Pinjaman Online vs Koperasi

Oleh: Eny Sudaryanti, S,Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Sesuai dengan pasal 33 UUD tahun 1945, bahwa pelaku utama ekonomi di Indonesia dilakukan oleh tiga pelaku utama ekonomi, yaitu Pliar Pemerintah (BUMN), Pilar Swasta (BUMS), dan Pilar koperasi. ketiga pelaku ekonomi disebut sebagai “tiga pilar perekonomian Indonesia”. Ketiga pilar tersebut memiliki peran yang berbeda-beda. BUMN memiliki peran utama sebagai penghasil barang dan jasa yang dibutuhkan masyarakat. Pelaksana pelayanan umum seperti penyediaan fasilitas sekolah atau kesehatan, pembangunan jalan, dan penyediaan air bersih.

Sumber penerimaan negara seperti keuntungan perusahaan, pajak, dan dari hasil produksi. Peran BUMS adalah meningkatkan ketersediaan lapangan pekerjaan serta penyerapan tenaga kerja. Hal ini dapat membantu pemerintah dalam mengurangi angka pengangguran. BUMS dapat membantu pemerintah dalam meningkatkan produksi nasional. Sedangkan peran Koperasi adalah membangun dan mengembangkan potensi dan kemampuan ekonomi anggota pada khususnya dan masyarakat pada umumnya untuk meningkatkan kesejahteraan ekonomi dan sosialnya. Berperan serta secara aktif dalam upaya meningkatkan kualitas kehidupan manusia dan masyarakat.

Koperasi sebagai salah satu pilar ekonomi bangsa Indonesia memiliki peran yang sangat luar biasa, terutama bagi masyarakat menengah ke bawah. Karena peran koperasi adalah mensejahterakan anggotanya. Ada beberapa jenis koperasi, salah satunya koperasi yang sangat diminati oleh masyarakat adalah koperasi simpan pinjam, yang secara garis besar memberi pinjaman uang kepada anggota, dan uang yang dipinjamkan berasal dari simpanan anggota. Koperasi ini membantu anggotanya yang membutuhkan uang untuk memenuhi kebutuhan hidup. Uang yang dipinjam anggota dikembalikan dengan diangsur secara berkala sesuai dengan kesepakatan. Pemberian uang balas jasa ditentukan oleh masing-masing koperasi. Dan uang yang diterima peminjam hanya dipotong biaya administrasi tanpa ada biaya asuransi. Uang hasil meminjam dari koperasi selain dipakai untuk kebutuhan biasanya dipakai juga untuk modal usaha.

Baca juga:   Meningkatkan Prestasi dengan Bersaing Menggunakan Kahoot

Akhir-akhir ini sering terdengar tentang istilah pinjaman online (pinjol) yang secara garis besar sistemnya hampir sama dengan koperasai simpan pinjam. Pinjaman online adalah aplikasi yang mempertemukan peminjam dengan pemberi pinjaman secara online. Pinjaman online mulai muncul pada 2016. Keberadaan aplikasi pinjol resmi diakui Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sejak diterbitkannya Peraturan OJK (POJK) Nomor 77 di akhir 2016. Dengan syarat yang mudah hanya berbekal KTP dan KK peminjam bisa mendapatkan pinjaman mulai dari Rp 1 juta sampai lebih dari Rp 50 juta. Kemudahan meminjam sesuai dengan yang dijanjikan, hanya dalam hitungan jam bisa lansung cair, membuat banyak masyarakat tergoda untuk mengajukan pinjaman.

Ada dua macam pinjol yang berkembang di masyarakat yaitu pinjol resmi dan pinjol ilegal. Ciri khas masing-masing pinjol tersebut adalah cara mengiklankan usaha finansialnya tersebut. Pinjol resmi beriklan di media sosial yang bisa dilihat oleh semua lapisan masyarakat, contohnya di televisi dan youtube. Sedangkan yang ilegal mengirim pesan lewat SMS ke nomor-nomor tertentu secara acak. Banyak masyarakat yang terdesak kebutuhan hidup dan modal usaha meminjam kepada pinjol ilegal. Dan seiring waktu perkembangan aplikasi pinjol menunjukkan perkembangan yang baik dan juga berdampak positif bagi perkembangan pendapatan masyarakat. Akankan pinjaman online akan menggantikan koperasi yang sudah berkembang di masyarakat ?

Baca juga:   Gaya Belajar Alamiah Keluargaku dengan Pendekatan Inkuiry

Di masa yang akan datang koperasi dan pinjol akan berkembang seiring dengan kebutuhan masyarakat untuk penambahan modal usaha dan pemenuhan kebutuhan hidup seharihari. Karena berdasarkan penelitian Asosiasi Fintech Indonesia, teknologi finansial atau pinjaman online memiliki dapak positif trhadap pertumbuhan ekonomi dalam masyarakat. Dan dalam penelitian tersebut pinjol mampu menambah lapangan kerja sebesar 362 ribu orang, baik secara langsung maupun tidak langsung. Sementara itu, fintech P2P Lending berdampak terhadap penurunan angka kemiskinan sebesar 177 ribu orang, dan mengurangi ketimpangan (rasio gini) sebesar 0,01.

Dengan kata lain, aplikasi pinjol turut berkontribusi membebaskan orang dari kemiskinan. Terlebih lagi, pinjol punya keunggulan dalam hal kecepatan dan kemudahan proses pinjaman. Sasarannya pun orang-orang kategori unbanked (tidak punya rekening bank) dan underserved (tidak terlayani bank). Sayangnya, keberhasilan ini dinodai oleh aplikasi-aplikasi pinjol ilegal. Banyak nasabah yang mengeluh terjerat utang pinjol karena pengembaliannya tidak sesuai dengan kesepakatan.Sehingga menyebabkan nasabah bisa meminjam ke aplikasi pinjol ilegal lebih dari satu untuk menutup pinjaman sebelumnya.

Dengan kelebihan dan kekurangan pinjol, nasabah diwajibkan jeli untuk memilih aplikasi pinjol legal. Dan koperasi masih menjadi lembaga keuangan yang bisa diandalkan, dan tidak akan tergantikan oleh aplikasi pinjaman online yang sekarang semakin berkembang di masyarakat. (bs1/aro)

Guru IPS SMP Negeri 4 Salatiga

Author

Populer

Lainnya