Pembelajaran Membaca Lebih Efektif dengan Teori Belajar Stimulus Respons dan Kontruktivisme

Oleh: Sri Budi Harningsih, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pada masa pembelajaran dilakukan dari rumah siswa sekolah dasar dituntut mampu membaca dengan baik pada materi pembelajaran maupun soal ulangan. Sehingga memiliki kemampuan dalam memahami isi bacaan sesuai dengan uji kompetensi kurikulum yang diterapkan.

Kesulitan memahami isi bacaan dipengaruhi oleh beberapa faktor. Yaitu fisiologis, pertimbangan neurologis, jenis kelamin, intelektual, lingkungan, psikologis, minat, kematangan sosial, emosi, dan penyesuaian diri. Faktor yang paling dominan yaitu faktor kognitif (Listiyani Dewi Hartika, 2017).

Dari pengamatan penulis masih banyak ditemukan siswa kelas tiga belum lancar membaca dan sebagian lagi sudah lancar membaca tetapi belum bisa memahami arti maksud kalimat. Hal ini dibuktikan ketika menjawab soal jawaban siswa tersebut tidak sesuai dengan pertanyaan. Untuk mengatasi persoalan tersebut pembelajaran tematik kelas tiga di SD Negeri 01 Sumubkidul, penulis menerapkan teori belajar stimulus respons dan konstruktivisme dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan membaca siswa.

Belajar merupakan akibat adanya interaksi antara stimulus dan respon (Slavin, 2000:143). Seseorang dianggap telah belajar sesuatu jika dia dapat menunjukkan perubahan perilakunya. Menurut teori ini dalam belajar yang penting adalah input yang berupa stimulus dan output yang berupa respon. Stimulus adalah apa saja yang diberikan guru kepada pebelajar. Sedangkan respons berupa reaksi atau tanggapan pebelajar terhadap stimulus yang diberikan oleh guru tersebut. Proses yang terjadi antara stimulus dan respons tidak penting untuk diperhatikan karena tidak dapat diamati dan tidak dapat diukur. Yang dapat diamati adalah stimulus dan respona, oleh karena itu apa yang diberikan oleh guru (stimulus) dan apa yang diterima oleh pebelajar (respons) harus dapat diamati dan diukur. Teori ini mengutamakan pengukuran, sebab pengukuran merupakan suatu hal penting untuk melihat terjadi atau tidaknya perubahan tingkah laku tersebut.

Baca juga:   Perlakuan Terhadap Anak Kidal

Sedangkan teori konstruktivisme didefinisikan sebagai pembelajar yang bersifat generatif. Yaitu tindakan mencipta sesuatu makna dari apa yang dipelajari. Konstruktivisme sebenarnya bukan merupakan gagasan yang baru, apa yang dilalui dalam kehidupan kita selama ini merupakan himpunan dan pembinaan pengalaman demi pengalaman. Ini menyebabkan seseorang mempunyai pengetahuan dan menjadi lebih dinamis. Pendekatan konstruktivisme mempunyai beberapa konsep umum seperti bahan pengajaran yang disediakan perlu mempunyai keterkaitan dengan pengalaman pelajar untuk menarik minat siswa.

Beberapa hal yang penulis terapkan untuk mengajarkan membaca di kelas tiga adalah mengenalkan huruf A-Z dengan menyuruh menulisnya secara berulang sebanyak 10 kali setiap hari. Mengenalkan cara membaca dua hingga tiga suku kata dan menuliskan secara berulang setiap hari sebanyak 10 kali. Mengenalkan kata dengan menyuruhnya menuliskan nama nama anggota keluarga, tetangga, nama nama buah, nama hewan, nama tumbuhan. Dan nama benda-benda yang terlihat di sekitarnya. Menulis cerita sederhana yang berkaitan dengan kegiatan sehari-hari seperti kegiatan selama di rumah, kegiatan di sekolah, dan kegiatan bersama teman-temannya di lingkungan sekitarnya.

Baca juga:   Kreativitas Pembelajaran Ragam Hias di Masa Pandemi

Dengan memadukan kedua teori ini dalam pembelajaran, akan tercipta hasil yang maksimal terutama pembelajaran membaca untuk siswa yang lambat membaca. Cara ini akan berhasil jika dilaksanakan dengan penuh kesabaran, rutin setiap hari. Anak-anak diberi ketegasan yang penuh, diberi hukuman yang sesuai apabila tidak melaksanakan tugas. Hukuman bisa berbentuk penguatan positif dan penguatan negatif disesuaikan dengan karakter masing masing anak. Karakter mempengaruhi cara anak belajar dan merespons sesuatu. Maka, dalam memberikan penguatan ini harus tepat sehingga memberikan motivasi pada anak-anak untuk terus belajar. (gb1/lis)

Guru Kelas III SD Negeri 01 Sumubkidul, Sragi, Kabupaten Pekalongan.

Author

Populer

Lainnya