Model Creative Problem Solving Tingkatkan Keaktifan dan Hasil Belajar Siswa

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Proses belajar mengajar di sekolah sangat dipengaruhi oleh cara dan metode yang digunakan oleh guru. Metode pembelajaran adalah cara-cara yang dipakai oleh guru atau sekelompok orang untuk membimbing peserta didik sesuai dengan perkembangannya kearahtujuan yang hendak dicapai (Siswoyo, 2008: 133).

Dalam proses belajar mengajar di sekolah banyak hambatan yang sering muncul baik dari pihak siswa maupun pihak guru terkait dengan model pembelajaran yang diterapkan.

Secara empiris ditemukan permasalahan yang dihadapi dalam proses pembelajaran materi pelajaran Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) pada siswa SMP Negeri 32 Semarang dimana proses pembelajaran yang masih banyak menggunakan model pembelajaran ceramah menyebabkan siswa cenderung pasif.

Data empiris mengungkapkan rendahnya keinginan siswa untuk bertanya, intensitas komunikasi yang rendah dengan guru maupunteman, sehingga hasil belajar siswa tergolong rendah bahkan hanya 46,87% siswa yang mencapai kriteria ketuntasan minimum.

Guna menyelesaikan masalah tersebut, perlu diterapkan strategi pembelajaran yang inovatif yaitu penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving. Menurut Kusumaningrum (2009: 5), model pembelajaran Creative Problem Solving adalah suatu metode pembelajaran yang melakukan pemusatan pada pengajaran dan ketrampilan memecahkan masalah, yang diikuti dengan penguatan keterampilan. Kelebihan dari model pembelajaran Creative Problem Solving adalah mendorong siswa untuk lebih aktif dalam proses pembelajaran, menumbuhkan rasa ingin tahu siswa, melatih kemampuan berpikir siswa dalam pemecahan masalah, dan menumbuhkan kerja sama dan interaksi antarsiswa.

Baca juga:   Metode KBM Online Menggunakan Whatsapp Group dan Video Call

Tujuan penelitian tindakan kelas ini adalah menemukan metode pembelajaran yang efefktif yang mampu mendorong aktivitas dan kretivitas siswa dalam memecahkan permasalahan yang diberikan sehingga pada gilirannya mampu meningkatkan jumlah siswa yang memenuhi KKM. Pembelajaran dengan model pembelajaran Creative Problem Solving meliputi identifikasi masalah melalui observasi awal dengan guru bidang studi, merumuskan masalah, menentukan pemecahan masalah, merencanakan kegiatan pembelajaran, dan membuat rencana pelaksanaan pembelajaran, bahan ajar, lembar observasi, dan alat evaluasi. Kegiatan penelitian ini dilakukan secara kolaboratif antara peneliti dengan guru mata pelajaran.

Dari hasil penelitian ditemukan penerapan model pembelajaran Creative Problem Solving pada mata pelajaran TIK mampu meningkatkan keaktifan siswa SMP Negeri 32 Semarang. Hal tersebut dibuktikan dengan adanya peningkatan rata-rata tingkat keaktifan komunnikasi antara siswa dengan siswa. Siswa dengan guru serta keaktifan siswa dalam memecahkan masalah yang diberikan guru yang semula 67%, meningkat menjadi sebesar 83%. Peningkatan persentase kriteria ketuntasan klasikal berdasar hasil tes evaluasi siswa dari rata-rata 77,4 meningkat menjadi rata-rata 82,6. Oleh karena itu dapat disimpulkan model pembelajaran Creative Problem Solving yang diterapkan pada siswa SMP Negeri 32 berhasil meningkatkan keaktifan dan hasil belajar siswa pada mata pelajaran TIK.

Baca juga:   Biografi Tokoh Perjuangan sebagai Alat Pengajaran IPS dalam Menumbuhkan Semangat Kebangsaan

Disarankan guru dapat menggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving pada materi maupun mata pelajaran lain sehingga siswa dapat lebih aktif dalam kegiatan pembelajaran dan KKM siswa juga dapat meningkat. (ipa1/lis)

Guru TIK SMP Negeri 32 Semarang.

Author

Populer

Lainnya