Dunia Pendidikan dan Koperasi, Sarana Keluar dari Jeratan Pinjol

Oleh : Aris Tiyas Handayani, S.Pd

spot_img

RADARSEMARANG.ID Hari-hari ini ramai diperbincangkan guru sebuah sekolah terjerat pinjaman online. Mudah memang tawaran pinjaman model ini, hanya bermodal foto KTP, nomer HP, dan juga rekening. Uang pasti dan jaminan masuk, tanpa survei macam-macam. Satu sisi ada kemudahan dan kebutuhan tercukupi dengan segera. Mungkin karena terdesak kebutuhan, ada tawaran masif, biasanya melalui SMS, atau media sosial, orang yang memang perlu akan segera saja mengiyakan.

Dunia itu pasti ada dualisme. Kemudahan dalam peminjaman itu dibarengi dengan cekikan anak beranak. Sudah berkali ulang kisah ini menjadi pembicaraan. Pengalaman guru itu bukan barang baru. Mau apa dengan pengalaman yang berulang?

Menemukan dan menciptakan jalan keluar. Apa itu? Soko guru bangsa yang sudah digagas Bung Hatta, koperasi. Masalah koperasi selama ini dikelola dengan amatiran, dan sikap abai akan tanggung jawab. Berita jeratan pinjaman online dan kaburnya pengelola koperasi setali tiga uang.
Masalah klasik yang sebenarnya bisa mendapatkan jalan keluar dengan relatif sederhana. Komunitas-komunitas yang ada, seperti sekolah, buatlah koperasi. Sekiranya sekolah itu terlalu kecil, bergabung, toh ada juga namanya KKG. Mulai dengan sangat serius, profesional, dan pembagian tugas yang jelas dengan tupoksi dan SOP yang benar-benar terencana.

Baca juga:   Partisipasi Belajar Meningkat dengan Blended Learning

Kesejahteraan guru memang masih menjadi kendala. Berapa banyak guru ASN, apalagi bersertifikasi, bandingkan yang masih WB atau honor. Mereka-mereka inilah yang sangat rentan untuk jatuh pada jerat pinjaman yang kadang di luar nalar.

Bangun kekuatan sendiri dengan berkumpul, berserikat, dan mengelola keuangan bersama. Hati-hati, mengumpulkan uang itu sangat mudah menggoda untuk berbuat jahat. Ada tim yang mengolah, ada yang mengawasi.

Bagian-bagian ini yang harus benar-benar serius merencanakan, mengerjakan, dan menjalankannya. Tidak perlu segan dan tidak enak, ingat budaya ketimuran yang kadang jadi sumber bencana. Ketika berbicara dan mengelola uang, jalankan dengan rigid, kaku, dan lupakan kawan sendiri.
Mengapa? Uang tidak ada kawan yang ada ya hadapi dengan profesional, prosedural yang ketat, dan tidak perlu menggunakan perasaan. Pengelolaan uang demi kesejahteraan bersama perlu menjadi raja tega.

Sama juga ketika anak kecil, perlu diajari berlatih berjalan bukan? Jatuh atau terjerembab itu hal yang normal, itu semua proses untuk bisa berjalan dan bahkan berlari.
Hal yang sama dengan mengupayakan kesejahteraan bersama, perlu proses dan itu kadang juga perlu ketegasan dan tega. Berani menagih, berani menolak, dan tega untuk mengejar jika memang sudah waktunya membayar.

Baca juga:   Role Playing dengan Media Video Menumbuhkan Karakter Semangat Kebangsaan

Kedisplinan di dalam menabung dan membayar angsuran sebenarnya sudah masuk dalam karakter pendidik. Hal yang sudah sejalan, sehingga tidak susah untuk membangun koperasi yang benar-benar profesional.

Kehendak baik demi kesejahteraan bersama sebagai acuan di dalam kerja dan perencanaan. Merencanakan berhutang ataupun menyimpan tentu saja. Sejahtera bersama itu mungkin. (bs1/lis)

Guru Pendidikan Agama Katolik dan Budi Pekerti SMP Negeri 4 Salatiga.

Author

Populer

Lainnya