Remidiasi Miskonsepsi melaui Demonstrasi dan Eksperiman

Oleh: Sudiarto

spot_img

RADARSEMARANG.ID, DALAM kegiatan pembelajaran, siswa tidak memasuki pelajaran dengan kepala kosong yang dapat diisi dengan pengetahuan, tetapi sebaliknya kepala siswa sudah penuh dengan pengalaman dan pengetahuan. Misalnya sebelum diajarkan tentang pemantulan dan pembiasan cahaya, siswa telah mempunyai persepsi-persepsi lain tentang pemantulan dan pembiasan cahaya. Intuisi siswa mengenai suatu konsep yang berbeda dengan ilmuwan fisika ini disebut dengan miskonsepsi. Hal ini dapat menyebabkan kesulitan pada saat mempelajari suatu konsep. Miskonsepsi yang dialami siswa secara umum bersifat resisten dalam pembelajaran mulai dari tingkat sekolah dasar, tingkat sekolah menengah sampai pada tingkat perguruan tinggi. Hal ini berarti siswa membangun pengetahuan persis dengan pengalamannya, sehingga siswa membutuhkan suatu model pembelajaran yang tepat agar pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat mengarahkan siswa ke arah konsep yang sebenarnya.

Berg (1991) mengemukakan bahwa salah satu metode pembelajaran yang sangat berguna untuk mengatasi miskonsepsi dan merupakan cara yang kurang dimanfaatkan di Indonesia adalah demonstrasi. Metode demonstrasi adalah metode mengajar dengan pendekatan visual agar siswa dapat mengamati proses, informasi, peristiwa dan alat dalam pelajaran fisika. Namun metode demonstrasi memiliki kelemahan yaitu: pertama, peserta didik terkadang sukar melihat dengan jelas benda yang akan dipertunjukkan. Kedua, tidak semua benda dapat didemonstrasikan. Ketiga, sukar dimengerti bila didemonstrasikan oleh guru yang kurang menguasai apa yang didemonstrasikan. Untuk mengatasi kelemahan tersebut maka perlu dipadukan dengan eksperimen, yaitu metode pemberian kesempatan kepada peserta didik perorangan atau kelompok, untuk dilatih melakukan suatu proses atau percobaan, sehingga peserta didik akan lebih percaya atas kebenaran atau kesimpulan berdasarkan percobaannya sendiri daripada hanya menerima kata guru atau buku.

Baca juga:   Tantangan Online Learning dalam Pembelajaran di Masa Pandemi

Pengajaran remedial (remidiasi) dengan memadukan demonstasi dan eksperimen dapat dilakukan pada materi pemantulan dan pembiasan cahaya jenjang SMP/MTs Kelas VIII. Pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dan eksperimen diawali dengan pembentukan kelompok. Kelompok dibentuk berdasarkan kemampuan siswa yang paham dan yang mengalami miskonsepsi. Setiap kelompok terdiri dari 4-5 siswa. Setelah membentuk kelompok dan berkumpul dengan masing-masing anggota kelompok, selanjutnya adalah mendengarkan penjelasan guru mengenai tugas yang harus dikerjakan siswa. Guru juga memberikan contoh mengenai kegiatan percobaan pemantulan cahaya. Untuk membedakan siswa mengalami miskonsepsi dengan siswa paham konsep dapat mengunakan Three-Tier Diagnostic Test. Three-tier diagnostic merupakan tes yang tersusun dari tiga tingkatan soal. Pada tingkat pertama (one-tier) berupa pilihan ganda biasa, tingkatan kedua (two-tier) berupa pilihan alasan, dan tingkat ketiga (three-tier) berupa pertanyaan penegasan tentang keyakinan dari jawaban yang telah dipilih pada tingkat satu dan dua. Siswa yang mengalami miskonsepsi yaitu siswa yang yakin dengan jawabannya (three-tier) tetapi pada tingkat pertama (one-tier) dan tingkat kedua (two-tier) terdapat jawaban salah. Setelah siswa mendapat pembelajaran menggunakan metode demonstrasi dan eksperimen diberikan soal kembali untuk mengukur hasil post-tes siswa.

Baca juga:   Matras Bidang Miring Solusi Mengatasi Kesulitan Belajar Materi Senam Lantai Guling Belakang

Remidiasi Miskonsepsi melaui Demonstrasi dan Eksperiman diharapkan pembelajaran menjadi lebih bermakna dan dapat mengarahkan siswa ke arah konsep yang sebenarnya serta membangun pengetahuan siswa persis dengan pengalamannya. Seperti yang diterapkand I SMPN 5 Comal, Pemalang. (agu1/zal)

Guru SMPN 5 Comal, Pemalang

Author

Populer

Lainnya