidupan sehari-hari. (lbs2/zal)

Guru SMAN 8 Semarang

Author

Populer

Lainnya