Penerapan Asesmen Portopolio dapat Mengukur Kemampuan Psikologi Siswa

Oleh : Sri Rejeki, S.Pd.SD

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pengukuran terhadap ranah kompetensi siswa dalam proses pembelajaran memerlukan strategi tersendiri yang berbeda dengan strategi penilaian hasil belajar melalui tes prestasi yang telah diterapkan. Kawasan ukur ranah kompetensi adalah abilitas aktual yang berbeda dengan ranah abilitas yang bersifat potensial seperti kemampuan akademik dan inteligensi.

Rata-rata peserta didik kelas 5 SDN 02 Sambiroto pada semua mata pelajaran terutama IPA, IPS kurang mampu menjawab dengan tepat terhadap soal yang diberikan pada kegiatan evaluasi pembelajaran. Akibatnya nilai yang dicapai siswa juga kurang memuaskan. Karena tanpa adanya minat belajar yang tinggi siswa, sebaik apapun fasilitas yang ada di sekolah, maka siswa tetap akan malas untuk belajar.

Untuk itu penulis perlu menciptakan model pembelajaran yang mampu menjembatani jurang pemisah antara teori dengan praktek agar mampu memecahkan salah satu permasalahan yang dihadapi pendidikan di sekolah tersebut. Model pembelajaran adalah merupakan salah satu komponen pengajaran yang sangat diperlukan dalam proses belajar mengajar (Susetiyono dan Hinduan, 2010 : 2).

Metode pengukuran yang sering dipakai dalam mengidentifikasi kompotensi adalah metode asesmen otentik. Metode asesmen otentik menghadirkan situasi kehidupan berikut permasalahan-permasalahannya yang empirik dan kompleks ke dalam pengalaman siswa. Asesmen otentik yaitu suatu asesmen yang melibatkan siswa di dalam tugas-tugas otentik yang bermanfaat, penting, dan bermakna (Hart, 1994). Asesmen otentik menghendaki siswa untuk membangun sesuatu secara mandiri daripada memilih respon terhadap stimulus akademik. Asesment otentik lebih mengarah pada pengukuran kompetensi (skills) dibanding dengan kepribadian (trait). Secara garis besar portofolio diartikan sebagai kompilasi bukti. Kompilasi bukti fisik mengenai aktivitas seseorang. Bukti yang merupakan hasil karya dan sangat berarti dalam menggambarkan kompetensi.

Baca juga:   Benda Cagar Budaya, Media Pembelajaran Lokal

Aplilasi asesmen portofolio tersebut dapat diwujudkan dalam kegiatan sebagai berikut : Pertama, tahap perancangan portofolio. Tujuan yang ditetapkan adalah identifikasi kemampuan siswa dalam melakukan asesmen psikologi yang memiliki fungsi sebagai monitoring kemajuan hasil belajar siswa dan bahan untuk memberikan penilaian hasil belajar. Kedua, tahap penyusunan portofolio. Guru perlu mendesain kegiatan siswa yang memungkinkan dapat menghasilkan karya atau bukti otentik yang menunjukkan proses dan hasil kerja siswa dalam melakukan asesmen psikologi. Desain tersebut dapat berupa projek atau penugasan oleh dosen kepada mahasiswa yang menghasilkan laporan kerja. Ketiga, evaluasi portofolio. Pada tahap ini guru menentukan kriteria yang dipakai sebagai dasar penilaian dari portofolio siswa. Tidak seperti tes psikologi yang terstandarisasi berdasarkan sampel, kriteria penilaian portofolio ditetapkan sendiri oleh yang bersangkutan. Bukti yang dikompilasi dalam portofolio dapat berupa: dokumen hasil kegiatan penalaran siswa, misalnya laporan praktikum, kliping artikel, hasil ulangan, dokumen yang menunjukkan kinerja mahasiswa misalnya rekaman video presentasi atau diskusi, serta produk otentik karya mahasiswa yang mendukung.

Baca juga:   Asyiknya Belajar Sifat Konduktor dan Isolator dengan Media Alat Rumah Tangga

Penerapan assessment portopolio di SDN 02 Sambiroto berhasil. Karena dapat dikatakan bahwa pembelajaran portofolio di samping memperoleh pengalaman fisik terhadap objek dalam pembelajaran, siswa juga memperoleh pengalaman atau terlibat secara mental. Pengalaman fisik berarti melibatkan siswa atau mempertemukan siswa dengan objek pembelajaran. Pengalaman mental dalam arti memperhatikan informasi awal yang telah ada pada diri siswa dan memberikan kebebasan kepada siswa untuk menyusun (merekonstruksi) sendiri informasi yang diperolehnya. (ce4/ton)

Guru Kelas V SDN 02 Sambiroto Kec. Kajen Kab. Pekalongan.

Author

Populer

Lainnya