Discovery Learning Berorientasi HOTS pada Mata Pelajaran IPA

Oleh: Teguh Nurantini, S.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Keberhasilan suatu pembelajaran ditentukan oleh berbagai faktor di antaranya kurikulum, metode mengajar, bimbingan dan evaluasi yang baik. Belajar bermakna merupakan proses belajar d imana informasi dan pengetahuan baru dihubungkan dengan struktur yang sudah dipunyai seseorang yang sedang belajar. Dalam proses pembelajaran sering kali timbul permasalahan bahwa siswa kurang memiliki daya tangkap baik terhadap materi yang diajarkan.

Salah satu pelajaran yang perlu menggunakan bantuan media pembelajaran adalah Ilmu Pengetahuan Alam. IPA berkaitan dengan cara mencari tahu tentang alam secara sistematis, sehingga IPA bukan hanya penguasaan yang berupa fakta-fakta, konsep-konsep atau prinsip-prisip saja tetapi juga merupakan suatu proses penemuan.

Pembelajaran IPA di SMP Negeri 4 Satu Atap Bawang selama satu semester dalam kondisi pandemi ini dijumpai permasalahan yang menghambat proses pembelajaran yaitu rendahnya minat belajar siswa hal ini tampak saat pembelajaran berlangsung. Siswa terkesan tidak tertarik dan cenderung melakukan aktivitas lain yang lebih menarik perhatian.

Pembelajaran IPA dengan tuntutan Kurikulum 2013 merupakan pendekatan pembelajaran yang mengintegrasikan beberapa muatan pelajaran dalam satu pembelajaran yaitu biologi dan fisika. Dalam praktik pembelajaran Kurikulum 2013 yang dilakukan selama ini, hanya menggunakan buku siswa dan buku guru. Dan diyakini bahwa buku tersebut sudah sesuai dan baik digunakan di kelas karena diterbitkan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Baca juga:   Penguatan Pendidikan Karakter Disiplin Siswa melalui PJJ di Masa Pandemi

Ternyata, dalam praktiknya, mengalami beberapa kesulitan seperti materi dan tugas tidak sesuai dengan latar belakang siswa, hampir tidak pernah melaksanakan pembelajaran yang berorientasi pada keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills/ HOTS). Dalam pembelajaran daring seperti sekarang ini juga jarang menggunakan media pembelajaran. Dampaknya, suasana pembelajaran di grup daring (telegram) sepi dan anak-anak tampak tidak aktif.

Banyak siswa malas mengikuti pembelajaran yang banyak dilakukan guru dengan cara ceramah. Selain ceramah, metode yang selalu dilakukan guru adalah penugasan. Sebagian siswa mengaku jenuh dengan tugas-tugas yang hanya bersifat teoritis. Tinggal menyalin dari buku teks.

Maka siswa harus dibekali keterampilan berpikir tingkat tinggi (higher order thinking skills). Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada HOTS dan disarankan dalam implementasi Kurikulum 2013 adalah model pembelajaran berbasis masalah
(discovery learning). Model pembelajaran ini mengedepankan strategi pembelajaran dengan menggunakan masalah dari dunia nyata sebagai konteks siswa untuk belajar tentang cara berpikir kritis dan keterampilan pemecahan masalah, serta untuk memperoleh pengetahuan dan konsep esensial dari materi yang dipelajarinya. Dalam discovery learning siswa dituntut untuk mampu memecahkan permasalahan nyata dalam kehidupan sehari-hari (kontekstual). Dengan kata lain, discovery learning membelajarkan siswa untuk berpikir secara kritis dan analitis, serta mencari dan menggunakan sumber pembelajaran yang sesuai untuk memecahkan masalah yang dihadapi.

Baca juga:   Pembelajaran Berbasis Proyek Solusi Pembelajaran di Masa Pandemi

Setelah melaksanakan pembelajaran daring secara discovery learning, ditemukan bahwa proses dan hasil belajar siswa meningkat atau lebih bagus dibandingkan pembelajaran sebelumnya. Ketika model discovery learning ini diterapkan pada kelas yang lain ternyata proses dan hasil belajar siswa sama baiknya. Hal ini dapat dilihat dari tingkat partisipasi siswa untuk bertanya mencari informasi dari berbagai sumber baik dengan wawancara dengan pakar di lingkungan sekitar tempat tinggal ataupun literasi melalui buku-buku dan sumber lain seperti internet sesuai dengan topik yang dibahas dalam pembelajaran. (lbs1/ton)

Guru SMP Negeri 4 Satu Atap Bawang.

Author

Populer

Lainnya