Pembelajaran Kimia Aktif dengan Kolaborasi

Oleh : Widya Rosanti, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi korona yang berkepanjangan membuka cakrawala baru, tidak terkecuali dalam dunia pendidikan. Pembelajaran jarak jauh (PJJ) dulu mungkin hanya sebatas pengetahuan dan hanya sedikit orang yang pernah merasakan. Namun pandemi memaksa kita untuk adaptif untuk mengimplementasaikan dalam kelas.

Kondisi seadanya di awal akibat pengalaman yang minim terjadi di sana-sini. Namun manuasia adalah makhluk pembelajar. Seiring waktu berjalan, juga dengan intensifnya webinar kita dikenalkan dengan istilah baru pembelajaran kolaborasi (collaborative learning).

Kolaboratif berbeda dengan kooperatif. Seringkali terjadi kerancuan antara keduanya. Salah satu yang membedakan adalah adanya tujuan bersama. Dalam pembelajaran kolaboratif tidak ada keberhasilan individu yang ada adalah keberhasilan kelompok. Ibarat sebuah tim sepak bola, percuma saja kalau ada satu pemain yang hebat di lapangan, tetapi tetap kalah walaupun lawan tidak memiliki pemain hebat.

Kolaboratif menjadi salah satu keterampilan yang penting di era abad 21 di samping berpikir kritis, komunikatif dan kreatif (4C). Merujuk pada dokumen PISA (Programme for International Student Assessment) yang diterbitkan OECD (Organization for Economic CO-operation and Development, 2018), setidaknya ada 4 keterampilan yang dapat diajarkan pada siswa dengan pembelajaran.

Baca juga:   Laboratorium Virtual di Masa Pandemi

Yaitu membangun dan memelihara pemahaman bersama, mengambil tindakan yang tepat untuk menyelesaikan masalah serta membentuk dan memelihara organisasi tim. Implementasi pembelajaran kolaboratif dalam pembelajaran semakin mudah dengan pemanfaatan teknologi informasi yang berbasis pada komputasi awan seperti google dengan google classroom, Microsoft dengan micrososft team dan teknologi lain yang bias kita adopsi dalam pembelajaran.

Berbagai bimbingan teknis pun telah dilaksanakan berbagai instansi baik yang gratis maupun berbayar, semakin mempercepat adopsi teknologi kolaborasi dalam pembelajaran.

SMA Negeri 1 Ambarawa memilih platform Google Classrom sebagai tulang punggung kegiatan pembelajaran jarak jauh. Pilihan ini didasarkan pada sifat layanan yang gratis dan stabil. Sehingga mudah diakses oleh setiap siswa baik menggunakan perangkat komputer maupun smartphone. Beberapa fitur seperti google form untuk evaluasi, google docs untuk kerja kolaboratif yang dapat diintegrasikan semakin memudahkan dalam pengontrolan.

Data yang selama kegiatan pembelajaran terdokumentasi dengan baik dan memiliki catatan individual semakin memudahkan penilaian yang berbasis pada kinerja individual pada pembelajaran kolaboratif. Semakin lengkap dengan tersedianya fitur percakapan dalam dokumen yang meningkatkan kualitas kerja kolaboratif.

Baca juga:   Pembelajaran Daring Fisika melalui Tingkatan Inquiry, Alternatif Merdeka Belajar

Selama pembelajaran, guru dapat memantau langsung aktivitas pembelajaran, dan juga pendampingan secara individual, kelompok maupaun klasikal. Pemantauan secara langsung dilakukan dengan mengamati kursor yang aktif selama penyelesaian tugas. Andaipun guru kehilangan fokus pada saat tertentu, tersedia history yuang bisa digunakan untuk melihat aktivitas setiap siswa pada waktu-waktu tertentu. Siapa melakukan apa, akan terpantau semua.

Dengan kolaborasi pembelajaran jarak jauh dapat terselesaikan dengan berdiskusi meski terhalang pandemi tanpa harus khawatir karena terpapar dan silahturahmi antarpeserta didik dapat terjalin walau belum pernah bertemu sama sekali. Dengan demikian pembelajaran dapat berlangsung dengan sebagaimana mestinya dan peserta didik dapat memanfaatkan waktu belajar sebaik-baiknya meski hanya di rumah saja. (agu2/lis)

Guru SMA Negeri 1 Ambarawa

Author

Populer

Lainnya