Belajar Seni Batik Sebagai Pendidikan Karakter

Oleh: Robin Esa Yulianto, S.Pd., M.Pd.

spot_img

RADARSEMARANG.ID, Pendidikan karakter dapat dimaknai sebagai pendidikan yang mencakup pendidikan nilai, budi pekerti, moral dan watak yang bertujuan untuk mengembangkan kemampuan peserta didik dalam memberi keputusan baik-buruk, memelihara yang baik dan mewujudkan kebaikan itu dalam kehidupan sehari-hari dengan sepenuh hati (Munir, 2010). Pendidikan seni bertujuan membentuk siswa menjadi pribadi yang baik dalam upaya memelihara keseimbangan kehidupan, antara penalaran intelektual-rasional dengan kepekaan estetik-emosional melalui pembelajaran apresiasi dan kreasi guna mengasah kepekaan rasa, kreativitas, dan cita rasa estetis siswa dalam berkesenian, mengembangkan etika, kesadaran sosial, kesadaran kultural siswa dalam kehidupan bermasyarakat.

Batik merupakan suatu karya seni rupa yang pada umumnya pembuatannya menggunakan bahan dari kain, namun pada era sekarang menggunakan media lain misalnya dengan media kayu. Batik dibuat dengan canting serta cap yang digunakan untuk menorehkan malam atau lilin sebagai perintang warna di atas kain. Proses pewarnaan menggunakan cara mencelupkan ke dalam cairan warna dan diakhiri dengan proses pelorodan serta terdapat motif hias di dalamnya.

Pembelajaran seni batik juga dilaksanakan di MTs Negeri 1 Pemalang yang diajarkan pada siswa kelas VII dalam materi penerapan ragam hias pada tekstil. Pendidikan seni batik merupakan salah satu pendidikan berbasis budaya yang diterapkan pada jenjang sekolah umum. Pendidikan seni batik juga merupakan salah satu media yang dapat digunakan sebagai pendidikan karakter yang sangat dibutuhkan siswa di era sekarang ini.

Baca juga:   Tadabbur Alam Meningkatkan Kemampuan Berpikir Kritis

Pertama, karakter sabar dan tekun dalam pendidikan seni batik ini mengacu pada proses dalam membatik yang memerlukan waktu yang cukup lama namun tetap menyenangkan karena siswa akan bergelut dengan tahapan dari mencanting hingga mewarnai. Penerapan pendidikan karakter sabar dan tekun, karena siswa akan sabar dan tekun mengikuti prosedur membatik yang nantinya secara tidak langsung mereka akan dilatih kesabaran dan ketekunanya melalui praktik membatik.

Kedua, pendidikan karakter percaya diri dalam konteks pendidikan seni batik adalah setiap siswa dalam pembelajaran membatik akan mengasilkan karya batik yang kreatif buatan mereka sendiri. Siswa diajarkan untuk percaya diri bahwa setiap individu mampu menghasilkan karya seni batik hasil kreasi mereka, dengan demikian akan dilatih sikap percaya diri. Manusia kreatif memiliki kepercayaan diri, tanggap terhadap keadaan sekelilingnya, menonjol rasa ingin taunya, senang melontarkan gagasan baru, bersikap luwes, berani untu tampil beda, dan siap menerima risiko. Dalam hal ini siswa distimulus untuk mengembangkan sikap percaya dirinya untuk menjadi manusia kreatif sebagai bekal dalam kehidupannya.

Baca juga:   Menelaah Teks Persuasi melalui Peer Teaching dengan Media Pakar Berbintang

Ketiga, pendidikan karakter sadar budaya dalam konteks pendidikan seni mengacu pada seni batik merupakan seni kriya hasil dari kebudayaan. Melalui pendidikan seni batik secara tidak langsung siswa akan mengenal batik sebagai hasil dari suatu budaya. Sehingga akan menanamkan karakter sadar budaya kepada mereka. Manusia sadar budaya adalah manusia yang menyadari bahwa dirinya sebagai bagian dari masyarakat tempat ia hidup. Dengan kesadaran itu, ia memiliki sikap positif terhadap budaya masyarakatnya berupa rasa cinta, bangga, dan keinginan untuk melestarikan budaya tersebut.

Pembelajaran seni batik jika dilaksanakan dengan metode yang tepat dan menyenangkan akan menumbuhkan karakter siswa yang berguna diantaranya sabar, tekun, kreatif, dan sadar budaya. (ce3/ton)

Guru Seni Budaya MTs Negeri 1 Pemalang.

Author

Populer

Lainnya