Permasalahan PJJ Daring IPA Bagi Guru Kelas Rendah SD

Oleh: Heni Sri Purwanti, S.Pd.SD.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pandemi covid -19 di Indonesia mempengaruhi berbagai bidang kehidupan masyarakat, tak terkecuali bidang pendidikan. Untuk memutus rantai penyebaran virus itu di bidang pendidikan, maka dilaksanakan pembelajaran jarak jauh (PJJ). Perubahan pembelajaran mendadak dari tatap muka menjadi jarak jauh itu bisa memunculkan problematika. Problematika adalah sesuatu yang masih menimbulkan pendebatan, masih menimbulkan sesuatu masalah yang harus dipecahkan (KBBI, 2007). Adapun problematika pembelajaran guru kelas 1 SD adalah kendala atau persoalan dalam proses belajar mengajar yang harus dipecahkan agar tercapai tujuan pembelajaran.

PJJ dibedakan menjadi dua, yaitu dalam jaringan (daring) dan luar jaringan (luring). PJJ secara daring online menggunakan gawai (gadget) ataupun laptop melalui beberapa portal dan aplikasi pembelajaran daring. PJJ luring online menggunakan televisi, radio, modul belajar mandiri, lembar kerja siswa, bahan ajar cetak, alat peraga dan media belajar dari benda di lingkungan sekitar.
Dalam pelaksanaan PJJ satuan pendidikan dapat memilih daring atau luring atau kombinasi keduanya sesuai dengan ketersediaan dan kesiapan sarana dan prasarana. PJJ di tengah pandemi Covid – 19 masih memunculkan sejumlah problematika bagi guru kelas SD.

Baca juga:   Pembelajaran Kreatif dan Inovatif di Tengah Pandemi

Sebagai pengalaman penulis sebagai guru kelas 1 SD Negeri 05 Cikadu, Watukumpul, Pemalang, dalam mengajar IPA dalam KD “mengenal benda – benda langit dalam pembelajaran jarak jauh (PJJ) ditengan pandemi Covid-19 ,masih memunculkan sejumlah problematika, baik terjadi dari guru (pendidik), peserta didik (siswa), maupun orang tua siswa.

Dari sisi guru (pendidik), dalam hal ini penulis sendiri yang kebetulan mengajar guru kelas 1 SD Negeri 05 Cikadu, Watukumpul, Pemalang, merasa kesulitan mengelola pembelajaran, terutama mapel IPA , kedua waktu pembelajaran kurang karena tidak memungkinkan sepanjang hari untuk belajar. Ketiga, masih terbebani ketuntasan kurikulum yang harus dicapai peserta didik. Keempat, kesulitan berkomunikasi dengan peserta didik dan orang tua, karena tidak semua peserta /orang tua mempunyai gadget. Kelima, masih ada beberapa peserta didik yang tidak mengumpulkan tugas sama sekali.

Problematika yang dialami peserta didik siswa kelas 1 SD Negeri 05 Cikadu, Watukumpul, Pemalang adalah: PJJ belum ramah anak .Tugas-tugas yang diberikan terlalu berat tanpa adanya pertimbangan guru. Tidak semua peserta didik mempunyai gadget akses internet di wilayah pedesaan. Peserta didik lebih mempercayai google dibandingkan mencari pada buku belajar, sehingga terjadi kerumunan kemampuan siswa. Peningkatan stres peserta didik akibat lock down berkepanjangan.

Baca juga:   Penerapan Teknologi Pembelajaran SBK pada Era New Normal

Orang tua mengalami problematika PJJ yang beragam. Pertama, orang tua siswa terbebani kuota internet untuk PJJ di tengah perekonomian yang semakin sulit. Kedua, bagi orang tua yang sama sama bekerja di luar rumah, maka tidak memungkinkan mendampingi anaknya dalam PJJ. Ketiga, tidak semua orang tua mampu membimbing dan memotivasi anaknya untuk belajar, karena tiba- tiba berperan sebagai pendidik di rumah. Keempat, banyak keluhan orang tua terutama ibu rumah tangga yang aktivitas ibu rumah tangganya terganggu. Sebab, harus mendampingi anak belajar.
Oleh karena itu, perlu adanya kolaborasi antara pendidik, peserta didik, dan orang tua untuk mengatasi problematika di SD Negeri 05 Cikadu, Watukumpul, Pemalang dalam PJJ. Semoga pandemi Covid-19 segera berakhir, dan pembelajaran bisa kembali normal, kembali ke pembelajaran tatap muka dengan tetap berpedoman pada protokol kesehatan pada era new normal. (pg1/aro).

Guru Kelas SD Negeri 05 Cikadu, Watukumpul, Kabupaten Pemalang.

Author

Populer

Lainnya